Monday, 7 January 2019

Selamat Datang Kembali

Foto untuk Sekala, Januari 2019


Saya baru saja selesai membaca ulang tulisan-tulisan saya di sini. Akhir-akhir ini saya merasa kurang produktif. Saya selalu terjebak dengan yang lalu-lalu. Oiya, setelah baca, saya sirik dan kaget. Ternyata saya sepercaya diri itu, ya..

Ternyata tua membuat kita semakin rumit dan tidak menyenangkan. Ayolah, saya dulu berani, loh, posting tulisan yang isinya puisi-puisi gak bermutu sampai kejadian-kejadian gak penting, seperti.... nyeritain isi sms dari kekasih? (Annnj..) HAHAHAHA

Ah, dunia nyata ternyata bikin stress, ya. Saya berhenti nulis karena merasa belum pantas untuk menulis. Kenapa perlu pantas, ya? Predikat dan nilai jadi semacam tanggung jawab yg justru malah menjebak.. semakin tahu justru semakin merasa kecil dan gak berani. Padahal, siapa yang masih baca, sih? (Yg masih baca komen, dong).

O iya, sekarang saya adalah mahasiswa tingkat akhir di jurusan Sastra Indonesia, Unpad. Baru selesai menjabat sebagai Ketua Himpunan Gelanggang beberapa bulan lalu. Sekarang saya lagi nyusun skripsi. Besok sidang pertama, Usulan Penelitian. Sampai saat ini, penelitian saya mengangkat topik tragedi '65 sebagai dalang (sulitnya) lahirnya karya yg keberpihakannya jatuh kepada korban. Semoga lancar.

Cerpen dan beberapa tulisan terakhir di sini, saya tujukan untuk untuk seseorang yang akhirnya resmi menemani saya menjalani masa-masa kuliah di Jatinangor.

Jatinangor juga jadi rumah saya selama empat tahun terakhir. Selama di Jatinangor, saya mulai suka motret dan suka kopi. Pernah buka bisnis kopi tap kemudian break, lalu menjalankan bisnis fotografi dan videografi yang masih berjalan sampai sekarang. Oiya, saya juga sempet hobi berteater dan bikin band asal-asalan. Tapi di awal tahun lalu, saya akhirnya pilih kamera untuk jadi fokus yang bakal dikejar dan terus dikembangkan.

Naik gunung udah jarang, jalan-jalan jauh juga jarang. Saya sekarang agak penakut dan lebih seneng sendirian. Aduh, tulisan kok serius gini, ya. Saya akan pakai gaya tulisan saya yg biasanya, tapi mungkin perlu bikin konten yg agak serius juga, ya.. Anjing aing ga mau tua.

Oke, pokoknya, berapa hal yg terlambat diceritakan, akan mulai saya cicil dari sekarang. Jadi, selamat datang kembali, Du Vrangr Gata!


Monday, 26 December 2016

I

Aku berusaha menerjemahkan kerinduan melalui cara-caramu berlaku.
Melalui paha atas di hidangan makan siangku; menyingkirkan bawang, buah, batang sayuran, dan kuning telur; lalu menutupnya dengan teh tawar hangat.

Malamnya, aku akan mendiskusikan purnama tentang mengapa ia hanya hadir di beberapa malam setelah penantian yang panjang?
Lalu mengapa ia baru hinggap di puncak saat kita hendak terlelap?
Apakah hujan perlu mereda agar ia bisa ada?
Dan mengapa dengan semua pertanyaan yang ada aku masih tetap mendamba?

Kemudian aku akan berbaring di kasurku, berharap segera terlelap dan bangun di Januari yang menanti, sambil kupakai kaus kaki tidurku yang lucu.

Aku telah berusaha menerjemahkan kerinduan melalui cara-caramu berlaku.

Sunday, 12 June 2016

Kue Balok


Arina merapatkan jaketnya. Wajah itu makin terlihat merona ketika tersentuh jingga api dan terbelai udara hangat yang menjinakkan angin malam. Sisa hujan dibiarkannya menggantung di ujung rambut. Ia lebih tertarik dengan tungku api di hadapannya dibanding temaram lampu jalan dan bising kendaraan yang menarik perhatian di balik punggungnya.

