Ehehei! Lama banget ga ngebacot di blog. Akhir-akhir ini lagi banyak pikiran, boi.
Kita mau bahas apa ya? Eh, belum pada tau keluarga gue ya?
Kita bahas itu aja kali ya? Boleh lah kita umbar satu-satu.
Kaka
Namanya Gardea Ekayatni. Dia adalah anak pertama dari pasangan Yayat Ruhiyat dan Heni Setianingsih. Lahir tanggal 7 Desember 1989. Satu-satunya anak yang lahir di Purwakarta. Dan satu-satunya anak yang gak ada nama islami dalam namanya. Sampe-sampe dia sempet pengen namanya diganti jadi Siti Gardea Ekayatni.
Menurut gue, dia punya pola pikir yang idealis. Gak suka neko-neko. Suka hal yang simple tapi dalam persepsi yang rumit. Apapun jalan yang dia ambil selalu berbeda dan baru. Itu yang jadi nilai lebihnya. Unik dan kreatif.
Ah dari tadi dipuji muluuuu!
Oh iya, dia punya kegilaan sama kolor. Kalo lagi jalan-jalan sama si mama tuh ya, tiap pulang pastiiiii bawa kolor baru. Padahal minggu kemarennya baru aja beli. Dari mulai warna pink, biru muda, kuning, sampe putih muda.
Gue
Namanya Muhammad Lagam Alfaruqi. Lahir tanggal 17 Januari 1996. Pokonya gue yang paling sempurna diantara semuanya. Walaupun gue yang punya bakat tinggi badan lebih kontet dibanding si Ai, jidat yang lebih lebar daripada si Kaka, mata lebih belotot daripada si Mama, dan bulu-bulu yang merambat buas melebihi siapa pun yang ada di keluarga ini.....
Ai
Namanya Muhammad Rai Trifadlih. Sempet dipanggil 'Ai Otok'. Lahir tanggal 20 Juli 1999. Dia adalah sosok adik yang menakutkan. Dia satunya-satunya anak yang punya hobi berbeda dari yang lain. Gue sama si kaka suka baca buku, dia sukanya ngadu ikan cupang. Gue sama si mama sukanya masak, dia sukanya ngabisin masakan orang. Dan ada satu lagi hobi dia, yaitu mengompol. Padahal usianya sudah menuju akil baligh.......
Si Ai ini adalah anak yang sangat tidak berbakti kepada orang tua. Dia yang paling sering berantem sama mama. Padahal cuma masalah ucapan 'Assalamualaikum' yg kekencengan aja bisa jadi bahan amukan badai sama si mama.
Oh iya, si Ai ini adalah pewaris murni wajah si Ayah. Mukanya 98% mirip Ayah. Sikap dan kebiasaannya juga 80% mirip. Dibanding gue yang lebih mirip pembantu. Menurut gue, dia adalah duplikat dari Ayah. Ternyata dulu Ayah seliar ini....
Panggilan sayang ai kepada gue adalah 'Bogam'. Tanpa sopan santun dia suka manggil gue bogam sambil teriak-teriak udah kaya manggil maling kolor aja.
Mama
Namanya Heni Setianingsih. Lahir tanggal 21 Juli gatau taun berapa. Tanggal lahirnya cuma beda sehari sama si Ai. Beliau adalah orang yang paling gue junjung tinggi keberadaannya disamping Ayah. Beliau ngebesarin anak-anaknya sendiri setelah kepergian Ayah sekitar 4 taun yang lalu.
Hobinya adalah musik, didukung oleh latar belakangnya yang seorang guru seni musik di SMPN 49 Bandung. Bakat musik gue mengalir deras dari darah mama dan ayah yang sama-sama bisa disebut seniman.
Beliau punya obsesi untuk ngejadiin gue artis. Beliau tuh pengen banget gue tampil di setiap acara. Salah satunya adalah, ehem, Idola Cilik. Oke oke buka rahasia dikit, gue dulu pernah ikutan audisi Idola Cilik. Dan yah seperti yang kalian duga, gue ditolak di audisi tingkat awal. Padahal apa sih yang kurang dari gue sang titisan Michael Jackson ini.
Pernah disuatu pembagian rapot gue bilang,
"Ma, kayanya di acara bagi rapot ntar agam ga jadi manggung."
"Apwah?!! Pokonya kalo kamu ga manggung, MAMA GA MAU NGAMBIL RAPOT!!"
Dahsyat..
Tapi gue janji, nanti kalo gue udah jadi musisi atau orang sukses, dan suatu saat ada pers yang datang mewawancarai gue. Gue ditanya,
"Siapa yang jadi motivasi anda dalam mencapai kesuksesan ini?"
Gue bakal jawab mantap sambil nunjuk ke arah kamera, "Mama".
Ayah
Namanya adalah Yayat Ruhiyat. Lahir tanggal 12 April lupa taun berapa. Beliau yang mewariskan sikap kepemimpinan kepada anak-anaknya. Beliau punya watak yang kokoh, tegas, berwibawa, tapi seringkali kocak dan konyol. Itu yang bikin beliau tampak disegani sekaligus dihormati.
Ayah meninggal tanggal 22 April 2009. Meninggalkan banyak hal yang belum terselesaikan. Begitu dia pergi, gue sadar betapa pentingnya sosok seorang Ayah. Yang paling gue rasain itu adalah hilangnya sosok narasumber dalam hidup gue. Gue jadi ga tau harus nanya tentang puisi kepada siapa. Nanya tentang cara melihara burung kepada siapa. Cara merawat jam tua kepada siapa. Tentang cara menjadi pemimpin yang baik kepada siapa. Dan masih banyak lagi hal-hal yang ternyata belum sempet gue tanyain pada dia.
Tapi walaupun dia udah ga ada. Gue yakin kalo jasa-jasanya masih tetep ada. Usaha yang udah dia perbuat selama hidup pasti bakal melebur pada anak-anaknya.
Ayah dimakamkan di Rancaekek, kampung halamannya.
---
Seburuk dan separah apapun kalian mengambil pandangan tentang keluarga, kalian hanya akan berputar-putar pada satu roda yang kemudian kembali lagi pada persepsi awal bahwa tiada yang lebih baik di dunia ini dibandingkan kehadiran keluarga. Tak ada moment yang lebih indah dibandingkan dengan acara berkumpulnya keluarga sambil mengobrol santai di hari libur. Membicarakan hal-hal sepele yang membuat kita lebih akrab satu sama lain. Karena tak ada lagi level akrab yang harus kita tembus.
Semoga kalian membaca ini dalam keadaan sesejuk seruputan teh hangat buatan mama di waktu yang dikhususkan untuk berkumpul.