Saturday, 20 October 2012

Tanah Tertinggi di Jawa Barat III

Giiiile ini cerita dari jaman kapan ga beres-beres.
Maapin aim Ya Allah.

Setelah beres makan siang, kita langsung berangkat menuju Pos I.
Perjalanan menuju Pos I bisa dibilang yang paling menakjubkan!
Bener-bener jadi start yang buruk. Baru diawal kita udah dikasih tanjakan dengan track batu dan panas yang terik. Gimana ga ngedown...
Akhirnya yang terjadi adalah: Jalan 5 menit, isitrahat 15 menit...

Dalam pendakian ini, rombongan Luwing (ceilah rombongan cuma bertiga) termasuk rombongan yang paling gaya. Kita daki pake seragam lapangan. Ga lupa sepatu jungle, carrier ukuran 80 L, ada yang pake buffin, iket kepala, dan ga lupa syal yang nolol di saku belakang celana.
Gaaaaaya banget pokonya.
Eh ga taunya.....
Ketika lagi istirahat karena cape, banyak banget rombongan yang turun gunung (baca: mudun) dan berlalu-lalang di depan kita. Senyum sapa tentu saling berbagi antar sesama pendaki. Tapi setelah mereka banyak ngelewat, kita sadar, bahwa sebagian dari mereka ada yang memakai sepatu futsal, mendaki bersama anaknya, membawa barang sekenanya, dan bahkan ada yang bertelanjang kaki. Dan itu ga cuman satu-dua, tapi tiga-empat....
Setelah ngeliat mereka semua, rombongan Luwing saling pandang, dengan muka kayak abis ketonjok Agung Hercules, kita cuma bisa ngerasa kalah dengan mereka. Apa artinya kemeja lapangan, sepatu jungle, syal pendaki gunung dan semua barang gaya ini dengan kondisi mental kita yang belum nyampe Pos I aja udah ngedown.
Dari situ kita bangkit. Kita patok target, pokonya jam 5 harus udah bisa sampe di Pos V!

Sekitar pukul 14.00 kita sampai di POS I.
Pos ini bisa muat untuk sekitar 2 tenda. Pos ini ditandai dengan sebuah saung yang ukurannya kurang lebih 2x2 meter.
Demi mengejar target, kita langsung lanjutin perjalanan ke Pos II.
Track yang awalnya berupa batu-batu kecil mulai berganti menjadi tanah dengan akar-akar pohon yang menghiasi jalanannya. Pemandangan sekitar yang awalnya berupa ilalang dan perkebunan pun berganti menjadi hutan yang cukup lebat. Tanjakannya mulai terasa.
Menurut hasil browsing di google sebelum berangkat, perjalanan menuju Pos II dapat ditempuh dengan waktu satu jam. Namun, dengan kami yang stelan woles, waktu tempuhnya jadi sedikit berbeda.
Sepanjang perjalanan kita bicara dan tertawa. Tak terasa hari sudah mulai senja.

Kita sampai di Pos II sekitar pukul 16.00
Target semula untuk mencapai pos V pada pukul 17.00 pun sirna sudah......
Karena langit sudah mulai gelap, akhirnya kita turunkan target menjadi bermalam di pos III.
Setiap pos di Gunung Ciremai memiliki tanda. Tandanya biasanya berupa lembaran seng yang dipaku di pohon (kita sebut papan) dengan bertuliskan nama pos dan ketinggiannya. Perlu diketahui saudara-saudara, bahwa ternyata papan pemberitahuan tersebut ada yang menandakan itulah posnya, dan ada juga yang menandakan bahwa pos yang dicantumkan jaraknya sudah dekat. Papan yang sebenarnya berisi tulisan POS III, nama, ketinggian, dengan daerah yang cukup luas untuk membuat kemah.
Sedangkan papan yang menunjukan bahwa pos tercantum sudah dekat, biasanya dipasang di sebuah pohon pada daerah yang sempit dan tidak memungkinkan untuk membuat kemah.
Nnnnah! Kita sempat tertipu oleh itu.
Ketika kita mengincar Pos III, kita sempat heran mengapa tempat yang bertuliskan POS III lahannya sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk membuat kemah disitu. Daripada kita berjalanan terus dan belum tentu mendapat spot kemah, akhirnya kita turun lagi dan membuat kemah di tempat yang cukup luas untuk membuat satu tenda.