Jalanan basah yang memantulkan pendar cahaya warna-warni mengalasi kakinya yang berbalut celana kargo dengan ujung dilipat dua gulungan. Ia memilih berdiri. Pilihan yang seketika membuatnya menjadi perhatian para pengunjung lain yang duduk berjejer di sampingnya. Dalam perhatian itu, ia tetap khusyuk dengan tungku apinya. Membuatnya menjadi pusat di semesta kedai kaki lima.

"Silahkan, mbak."
Sebuah kantung kresek. Wajah merona itu kini kian sempurna dihiasi segaris tipis senyuman. Arina menyambutnya dan menukar kantung kresek itu dengan sejumlah uang.

Ada sedikit enggan yang tersangkut di hati para pengunjung kedai ketika Arina pergi dari tempat itu untuk kembali menyibak tirai hujan dan berlari ke arah mobil yang sedari tadi menunggu di seberang jalan.

Dari kursi belakang mobil, Rendra memerhatikan kekasihnya menyebrang jalan dan berlari menghampiri. Segera ia membukakan pintu.

"Aku bilang juga pake payung, kan?"
"Gak pa-pa, kamu kan tahu aku suka hujan."

Arina menutup pintu dan memosisikan dirinya di samping Rendra. Ia mengalihkan kantung kresek di tangannya ke tangan Rendra.

"Kue balok lagi?" ucap Rendra sambil menengok isi kantung kresek. Arina mengangguk. Melepas jaket. Kemudian mencomot kue baloknya.

"Udah nemu pasangan suami istri hari ini?" tanya Rendra sambil ikut mencomot sebuah kue balok.

"Yang bertingkah kaya suami istri sih, banyak," Arina menjatuhkan punggungnya ke kursi. "Kalo suami istri beneran baru nemu barusan di kedai kue balok. Itu juga udah tua."

"Entah kita yang pikirannya kolot, atau memang mereka yang udah terlalu maju." ujar Rendra dengan senyum satir.

"Aku makin yakin bahwa orang-orang di abad 30 ini udah punya kebenaran baru. Mengatasnamakan kebebasan, memilih gak terikat dengan apa pun. Termasuk pernikahan."

"People's change. Begitu juga kebenaran di dalamnya." senyum Rendra mengembang, ia memberikan Arina air mineral. Arina menyambutnya sambil mendengus, "Kamu selalu bilang begitu."

Tegukan Arina membiarkan hening masuk ke sela-sela di antara mereka. Hening itu bertahan cukup lama. Merambati kepala Arina yang berangsur jatuh ke pundak Rendra. Pundak yang setia menampung semua pemikirannya. Pun resah dan keluh kesah. Dalam peradaban saat ini mungkin hanya Rendra yang sepemikiran dengannya. Dan mungkin saat ini hanya mereka berdua sepasang kekasih yang dilandasi sebuah pertanyaan sederhana 'maukah kau menjadi kekasihku?'




Hening itu kemudian merambati jemari Rendra yang berangsur naik mengelus kepala Arina. Wanita yang selalu mempertanyakan arti kebebasan yang kini diamini orang-orang.

"Menurutmu kebebasan itu ada gak, sih?" Arina memutus hening tiba-tiba.

Rendra terkekeh. Seolah Arina telah membaca pikirannya. "Kamu pengen kue balok ini kedinginan dan gak dimakan gara-gara obrolan kita yang bakalan panjang dan serius?"

Arina bangkit dari pundak Rendra. Menyibak rambutnya ke belakang. Kemudian memposisikan dirinya menghadap Rendra. "Rendra, aku mau ngomong serius."

Kerutan di dahinya meyakinkan Rendra bahwa kekasihnya memang sedang ingin serius. Perlahan senyum Rendra memudar. Rendra membetulkan posisi duduknya dan menghadap Arina. Tak pernah sebelumnya Arina seperti itu. Malam ini ia baru betul-betul memahami arti kata serius dari wanita di hadapannya.

