Friday, 31 January 2014

From Zero to Hero II

Selamat hujan di malam Januari.

Terlalu banyak yang pengen gue bagi di blog ini. Tapi sebelum semuanya dimulai, gue harus tuntasin dulu cerita perjalanan From Zero to Hero.
Dibilang dituntasin sih engga. Gue ngerangkum semua ceritanya.
Dalam diam gue sadar, bahwa perjalanan ini bukan hanya kaki, mata, dan tangan yang bekerja. Jauh diatas itu semua, hati kami-lah yang bekerja lebih keras.

Ada satu energi yang ga bisa disampaikan melalui kata. Kekayaan kata ga akan pernah bisa menafsirkannya.

---
Perahu menepi di kawasan pulau sempu. Setelah mencatat nomor telepon tukang perahu, kita loncat dari perahu dan untuk pertama kalinya menapakkan kaki kita di Pulau Sempu.
Di tempat penjemputan perahu ini ada beberapa kumpulan orang yang lagi nungguin dijemput perahu sambil istirahat. Beberapa kali gue lihat bule lagi ngobrol-ngobrol santai antar sesamanya.
Sebelum nyampe ke surganya Pulau Sempu yang punya nama Segara Anakan, kita harus long march dulu menembus hutan selama kurang lebih 2 jam. Menurut cerita perjalanan, sih, begeeto. Tapi alam selalu punya rahasia yang ga akan pernah bisa kita tebak, boi.

Baru mulai jalan, gue ngeliat ada monyet lagi lari-lari sambil rebutan makanan. Mereka teriak-teriak entah girang entah garang. Sedetik gue takjub sama pemandangan itu.
Kita lanjut jalan.

Pas kita lagi nikmatin perjalanan, mendadak gue dan Kang Gavin pengen pipis. Akhirnya kita pipis di dua tempat yang berbeda. Beres pipis gue baru sadar ternyata gue dan Kang Gavin pipis di areal jalan setapak. Punya gue mengarah ke bawah, sedangkan punya Kang Gavin mengarah ke kanan. Disitu kita diskusi dulu sebentar, nentuin jalan mana yang bakal kita ambil. Apakah jalan pipisnya gue atau jalan pipisnya Kang Gavin? (Jenius banget kita, yak..)
Setelah menganalisis cukup lama, akhirnya kita ambil jalur pipisnya kang Gavin yang menurut kesepakatan jalannya lebih 'jalan setapak' banget.

Kita terus ngerunut jalan yang dipenuhi cabang ke kiri dan ke kanan.
Beberapa kali kedenger suara deburan ombak yang bikin semangat kita kepacu. Kita jalan terus sampe akhirnya kita... menemukan padang ilalang setinggi kepala. Suara ombak kedenger jelas. Kita makin penasaran. Senyum udah ngembang di bibir masing-masing. Sambil lari-lari kecil kita mendekat ke suara ombak. Sampai akhirnya kita sampai di sebuah pantai tak berpenghuni.

Lebar pantai ini ga lebih dari 10 meter. Pasir yang bersih tanpa jejak manusia terbentang indah dipeluk karang. Ombaknya berteriak kencang menyapa kami. Angin terasa sesegar tegukan nutrisari di padang pasir yang gersang. Pantai ini luar biasa indah. Hanya ada kami bertiga disini. Bertiga.
Kita sadar kalo bukan ini tempat yang kita tuju. Ini bukan Segara Anakan, boi. Entah pantai apa.
Bingung.
Setelah makan siang dan sejenak menyerap keindahan pantai ini, akhirnya kita kembali lagi ke arah semula. Disitu kita nyimpulin bareng kalo harusnya kita pake jalur pipis gue.

Pas di jalan kembali ke pertigaan pipis, kita ngedenger suara orang yang jumlahnya cukup banyak. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, dan.. anak kecil?
Bah ternyata kita ketemu lagi sama si Mas-Mas ITB dan keluarga. Mereka pake GPS dari handphone. Kenapa gak kepikir sama kita.....

Kita sempet bincang-bincang tentang pantai yang baru kita temuin tadi. Akhirnya kita ngikut mereka ke tujuan utama: Segara Anakan.

Hari udah menjelang sore. Sekitar pukul 16.00 kita dihadapkan lagi dengan sebuah pantai yang cukup luas.
3 PANTAI DALAM SATU HARI, MEN!
Dan ini masih bukan Segara Anakan....
Tapi pantai yang ini ga kalah keren dari pantai 10 meter yang tadi. Pantai ini luas, dan tenteram.
Rombongan keluarga memutuskan untuk pulang dan ga ngelanjutin perjalanan karena udah keburu sore. Setelah dadah-dadah, si Mas ITB ngasih tau arah ke Segara Anakan. Berhubung masih keitung siang, kita bertiga ngelanjutin perjalanan.