Kita mendirikan tenda sekitar pukul 17.00, di sebuah spot dekat POS III.
Langusng membagi tugas. Seperti biasa, gue yang selalu mengambil alih dalam membuat makanan dan minuman. Kanggav dan Bani mendirikan tenda.
Setelah semua selesai, kita sempat berdiam diri sejenak. Menikmati hasil jerih payah kami semua. Terasa bahwa kita sedang berada jauh dari rumah. Dan jauh pula dari tanda-tanda kehidupan.
Setelah solat, kita menyantap makan malam. Makan malamnya berupa oatmeal dicampur susu kental manis, dan secangkir kopi untuk menemani. Kita memilih oatmeal karena memasaknya hanya membutuhkan sedikit air. Berhubung persediaan air kita yang terbatas.

Malamnya sekitar pukul 02.00 dini hari, Kangmuf dan Kangfad menyusul ke tenda. Kita sempat tertawa-tawa karena susahnya sinyal disana yang menyulitkan kita untuk berkomunikasi.
Pada saat kita akan tidur, beberapa pendaki terlihat masih mengejar puncak dan melewati kemah kami. Seperti biasa, kami basa-basi dengan menawari makanan atau minuman. Padahal kita udah ga punya makanan dan minuman disana. Hanya biar terkesan ramah sajaaa.

Esoknya, 26 Agustus 2012 - Pukul 06.00
Mentari mulai terlihat dan merambati setiap helai daun yang tumbuh.
Satu-persatu dari kita mulai terjaga. Kaya biasa, Kangmuf yang paling terakhir bangun. Dia bangun sekitar jam 8. Saat makan pagi udah siap.
Padahal rencananya, hari ini kita mau mulai lanjut perjalanan pukul 4 subuh. Tapi Tuhan berkehandak lain.
Sarapan pagi ini: Nasi, kornet, dan sosis bakar. Cukup untuk menambah stamina sampai puncak.

Pukul 10.00
Selesai packing, kita lanjut berjalanan. Dan akhirnya sampai di POS III yang sebenarnya. Ternyata posnya emang luas. Cukup untuk 2 tenda. Setelah istirahat sejenak, perjalanan kita lanjut lagi.
Tanjakan demi tanjakan mulai tak terasa seiring dengan sudah beradaptasinya tubuh kita dengan lingkungan dan medan. Tapi tetep, makin lama tanjakannya makin ganas.
Emang bener kata orang, Ciremai itu ga gampang. Tapi tetep harus dipaksain. Karena hasilnya pun emang ga biasa.

Akhirnya sekitar pukul 12.00 kita sampai di POS IV. Pos ini juga punya lapangan yang cukup luas. Muat menampung sekitar 3 tenda. Kita istirahat lagi, mengingat perjalanan sudah hampir sampai pada titik tertinggi. Menikmati wedang jahe yang dibuat tadi pagi. Jujur, ketika kita mendaki gunung, semua barang bawaan yang kita bawa adalah milik bersama. Tak mengenal ini punya siapa atau itu punya siapa. Pokonya yang terpenting disini, kita berangkat bersama, senang bersama, susah bersama, dan pulang bersama.

Pukul 14.00
Kita sampai di POS V!
Perjalanan menuju POS V sangat menyita energi. Track yang dilalui berupa jalan setapak, dengan tanjakan yang terus-menerus, dan rintangan berupa batu, akar pohon yang besar yang membuat kita beberapa kali harus memanjat. Sangat menantang dan melelahkan, Bung!
Di jalan menuju POS V, kita menemukan sebuah bacaan yang ditulis dengan tipe-x,
"Mama Udin capek...."

