Tiga anak manusia.
Muhammad Lagam Alfaruqi, Ahmad Rakha Fadil, Muhammad Lutfi.
Dengan tas punggung.
Bermodal uang sekiranya dan kelihaian dalam bicara.
Sedikit tampan.
Mencoba untuk meraih pengalaman baru.
Ingin ke pantai, katanya.
Hingga hidup membawa mereka sampai.
Hari ini mereka pulang.
Membawa oleh-oleh berupa cerita, pengalaman, kesadaran, ketagihan, dan tentu kesungguhan dalam mencapai ridha-Nya.
Kita berangkat ga asal tiba-tiba nyampe.
Kita punya rencana, kita punya narasumber, kita punya data, walau tanpa buku panduan wisata. Karena yang paling penting, kita punya kemauan.
Kemauan ini diawali dengan duduk santai sepulang hiking dari Maribaya.
"Boi, lila-lila asa bosen mun uling ngan camping-hiking camping-hiking wae. Urang hayang ka pantai."
Cuma dari sebaris kalimat itulah yang akhirnya bikin kita memantapkan tujuan. Langsung cari personil buat liburan ke pantai. Nentuin tanggal. Survey kendaraan. Browsing lokasi. Dan bertanya-tanya.
Akhirnya kita dapet personil sekitar 10 orang. Cukuplah buat bikin liburan ga ngebosenin.
Sampe H-1, personil mulai berkurang jadi 6 orang. Tapi masih tetep ga jadi masalah. Karena yang kita cari disini pengalaman dan kebersamaan. Jumlah ga jadi penghalang buat itu. Kita tetep mantepin besok bakal jadi hari milik kita.
Waktu hari yang udah ditentuin, direncanain, dan ditunggu-tunggu itu tiba, ternyata personil kita berkurang lagi. Nyisain 3 orang yang masih punya keinginan buat tetep ngejalanin rencana dan berpengang pada prinsip,
"Jumlah ga jadi penghalang".
Akhirnya berangkatlah kita: Lagam, Rakha, dan Lutfi. Bermodal duit secukupnya, izin hasil jerih payah nge-lobi ke ortu, backpack, dan kemauan kuat.
Sampailah kita disana.
Pantai menyuguhkan fantasi tersendiri. Indah, hangat, bebas, lepas, dan tak ada alasan untuk tak meregangkan tangan selebar-lebarnya, melompat setinggi-tinggi, teriak sekencang-kencangnya.
Lepaskan semuanya, kawan!
Pantai Santolo, Pameungpeuk, Jawa Barat.