Lagi-lagi aku bermimpi.
Bukan tentang harapan dan cita.
Bukan tentang imaji dan semesta.
Bukan tentang tari dan nada.
Aku bermimpi tentang seorang pria dalam perahu sampan. Bukan di sungai, namun lautan. Lautan itu ia beri nama lautan harapan. Tempat yang menawarkan keasingan.
Sebulan yang lalu ia berkemas. Memasukan angan dan meninggalkan kenangan.
Sebuah pulau, dimana burung merpati terbang kesana-kemari. Bunga mawarnya tumbuh tanpa duri. Airnya hangat dan menghidupi. Pepohonannya pandai bersandiwara dan berseri-seri.
Pria itu menuju kesana.
Dengan sampan, tanpa sedikitpun mengantisipasi rintangan.
Minggu pertama, lautan menawarkannya lumba-lumba. Mereka ramai berisyarat. Seperti malu-malu. Pria itu mengajaknya bersalaman. Lumba-lumba menyambutnya diam-diam. Mereka resmi berkenalan.
Kemudian lumba-lumba memperlihatkan betapa istimewanya lautan. Tempat yang terlalu damai untuk terlelap, dan terlalu dalam untuk mengerti.
Mereka saling bercanda lama. Dalam tawa, kemudian pria itu bertanya,
"Lumba-lumba, siapa namamu?"
Lumba-lumba menjawabnya dengan menari. Kemudian pergi meninggalkan tanya dalam hati si pria.
Minggu kedua, lautan menawarkannya rembulan.
Dingin menyapa permukaan. Pria itu mengeluarkan kantung tidurnya. Ia berbaring menghadap rembulan. Sudah menjadi kebiasaan sejak awal pertemuannya dengan rembulan, setiap malam ia akan menunggu rembulan datang untuk berbincang-bincang.
"Hai, rembulan. Lihat, sekarang aku pakai kantung tidur. Kau mau memakai jaketku? Kau pasti kedinginan," sapa pria itu.
Rembulan membalasnya dengan senyuman.
Senyuman yang membuat pria itu tak sabar menunggu datangnya malam.
Seperti biasa, rembulan tak pernah mengajaknya bicara. Selalu meninggalkan rasa penasaran dalam hati si pria.
Minggu ketiga, lautan menawarkannya badai.
Pria itu sibuk menguras air dari sampan. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Perbekalannya hanyut. Gelombang laut membawanya naik turun. Hujan dan angin menyiksanya tak karuan.
Pria itu berusaha tetap mengapungkan sampannya dengan tekad dan perjuangan. Berpegang pada prinsip untuk sampai di daratan yang ia dambakan.
Kali ini badai yang membuka mulutnya,
"Lautan tak sesederhana yang kau kira, Tuan. Dan daratan tak sedekat yang kau sangka."
Pria itu tak menghiraukan. Ia tetap berusaha agar sampannya tetap terapung di lautan.
Minggu keempat, dalam lelah dan kegelisahan, pria itu terduduk dan tetap berusaha terjaga. Badai seminggu lalu menyisakan kehampaan dan penantian akan daratan yang tak kunjung datang.
Pria itu bertanya apa lagi yang akan disuguhkan oleh lautan padanya. Ia menunggu ditemani rasa penasaran. Dalam diam, sunyi membawa pria itu pada pembicaraan dengan dirinya sendiri.
Ia mencoba mengingat dan mengulang semua yang terjadi dalam tiga minggu terkahir. Dalam tafakur sunyi itu, si pria tersadar akan semua hal yang telah lautan suguhkan dalam perjalanan ini.
Ia mengerti. Potongan-potongan peristiwa melintas cepat dalam kepalanya.
Sampan. Membawa angan. Meninggalkan kenangan. Lautan harapan. Daratan yang menawan. Lumba-lumba. Rembulan. Badai.
Lumba-lumba. Rembulan. Badai.
Sekejap ia mengalihkan pandangan. Ia melihat sekelilingnya. Lautan harapan terbentang sejauh mata memandang.
Ia akhirnya mengerti.
Lautan menawarinya perkenalan, melalui lumba-lumba.
Lautan menawarinya kerinduan, melalui rembulan.
Kemudian lautan menawarinya rintangan, melalui badai.
Lautan telah membawanya pada sebuah perjalanan yang tak diduga.
Pria itu akhirnya mengerti.
Akhirnya, sesuatu menarik perhatiannya di ujung sana. Bersinar terang. Daratan. Daratan yang bercahaya. Daratan yang ia dambakan. Ingin sekali ia berteriak. Tubuhnya yang lelah seketika dihidupkan kembali. Ia melihat lebih jelas ke arah yang dituju. Di depan mata, perlahan tujuannya semakin terlihat jelas.
Di minggu keempat, daratan yang ia dambakan akhirnya terlihat. Muncul ke permukaan.
Daratan yang ia dambakan,
Muncul bersama matahari.
---
Aku tak ingin bangun dulu.