Satu langkah-dua langkah terasa ringan. Tapi langkah selanjutnya, beuh boro-boro. Arah yang ditunjuk si Mas-mas ITB menuju ke tebing. Kita sih semangat-semangat aje dengan petuah dari ntu orang. Lama kelamaan tebingnya makin rapet sama pohon-pohon kecil.
Satu hal yang ngebuat kita yakin dengan jalan ini: Setelah naik tebing, kita bakal turun tebing, dan sampai di Segara Anakan! Yeay!
Tapi ternyata keyakinan itu hanya sekedar mitos belaka, saudara-saudara. Tebing ini kagak ada ujungnyaa!!
Waktu menunjukkan pukul 17.30 ketika kita akhirnya memutuskan turun dan kembali ke pantai tempat kita berpisah dengan si Mas-Mas ITB dan GPS-super-duper-luar biasa-menakjubkan-canggihnya itu. Langit udah mulai gelap. Satwa-satwa malam mulai terdengar suaranya.

Kita membuat kemah di luar area pasang air laut. Obrolan malam itu baru berhenti ketika kita menyantap makan malam. Setelah makan malam, ritual seperti biasa dinyalakan.

Pantai ketiga setelah Sendang Biru dan Pantai 10 meter di hari itu ternyata punya keajaiban kecil. Keajaiban itu kita dapati ketika kita melihat langit. Rasi bintang bertaburan saling berlomba untuk menjadi yang paling terang. Langitnya sangat indah.
Bintang-bintang itu terasa dekat dan mampu kita jangkau. Mereka menjadi lentera di malam yang penuh rahasia.

Ada satu hal yang ga akan gue lupain di malam itu.
Saat kita berlari ke arah pasir pantai dengan bintang yang menjadi atapnya, kita sedikit tertawa dan duduk bersama menghadap ombak. Kemudian kita berlagak untuk saling bertanya tentang rahasia hidup dan kehidupan. Kita terus berbicara tentang segala hal sampai akhirnya kita sepakat untuk diam.
Diam..
Diam dan bersandar pada pasir pantai, menghadap bintang-bintang. Tidak ada yang bersuara selain angin dan ombak. Tidak ada yang tersenyum selain bulan dan bintang. Dan tidak ada yang berusaha menerka tentang rahasia Tuhan yang sungguh sangat menakjubkan.

Kita hanya diam. Merasakan bulan, bintang, angin, ombak, pasir, dan semua ketenangan itu meresap ke tubuh kita.

14 Agustus 2013
Kita awali hari ini dengan sandwich, krim soup, dan roti baguette.
Selesai packing, Tuhan menjawab doa-doa kita melalui 4 manusia yang baru saja datang. Setelah saling sapa dan bertanya, ternyata mereka baru saja dari Segara Anakan. Mereka cukup mengerti lika-liku jalan di Pulau Sempu. Dan mereka bersedia mengantarkan kita sampai ke persimpangan jalan menuju Segara Anakan. Mantap! Cabut, boi! Jalan-jalan, boi!

Jalan menuju ke Segara Anakan dari Pantai Bintang itu ternyata sangat rumit. Banyak banget persimpangan jalan, dan gak ada jalan setapak yang jelas. Tapi berkat 4 manusia ajaib itu akhirnya kita sampai di persimpangan jalan menuju Segara Anakan. Mereka pamit untuk melanjutkan perjalanan entah kemana. Dan kita dengan semangat melangkah ke tujuan utama.

Beda dengan jalanan lewatin kemarin, di jalan menuju Segara Anakan kita berpapasan sama orang beberapa kali. Kebanyakan anak-anak muda yang ngisi waktu liburan. Semangat terus menggelora sampai akhirnya kita melihat awal dari Segara Anakan. Kaya kolam renang yang airnya biru, dengan berlantai pasir pantai. Kita ga sabar untuk ngeliat pantainya kaya gimana. Setelah nanjak dan mudun dikit kita akhirnya sampai di Pantai Segara Anakan!

Pantai ini sangat kontras dengan dua pantai sebelumnya. Disini ada banyak banget orang, suhunya lebih panas, dan suasananya lebih ceria. Tapi yang jadi alesan kenapa Segara Anakan sangat diincar wisatawan adalah karena di pantai ini ga ada ombak. Sebetulnya Segara Anakan itu lebih cocok disebut sebagai 'laguna'. Air laut masuk ke Segara Anakan melalui celah dari batu-batu karang. Air laut itu tertampung di sebuah laguna yang kemudian diberi nama Segara Anakan. Makanya ga ada ombak. Dan dalemnya ga nyampe 1 meter, kecuali di bagian karang tempat masuknya air katanya sih cukup dalem.
Disini kita lari-lari, main-main, minum nutrisari, dan berbincang dengan wajah-wajah baru.

Gue ngerasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia. Semua kejadian yang merangkai perjalanan Zero ini bener-bener kaya yang udah direncanain sama Tuhan. Bahkan kebegoan kita nyasar ke Pantai 10 meter dan Pantai Bintang malah jadi kejadian yang amat sangat gue syukuri. Empat pantai dalam dua hari.
Terima kasih, Pulau Sempu.


Segara Anakan jadi puncak perjalanan kita di Pulau Sempu. Setelah dari sini, kita berangkat ke tujuan selanjutnya, yang melengkapi bagian dari 'Hero' dalam perjalanan ini: Mahameru.

Saturday, 18 January 2014