Jalanan basah yang memantulkan pendar cahaya warna-warni mengalasi kakinya yang berbalut celana kargo dengan ujung dilipat dua gulungan. Ia memilih berdiri. Pilihan yang seketika membuatnya menjadi perhatian para pengunjung lain yang duduk berjejer di sampingnya. Dalam perhatian itu, ia tetap khusyuk dengan tungku apinya. Membuatnya menjadi pusat di semesta kedai kaki lima.
"Silahkan, mbak."
Sebuah kantung kresek. Wajah merona itu kini kian sempurna dihiasi segaris tipis senyuman. Arina menyambutnya dan menukar kantung kresek itu dengan sejumlah uang.
Ada sedikit enggan yang tersangkut di hati para pengunjung kedai ketika Arina pergi dari tempat itu untuk kembali menyibak tirai hujan dan berlari ke arah mobil yang sedari tadi menunggu di seberang jalan.
Dari kursi belakang mobil, Rendra memerhatikan kekasihnya menyebrang jalan dan berlari menghampiri. Segera ia membukakan pintu.
"Aku bilang juga pake payung, kan?"
"Gak pa-pa, kamu kan tahu aku suka hujan."
Arina menutup pintu dan memosisikan dirinya di samping Rendra. Ia mengalihkan kantung kresek di tangannya ke tangan Rendra.
"Kue balok lagi?" ucap Rendra sambil menengok isi kantung kresek. Arina mengangguk. Melepas jaket. Kemudian mencomot kue baloknya.
"Udah nemu pasangan suami istri hari ini?" tanya Rendra sambil ikut mencomot sebuah kue balok.
"Yang bertingkah kaya suami istri sih, banyak," Arina menjatuhkan punggungnya ke kursi. "Kalo suami istri beneran baru nemu barusan di kedai kue balok. Itu juga udah tua."
"Entah kita yang pikirannya kolot, atau memang mereka yang udah terlalu maju." ujar Rendra dengan senyum satir.
"Aku makin yakin bahwa orang-orang di abad 30 ini udah punya kebenaran baru. Mengatasnamakan kebebasan, memilih gak terikat dengan apa pun. Termasuk pernikahan."
"People's change. Begitu juga kebenaran di dalamnya." senyum Rendra mengembang, ia memberikan Arina air mineral. Arina menyambutnya sambil mendengus, "Kamu selalu bilang begitu."
Tegukan Arina membiarkan hening masuk ke sela-sela di antara mereka. Hening itu bertahan cukup lama. Merambati kepala Arina yang berangsur jatuh ke pundak Rendra. Pundak yang setia menampung semua pemikirannya. Pun resah dan keluh kesah. Dalam peradaban saat ini mungkin hanya Rendra yang sepemikiran dengannya. Dan mungkin saat ini hanya mereka berdua sepasang kekasih yang dilandasi sebuah pertanyaan sederhana 'maukah kau menjadi kekasihku?'
Hening itu kemudian merambati jemari Rendra yang berangsur naik mengelus kepala Arina. Wanita yang selalu mempertanyakan arti kebebasan yang kini diamini orang-orang.
"Menurutmu kebebasan itu ada gak, sih?" Arina memutus hening tiba-tiba.
Rendra terkekeh. Seolah Arina telah membaca pikirannya. "Kamu pengen kue balok ini kedinginan dan gak dimakan gara-gara obrolan kita yang bakalan panjang dan serius?"
Arina bangkit dari pundak Rendra. Menyibak rambutnya ke belakang. Kemudian memposisikan dirinya menghadap Rendra. "Rendra, aku mau ngomong serius."
Kerutan di dahinya meyakinkan Rendra bahwa kekasihnya memang sedang ingin serius. Perlahan senyum Rendra memudar. Rendra membetulkan posisi duduknya dan menghadap Arina. Tak pernah sebelumnya Arina seperti itu. Malam ini ia baru betul-betul memahami arti kata serius dari wanita di hadapannya.
Dalam mobil yang masih dipeluk gerimis, Arina menggenggam tangan Rendra. Rendra menggenggam balik tangan itu.
Hening kembali merayapi seisi mobil. Kali ini semua bagian tubuh mereka genap digerayangi keheningan.
Arina menarik napas dalam. Rendra memandang kekasihnya lekat. Dalam keheningan itu, diselingi rintik hujan di atap mobil, dibasuh sayup-sayup warna oranye yang membelai lembut wajah keduanya, dan dalam genggaman yang semakin erat, Arina berkata, "Maukah kau menjadi suamiku?"
Kue balok itu resmi kedinginan.
__________
Bandung, 03.18
Untuk kebenaran yang terus berkembang
Terima kasih Yoha, untuk finishing touch-nya dalam cerita ini
