Lelaki itu terkesiap. Sangat tidak menduga dengan apa yang telah
ia lihat dan apa yang telah ia dengar dari Pak Uyo. Di dalam kepalanya sekali
pun belum pernah tercetus pemikiran itu. 3 menit yang lalu dia baru saja
berjalan sambil bersiulan menghampiri sebuah bimbingan belajar yang dulu pernah
menemaninya melewati masa-masa Ujian Nasional. Tempat yang senantiasa menjadi
satu-satunya tujuan sepulang sekolahnya dulu. Tempat itu menyimpan banyak
sekali kenangan.
Lelaki itu kini sudah duduk di bangku SMA, namun ia tetap
rajin mendatangi tempat itu. Karena kebetulan letaknya berdekat dengan SMP-nya
dulu. Bimbingan belajar itu memang kalah eksis dengan bimbingan belajar yang
lain. Tidak mempunyai cabang, dan peminatnya pun tidak begitu banyak. Berbeda
dengan dulu, bimbingan belajar ini merupakan salah satu bimbingan terhebat.
Bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan terkenal. Juga merupakan bimbingan
belajar dengan tarif yang sangat mahal. Namun pada saat kepemilikan bimbingan
belajar ini berpindah, kehebatan-kehebatan itu meluruh. Namun lelaki itu tetap
menganggapnya yang terhebat.
Pada masa-masa SMP dulu, sering kali terjadi perdebatan yang
seru. Perdebatan mengenai bimbingan belajar mana yang lebih hebat. Lelaki itu
seringkali masuk dalam setiap perdebatan. Di kelasnya, hanya lelaki itu yang
bimbingan belajarnya berbeda dengan yang lain. Sehingga ia kerap kali menjadi
sasaran perdebatan. Walau tak berkawan, ia tetap tak mau kalah. Membela bimbingan
belajarnya semampu yang bisa ia lakukan.
Ada beberapa hal yang membuatnya tergerak untuk memilih
bimbingan belajar itu. Yang pertama, pemilik bimbingan belajar itu, Oom Roy,
merupakan sobat karib almarhum ayahnya. Poin pertama tadi mendorong munculnya
poin kedua, yaitu subsidi yang akan diberikan oleh Oom Roy. Pada awalnya lelaki
itu bersikeras tidak ingin belajar disana. Namun ternyata kenyataan telah
menggiringnya jauh. Dan kemudian waktu yang membuatnya nyaman berada disana.
Bahkan hingga ia mencintai tempat itu.
Bimbingan belajar itu menawarkan keakraban antar sesama.
Karena para pembimbingnya masih berada pada usia muda. Namun kerap kali
keakraban tersebut malah membuat para siswa melunjak. Terutama siswa SMP yang
paling susah diatur. Pernah pada suatu hari, ketika siswa SMA sedang serius
belajar untuk ujian, para siswa SMP menonton DVD bersama-sama di ruang tengah.
Kegiatan tersebut tentu mengundang banyak ocehan dan teriakan. Sampai mereka
dimarahi oleh salah satu anak SMA disana. Lelaki itu pun tertawa lepas bersama
teman-temannya.
Para siswa datang tidak hanya pada jadwal yang telah
ditentukan. Tiap kali mereka punya waktu, mereka akan datang. Tempat itu sudah
menjadi salah satu tempat favorit yang biasa mereka datangi.
Waktu berlalu dengan cepat bak anak panah melesat bebas.
-----
“Saya juga gak tahu
darimana mulanya. Orang-orang yang gak
tau-menau sih biasa-biasa saja. Tapi
bisa jadi orang-orang yang tau tentang masalah ini sudah sibuk sejak lama.”
Ujar Pak Uyo, satpam Bimbel yang sejak tadi berbincang dengan lelaki itu.
Pak Uyo kini bekerja sebagai tukang parkir di jalanan depan
tempat bimbingan belajar. Kebetulan ketika berjalan melewati tempat itu, ia
bertemu dengannya. Seperti yang biasa lelaki itu lakukan setiap kali melihat
salah satu pegawai bimbingan belajarnya dulu, ia pasti menjabat tangannya
seraya menanyakan kabar. Namun, prosesi jabat tangan tadi berlangsung beda dari
biasanya. Pak Uyo yang dulu terlihat segar dan berwajah jenaka kini terlihat
kurus dengan muka semrawut seperti sedang banyak pikiran.
Belum sempat lelaki itu menanyakan kabar, Pak Uyo langsung
berkata, “Wah, ada apa nih main kesini? Mau daftar bimbingan belajar lagi?”
“Ah enggak, Pak.
Cuma mau silaturahmi saja sama orang-orang Bimbel. Gimana kabar Bimbelnya,
Pak?”
Dengan ekspresi yang belum pernah lelaki itu lihat, Pak Uyo
berkata, “Yah, lihat saja sendiri kedalam. Yuk, saya antar.”
Mereka pun berjalan masuk ke tempat bimbingan belajar. Sudah
tak sabar rasanya lelaki itu ingin melihat wajah para guru yang dulu telah
membimbingnya. Namun begitu masuk, pamandangan asing memenuhi matanya. Ia tidak
menemukan sapaan hangat dari Bu Nur, pegawai administrasi di ruang depan. Para
pegawai lainnya pun tidak ia temukan. Ruangan tengah yang dulu berisi meja-meja
bundar tempat dimana para siswa berkonsultasi kini kosong bagai tanpa penghuni.
Meja, kursi, tv, papan tulis, hingga akuarium yang dulu sempat ia isi ikan pun
telah tiada. Bimbingan belajar yang selalu ia dambakan itu, kini kosong.
