Friday, 29 June 2012

Narsis

Masa lalu merupakan sesuatu yang membuat otak memiliki fungsi. Sebagai penyimpan memori. Memori yang kita maksud tak lain dan tak bukan adalah masa lalu itu sendiri.

Semua orang punya masa lalu.
Sebagian orang menganggapnya kelabu. Sebagian lagi menganggapnya penawar sendu.

Masa lalu sering kali bersifat terbalik. Terbalik dengan keadaan yang ada kini.
Hal itu bisa dibilang baik, bisa dibilang tak diingini.

Kalian pada penasaran ga sih, gue waktu SMP kaya gimana?
Pertama kali masuk SMP dulu, gue baik.
Ganteng.
Ga pernah mabal pelajaran.
Ga pernah jajan diluar waktu istirahat.
Sopan santun terhadap guru.
Akrab terhadap sesama.

Wujud gue waktu pertama kali masuk SMP kurang lebih seperti ini,


Begitu mulai mengenal kehidupan SMP, melalui adaptasi dan seleksi alam, gue malah tambah baik....
Diangkatan 2011, bisa dibilang kalo gue sebagai "Man of The Year".
HAHAHAHAHAHA!!
Muka dan kelakuan yang amburadul aja bisa jadi Man of The Year, boi.

Penampakan gue waktu menjelang masuk SMA,


Foto di atas, mulai memunculkan sosok "Singa" dalam diri gue.
Singa yang melambangkan kepemimpinan, sangar, berani, bertanggung jawab, keren, tampan, kalem, tatapan mengendalikan, apa lagi?
HAHAHAHA!

Pokonya dalam setiap fase kehidupan, tentu kita mengalami hal yang dinamai kemajuan. Tapi jangan sampe lupa, bahwa sesuatu yang tinggi itu pasti bermula dari pendek. Akhir pasti memiliki awal.
Jangan pernah dipisah atau dikelaskan. Karena dulu dan sekarang itu saling berikatan. Saling keterkaitan.

--

Pernahkah kalian memandang cermin dan melihat lamat-lamat, bagian fisik mana yang mencirikan identitas kita? Atau sifat dan kelakuan mana yang mencirikan watak kita?

Bandingkan diri kalian yang sekarang dengan 2 atau 3 tahun yang lalu. Adakah ciri identitas itu mengalami perubahan?
Penasarankah kalian dengan proses apa yang telah merubah diri kalian? Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dalam bentuk cara memandang, cara menatap, cara bicara, cara mengambil sikap, cara berteman, cara mengemukakan pendapat, cara menyelesaikan suatu masalah, dan cara menatap kehidupan.

Tahap kehidupan emang susah untuk dianalisa.
Maka nikmati saja, lah. :)

HAHAHA!

Before - After

Wednesday, 20 June 2012

Sunday, 17 June 2012

Seni

Seni Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
1) halus atau lembut; (2) seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya dan keindahannya) seperti tari, lukis, ukir dan sebagainya; (3) kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa); (4) orang yang berkesanggupan luar biasa.
Seni.
S-E-N-I.

Mari kita berkelakar tentang seni.

Salah satu bahan yang ga punya jalan buntu.
Meski kau coba mencarinya dalam urutan waktu.
Tidak akan dapat walau kau renteti satu-satu.
Malah bikin nyeri huntu.

Abstrak emang, yang dimaksud dengan seni tuh apa.
Tapi terkadang dalam beberapa sekmen hidup, kita bisa paham beberapa kata yang sebenernya sulit untuk dijabarkan. Apalagi bila dijadikan bahan ulangan.
Dalam setiap percakapan yang kita lakukan, banyak kata-kata yang melesat. Dari satu sampai seribu. Mengalir deras hingga membekas. Dan bekas itulah yang kita pandang dalam setiap lamunan.
Sadar ga, bahwa yang kita pandang hanya bekasnya saja. Dalam kata lain, yang kita ucapkan hanya sebatas kita tau. Sebatas lewat tanpa arti. Tanpa pernah kita mengerti.

Mencari arti memang bagaikan mencari bintang mana yang paling terang. Ketika kita dapati satu, ternyata masih ada seribu. Begitu seterusnya.

