Monday, 10 September 2012

Sebongkah Hati


Apa artinya hati tanpa dilengkapi?
Tanpa pelengkap, hati hanya akan mati, hilang terbawa ombak yang bebas.

Munafik

Aku ingin bisa bermain kata tanpa bicara.
Biarlah meski hanya tertawa tanpa harus bahagia.
Hingga bisa tampil dalam satu, dua, dan tiga kampiun.
Buat orang menggaduh hingga mengampun.

Karena aku orangnya munafik. Semunafik aku orangnya.
Tak bisa menampik, silahkan kau culik, hingga hilang luka dan bisa.
Walau tak biasa tapi ini aku adanya.
Semunafik yang berdosa mengampun dosa.
Mencerca, tertawa dan bahagia.
Namun justru menangis saat teriris, dengan tetap sebahagia tawanya.

Semunafik lebah yang ingin tampil berani. Padahal dia mengerti mati.
Namun tak mudah menjadi aku. Berani mencari sampai harus menemui.
Meski yang dicari ternyata merpati: bagai jinak, hendak ditangkap pergi lagi.
Meski yang dicari ternyata tak terdaftar: tak diundang namun datang.
Meski memang itu adanya.

Semunafik aku orangnya.
Serasa peduli padahal mengingkari.
Aku bilang pasti namun masih ada tapi.
Maka jangan coba pandang aku sekali. Seribu kali bila memang ingin tau setengah mati.
Jangan pernah sekali.
Sebab kubilang seribu, padahal masih ada satu.
Apa yang kubilang, menjadi yang kau pandang.

Satu benang bila kau padukan, kan bersatu menjadi satu, menyatu berseru dan kaku. Sesuai prediksimu.
Tidak seperti aku,
Aku rasakan, aku satukan, aku serukan; tunggu, aku putarkan dahulu. Lalu kau dengarkan, kau masukan, kau berkesimpulan, dan kau mati dalam kebingungan. Diantara rasa ingin dan tak mau tau. Diantara rasa percaya dan mencoba percaya.
Aku tau,
Seliar ini pikiranku.
Serusak ini hatiku.

Namun seindah ini beraniku.
Entah apa aku sekarang. Entah apa aku nanti.
Kuharap kemunafikan ini akan membuat satu kekuatan.
Semunafiknya aku, aku masih tau aku siapa. Tak seperti manusia-manusia disana yang seolah tak pernah mengerti buruknya apa. Hanya menikmati hebatnya, bermandi percaya diri tanpa pernah mengerti. Keburukan yang tak disadari hanya membuatnya mati tanpa arti.
Mereka tak pernah ingat, mereka tak berani.

Dan semunafiknya aku,
tak akan pernah berani mengingkari rasa.


Saturday, 8 September 2012

Natalie

Selamat Malam.

Hari ini melelahkan yang menyenangkan, membahagiakan, menyadarkan, mengingatkan, dan menyempurnakan. Tapi tetep dalam kata melelahkan.

Begitu pulang dari Pelatihan Kepemimpinan di Secapa selama 6 hari, langsung harus berangkat lagi ke studio. Padahal otak dan hati ini sudah harus segera mencari telinga untuk bercerita dan berbagi pengalaman.
Tapi gue harus berangkat. Begitu liat motor mio ga ada di garasi, langsung mendadak bodo.
Tapi untung ada sesuatu yang bikin gue ngerasa beruntung jadi bodo.
Namanya Natalie.

Natalie itu tipe yang gampang disayang. Ga gampang dilepas, walau seribu rintang berada diantara kita. Ga gampang juga diurusnya.
Karena dia juga gampang ngambek, gampang pundung, ga pernah mau diajak jalan kalo belum panas.
Dia emang bener-bener tipe yang gampang disayang. Dan sekali jatuh cinta, ga akan ada orang yang berani ngelepasnya.

Ibarat mawar.
Indah tetapi tidak mudah.
Natalie punya keistimewaan tersendiri.

Malam ini, Natalie-lah yang bertugas mengantar gue kesana-kemari karena mio entah sedang berada dimana. Kita berkeliling dan jauh bercerita tentang malam ini. Malam Minggu.
Berkelabat bersama Natalie di meriahnya jalanan. Temaram lampu menjadi bingkai dalam berbagi cerita. Gue emang selalu cerita ke dia. Walau tanpa kata, tapi kebersamaan kita sudah cukup untuk saling bercerita. Diam yang kita ciptakan itu agung, kokoh, bagai gunung menjulang yang dilihat dari kejauhan.
Keindahanmu membawa senyuman yang telah lama padam.
Walaupun kau bukanlah milikku, Oh Natalie....



Natalie, motor produksi tahun '80, milik kaka ipar.