Dalam mobil yang masih dipeluk gerimis, Arina menggenggam tangan Rendra. Rendra menggenggam balik tangan itu.
Hening kembali merayapi seisi mobil. Kali ini semua bagian tubuh mereka genap digerayangi keheningan.

Arina menarik napas dalam. Rendra memandang kekasihnya lekat. Dalam keheningan itu, diselingi rintik hujan di atap mobil, dibasuh sayup-sayup warna oranye yang membelai lembut wajah keduanya, dan dalam genggaman yang semakin erat, Arina berkata, "Maukah kau menjadi suamiku?"

Kue balok itu resmi kedinginan.

__________
Bandung, 03.18
Untuk kebenaran yang terus berkembang
Terima kasih Yoha, untuk finishing touch-nya dalam cerita ini

Sunday, 3 January 2016

"Ujar siapa? bahwa bila tak datang maka kau takkan kehilangan."

Tanya bocah itu pada segerombol awan mendung di angkasa, yang menunggu bocah itu selesai bicara untuk manjatuhkan hujan berbagai rupa, yang menampung rindu yang tak sempurna.

Bocah yang semula tengadah, akhirnya lelah.
Dan ia berlalu.

"Toh, aku kehilangan sesuatu yang sama sekali tak pernah datang."

Mendung tetap meraja. Namun hujan tak turun juga.

Tuesday, 15 December 2015

Apa Kabar, Realita?

Semua menjingga. Rumput bergoyang seirama. Angin sedang sejuk-sejuknya. Dari ujung jalan, lelaki itu berjalan pelan. Satu tempo dengan matahari tenggelam.
Di bawah pohon mahoni, ia hafal kemana lelaki itu menuju. Duduk dan menghadap ke barat, dimana matahari tenggelam singgah di celah-celah bukit hijau yang seragam.

Lelaki itu menyalakan rokoknya. Menghisapnya perlahan dan menghembuskannya. Kemudian lekat ia amati asap yang mengepul di udara, ditempa cahaya senja. Tatapannya mengawang. Ibarat sedang mengamati jiwanya yang turut serta bersama asap itu.

Di balik imaji yang sempit ia memerhatikan setiap rinci sang lelaki. Terlihat jelas bagaimana tatapannya yang kian sendu, dibayangi wajah yang tak pernah bisa tertangkap oleh mata yang dulu menggebu. Terlihat jelas bagaimana bibirnya yang mengering, tak pernah sempat melempar senyum yang ia siapkan berbulan-bulan lalu. Dan jemarinya yang mulai merapuh, karena tak sempat menggenggam utuh.
Ia paham apa yang terjadi. Ia paham melalui pemahaman yang lelaki itu sangkal setiap waktu. Ia paham betul lelaki itu. Karena dulu mereka selalu bersama.

Setelah sekian lama menjadi pemerhati, dalam hembusan asap kesepuluh, lelaki itu menoleh padanya. Saat itu juga matahari berhenti jatuh. Awan yang riuh mendadak diam patuh. Sang waktu menahan diri dan semuanya tak bergerak. Di antara imaji yang tak lagi dicampuri waktu mereka saling menatap. Bukan ia yang terkejut, melainkan lelaki itu. Karena bukan ia yang selama ini bersembunyi, melainkan lelaki itu.

Dalam satu tatap lelaki itu ingat pada dirinya yang lalu. Yang sama sekali tak pernah menghabiskan waktu berdiam diri digeroti sepi yang ia ciptakan sendiri. Lelaki itu bangkit dari duduknya. Perlahan, lelaki itu berjalan memperpendek jarak, sementara mata mereka terus beradu. Ingatan-ingatan lelaki itu akan masa lalu terus menghambur jatuh, masuk ke dalam matanya yang sendu.

Waktu masih diam terpana. Dan kini jarak mereka hanya satu lengan jauhnya.
Lelaki yang berada di ambang imaji itu, menyapanya hangat. Sapaan yang layak untuk memulai kembali.. semuanya..
.
.
.
.
.

"Apa kabar, realita?"

***

Jatinangor, 02.32
Untuk kita yang mencoba kembali pada realita