Kelakar kita masih tentang seni.
Kini mari kita berimajinasi.
Baca hari-harimu yang telah lalu. Lihat saat kau menemukan sebuah lagu. Ketika kau telusuri dan hayati lagu itu.
Hingga akhirnya kau mulai bernyanyi.
Bernyanyi...
Lepas...
Ada seberkas kepuasan yang kau rasakan...
Tak peduli dengan orang lain yang mendengar...
Hatimu mulai bergetar...
Dan kau terpejam. Matamu menutup sambil terus bernyanyi. Melalui nada tinggi. Nada rendah.
Getaran itu semakin menjadi. Dan ketika lagu itu kau akhiri, ribuan rasa lega dan tularan perasaan dari lagu tersebut menghujani nuranimu. Jiwamu telah terbawa. Tertebak angin. Indah atau tidaknya telah dapat kau rasakan.

Itu tadi, bila kau bernyanyi.
Sama halnya ketika kau menari, memetik gitar, menggambar, bermain peran, bermain band, atau membuat puisi...
Mulut, tangan, kaki, mata, dan pikiranmu menggeliat kesana-kemari. Tapi jauh dari itu, jiwa dan hatimulah yang sepenuhnya mengambil peran.

Dialah yang membuat matamu terpejam,
Hatimu bergetar,
Imajimu melayang-layang,
Dan dia pula yang menurunkan pengahayatan dalam hatimu.

Seni, dapat lebih dalam dipahami melalui hati. Karena dialah yang membuat seni itu ada.

Selamat malam dan terus berkelakar.




 

Sunday, 10 June 2012

Sangar Bermawar


Kenapa judulnya sangar bermawar?
Karena difoto itu, si orang lagi megang mawar dengan celana compang-camping
Lah, sangar dari mananya?
Ya menurut gue sangar aja ._.
Alay lo.

Sunday, 3 June 2012

Keluarga

Ehehei! Lama banget ga ngebacot di blog. Akhir-akhir ini lagi banyak pikiran, boi.
Kita mau bahas apa ya? Eh, belum pada tau keluarga gue ya?
Kita bahas itu aja kali ya? Boleh lah kita umbar satu-satu.

Kaka
Namanya Gardea Ekayatni. Dia adalah anak pertama dari pasangan Yayat Ruhiyat dan Heni Setianingsih. Lahir tanggal 7 Desember 1989. Satu-satunya anak yang lahir di Purwakarta. Dan satu-satunya anak yang gak ada nama islami dalam namanya. Sampe-sampe dia sempet pengen namanya diganti jadi Siti Gardea Ekayatni.

Menurut gue, dia punya pola pikir yang idealis. Gak suka neko-neko. Suka hal yang simple tapi dalam persepsi yang rumit. Apapun jalan yang dia ambil selalu berbeda dan baru. Itu yang jadi nilai lebihnya. Unik dan kreatif.
Ah dari tadi dipuji muluuuu!

Oh iya, dia punya kegilaan sama kolor. Kalo lagi jalan-jalan sama si mama tuh ya, tiap pulang pastiiiii bawa kolor baru. Padahal minggu kemarennya baru aja beli. Dari mulai warna pink, biru muda, kuning, sampe putih muda.



Gue
Namanya Muhammad Lagam Alfaruqi. Lahir tanggal 17 Januari 1996. Pokonya gue yang paling sempurna diantara semuanya. Walaupun gue yang punya bakat tinggi badan lebih kontet dibanding si Ai, jidat yang lebih lebar daripada si Kaka, mata lebih belotot daripada si Mama, dan bulu-bulu yang merambat buas melebihi siapa pun yang ada di keluarga ini.....



Ai
Namanya Muhammad Rai Trifadlih. Sempet dipanggil 'Ai Otok'. Lahir tanggal 20 Juli 1999. Dia adalah sosok adik yang menakutkan. Dia satunya-satunya anak yang punya hobi berbeda dari yang lain. Gue sama si kaka suka baca buku, dia sukanya ngadu ikan cupang. Gue sama si mama sukanya masak, dia sukanya ngabisin masakan orang. Dan ada satu lagi hobi dia, yaitu mengompol. Padahal usianya sudah menuju akil baligh.......

Si Ai ini adalah anak yang sangat tidak berbakti kepada orang tua. Dia yang paling sering berantem sama mama. Padahal cuma masalah ucapan 'Assalamualaikum' yg kekencengan aja bisa jadi bahan amukan badai sama si mama.