“Bimbingan belajar ini sudah bangkrut.” Tanpa aba-aba Pak Uyo
menjawab pertanyaan yang telah menyatu dan berputar-putar dalam kepala lelaki
itu. Bak seorang koboi yang kehilangan kudanya lelaki itu tak dapat berkata-kata.
Jarum jam seakan terhenti dan ingin sekali rasanya ia memutar kembali waktu ke
masa-masa dimana ia tertawa bersama teman-teman bimbingan belajarnya. Namun
kenangan itu telah berlari. Secara diam-diam, bagai terencana tanpa ia ketahui.
Menjauh.
Ingin rasanya lelaki itu berteriak meminta semua kenangan itu
kembali. Namun jalanannya telah tiada. Kosong, bahkan tanpa ruang.
Kata-kata Pak Uyo tadi dengan cepat membawanya ke masa-masa
belajar di tempat itu. Ia teringat akan tawa yang datang disela-sela
pembelajaran, dedaunan yang jatuh saat jam istirahat, anak penjaga kantin yang
selalu ia ajak bermain, teman-temannya yang sekarang entah ada dimana, guru
pengajar yang sering menjadi teman mengobrol yang asik, kebanggaan saat
mendapat nilai Try Out paling tinggi, hadiah yang diberikan, dan ia ingat Oom Roy.
Seseorang yang telah membawanya ke semua cerita tersebut. Yang menjadi pintu
untuk salah satu sisi kebahagiaan dalam hidupnya.
“Bagaimana dengan kabar Oom Roy sekarang, Pak?”
“Buron.” Perubahan warna di wajahnya terlihat jelas. Perasaan
tak bisa bicara itu kembali lagi. Lelaki itu tak ingin menyimpulkan apa-apa
walau hatinya memberontak untuk berkesimpulan. Oom Roy yang sudah ia anggap
sebagai saudaranya sendiri. Berhasil sudah kenangan itu menusuk-nusuk
nuraninya. Ia tak sanggup lagi untuk bertanya. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya
malah akan membawanya menuju kenangan yang lebih dalam.
Oom Roy, seseorang yang memiliki tatapan percaya diri itu
kini tidak diketahui dimana keberadaannya. Bahkan aparat yang berwenang kini
sedang mencarinya. Menurut Pak Uyo, memang sudah sejak lama para pegawai merasa
dikecewakan oleh Oom Roy. Honor pegawai sering ditunda-tunda. Para siswa pun
dikecewakan. Bimbingan belajar ini bangkrut ketika masa pembelajaran belum
selesai. Lebih parah lagi, sempat di pasang papan pengumuman yang menyatakan
bahwa bimbingan belajar ini pindah ke suatu tempat. Alamat lengkapnya pun
dituliskan dalam pengumuman tersebut.
“Saya sudah pernah survei ke alamat itu, tapi ternyata
alamatnya palsu. Tidak pernah ada bimbingan belajar di tempat itu.” Ujar Pak
Uyo menjelaskan.
Jelas sudah, kekecewaan pun kini mulai merambat di dalam diri
lelaki itu. Ia masih belum siap kehilangan tempat yang selama ini telah menjadi
tempat kesenangannya. Tawa dan keceriaan itu runtuh. Kepercayaan itu meluruh.
Namun dirinya tetap bersikukuh bahwa Oom Roy orang yang baik. Karena belum
pernah sekalipun ia merasakan kekecewaan seperti yang ia alami sekarang
terhadap Oom Roy sebelumnya. Orang itu selalu tersenyum, ramah tiap kali lelaki
itu menyapanya. Dan kini, sapaan yang telah ia siapkan dari rumah tak dapat ia
sampaikan.
Seseorang yang kita anggap sebagai figur yang sempurna, belum
tentu nyata dan sempurna secara utuh. Sehebat apapun manusia dalam berpikir tentu tak akan pernah
sampai kedalam perencanaan Tuhan. Keterbatasan itu membuat kita mengalir dalam
alur kehidupan. Yang tanpa diduga dapat berubah sesukanya. Hati kita hanya
dapat mengikuti dan terbawa. Apabila ia belok ke kiri, walau sekuat apa kita
memberontak, tetap tak akan bisa melawan kuasanya.
Lelaki itu pulang. Dengan membawa makna hidup baru untuk
kemudian ia simpan dan ia bagi. Kehidupan menyimpan jutaan makna. Bila kita
dapat ambil satu saja, kemudian kita genggam dan kita jadikan pedoman, itu akan
membawa kita ke pemahaman yang lebih sempurna. Lebih luas. Jauh dan penuh.
Kenangan kembali membawanya pergi ke suatu tempat. Di tempat
itu lelaki itu duduk sambil memangku sebuah gitar. Menunggu adzan maghrib
berkumandang. Ada seorang lelaki dengan tatapan percaya diri menghampirinya.
Sambil tersenyum ia berkata, “Boy, nyanyikan sebuah lagu, lah!”
Lelaki itu pun menyanyikan sebuah lagu untuk orang yang
sangat ia hormati. Ia memilih-milih lagu mana yang cocok untuknya. Mungkin lagu
jadul pas dengan selera orang dengan tatapan percaya diri itu, pikirnya. Mereka
pun bernyanyi bersama. Di temani gitar, senja, senyum, dan suara sumbang orang
dengan tatapan percaya diri itu.
Oh malunya hati ini, bila kuingat
saat itu
Kami hanya saling berpandang
Dan terdiam terpaku
Oh bulan hanya dirimu
Yang menyaksikan segalanya
Oh bulan tolonglah daku, katakan
padanya..
Kucinta dia