Oh iya, si Ai ini adalah pewaris murni wajah si Ayah. Mukanya 98% mirip Ayah. Sikap dan kebiasaannya juga 80% mirip. Dibanding gue yang lebih mirip pembantu. Menurut gue, dia adalah duplikat dari Ayah. Ternyata dulu Ayah seliar ini....

Panggilan sayang ai kepada gue adalah 'Bogam'. Tanpa sopan santun dia suka manggil gue bogam sambil teriak-teriak udah kaya manggil maling kolor aja.


Mama
Namanya Heni Setianingsih. Lahir tanggal 21 Juli gatau taun berapa. Tanggal lahirnya cuma beda sehari sama si Ai. Beliau adalah orang yang paling gue junjung tinggi keberadaannya disamping Ayah. Beliau ngebesarin anak-anaknya sendiri setelah kepergian Ayah sekitar 4 taun yang lalu.
Hobinya adalah musik, didukung oleh latar belakangnya yang seorang guru seni musik di SMPN 49 Bandung. Bakat musik gue mengalir deras dari darah mama dan ayah yang sama-sama bisa disebut seniman.

Beliau punya obsesi untuk ngejadiin gue artis. Beliau tuh pengen banget gue tampil di setiap acara. Salah satunya adalah, ehem, Idola Cilik. Oke oke buka rahasia dikit, gue dulu pernah ikutan audisi Idola Cilik. Dan yah seperti yang kalian duga, gue ditolak di audisi tingkat awal. Padahal apa sih yang kurang dari gue sang titisan Michael Jackson ini.

Pernah disuatu pembagian rapot gue bilang,
"Ma, kayanya di acara bagi rapot ntar agam ga jadi manggung."
"Apwah?!! Pokonya kalo kamu ga manggung, MAMA GA MAU NGAMBIL RAPOT!!"
Dahsyat..

Tapi gue janji, nanti kalo gue udah jadi musisi atau orang sukses, dan suatu saat ada pers yang datang mewawancarai gue. Gue ditanya,
"Siapa yang jadi motivasi anda dalam mencapai kesuksesan ini?"
Gue bakal jawab mantap sambil nunjuk ke arah kamera, "Mama".



Ayah
Namanya adalah Yayat Ruhiyat. Lahir tanggal 12 April lupa taun berapa. Beliau yang mewariskan sikap kepemimpinan kepada anak-anaknya. Beliau punya watak yang kokoh, tegas, berwibawa, tapi seringkali kocak dan konyol. Itu yang bikin beliau tampak disegani sekaligus dihormati.

Ayah meninggal tanggal 22 April 2009. Meninggalkan banyak hal yang belum terselesaikan. Begitu dia pergi, gue sadar betapa pentingnya sosok seorang Ayah. Yang paling gue rasain itu adalah hilangnya sosok narasumber dalam hidup gue. Gue jadi ga tau harus nanya tentang puisi kepada siapa. Nanya tentang cara melihara burung kepada siapa. Cara merawat jam tua kepada siapa. Tentang cara menjadi pemimpin yang baik kepada siapa. Dan masih banyak lagi hal-hal yang ternyata belum sempet gue tanyain pada dia.

Tapi walaupun dia udah ga ada. Gue yakin kalo jasa-jasanya masih tetep ada. Usaha yang udah dia perbuat selama hidup pasti bakal melebur pada anak-anaknya.
Ayah dimakamkan di Rancaekek, kampung halamannya.


---

Seburuk dan separah apapun kalian mengambil pandangan tentang keluarga, kalian hanya akan berputar-putar pada satu roda yang kemudian kembali lagi pada persepsi awal bahwa tiada yang lebih baik di dunia ini dibandingkan kehadiran keluarga. Tak ada moment yang lebih indah dibandingkan dengan acara berkumpulnya keluarga sambil mengobrol santai di hari libur. Membicarakan hal-hal sepele yang membuat kita lebih akrab satu sama lain. Karena tak ada lagi level akrab yang harus kita tembus.

Semoga kalian membaca ini dalam keadaan sesejuk seruputan teh hangat buatan mama di waktu yang dikhususkan untuk berkumpul.