POS V berupa lapangan yang luas, cukup untuk 5-6 tenda.
Mengingat ini adalah pos terakhir, kita berpikir bahwa puncak tinggal beberapa langkah lagi.
Sebentar lagi kita sampai! Lagu We Are The Champion sayup-sayup mulai terdengar.
Nyatanya........
Setelah kita sampai di POS V, puncak Gunung Ciremai masih terlihat agung nun jauh disana......

Kita beristirahat dan memulihkan energi. Sambil mengobrol dan berbagi dengan beberapa rombongan yang terlihat baru turun dari puncak. Salah satu rombongan disana ternyata adalah rombongan yang ketika malam tadi bercanda bersama kami di tempat camp. Mereka melakukan perjalanan malam, dan tidak membawa tenda.
Jadi ya gitu, mereka tidur cuma dengan beralaskan matras.
Luarrrr biassssa!
Hasil pembicaraan dengan mereka, puncak hanya tinggal satu jam lagi. Oyeah! Apal mereun satu jam ceuk urang mah sakumaha..
Tapi emang kata mereka, satu jam, cuma tracknya adalah raja dari semua track yang pernah dilalui sebelumnya. Udah bukan berupa tanah, tapi batu dan tebing yang menjuntai dengan jurang di kiri-kanannya. Tanjakan terus tanpa henti, ditemani batu-batu segede rumah.

Jiwa adrenalin kita sedikit goyah. Tapi apa artinya semua perjalanan kalau udah sejauh ini harus nyerah?
Akhirnya setelah mengatur siasat, kita lanjut perjalanan!!
Siasat kita adalah, menyembunyikan ransel di semak-semak. Jadi, kita naik ke puncak cuma bawa dua botol minum dan sebuah golok. Siasat ini kalo bisa jangan ditiru. Karena akibatnya bisa fatal sekali, kawan-kawan.

Dengan segenap tekad dan kekuatan yang tersisa, kita mati-matian untuk terus berjalan. Perjalanan yang kami pikir sudah dekat, ternyata masih menyisakan pengorbanan. Pengorbanan waktu, bekal, dan tenaga.
Tracknya emang gila! Dan panas, boi. Kita istirahat ada sekitar 5-6 kali. Sebelum sampai puncak, kita nemu persimpangan jalan yang brasal dari jalur pendakian lain. Kita daki terus hingga sampai di sebuah tempat yang namanya Goa Wallet. Tapi kita ga mampir kesana mengingat waktu yang terbatas.
Di dekat Goa Wallet, kita nemu bacaan yang ditulis pake tipe-x lagi,
"Mama Udin baru nyampe sini."

Gue merasa perjalanan ini ga ada ujungnya. Tapi gue tetep yakin kalo kita pasti bisa. Bisa sampai di puncak. Bukan hanya puncak gunung ini, tapi juga sampai di puncak perjuangan kita, puncak kebahagiaan kita, dan puncak dalam segala hal yang udah kita taruh di hati dan kepala kita.

Ketika yang lain istirahat dan memandang awan yang mulai berada di bawah mereka, gue perintah kaki dan tangan gue untuk terus mendaki. Puncak hanya tinggal sepelemparan batu, Gam.
Gue liat di atas sana kaya udah ga ada lagi tanjakan. Emang samar-samar sih karena yang gue laluin berupa tebing batu yang terus menanjak ke atas. Pandangan cuma sekitar 5 meter kedepan, karena sisanya ketutup bebatuan. Gue terus berjalan dan percaya. Berjuang. Sedangkan rombongan Luwing lagi makan cha-cha dibawah sana. Gue lanjutin terus langkah yang udah mulai goyah, gemeter nahan sakit, nahan panas, nahan segala hal yang masuk ke pikiran gue.
Gue patok kaki ini untuk melangkah lebih keras dari biasanya, tangan ini untuk menggenggam lebih kuat dari biasanya, mata ini untuk memandang lebih lama dari biasanya, dan hati ini untuk selalu berdoa.

Oh iya, selama perjalanan, banyak kita lalui dengan berdiam karena topik yang dibicarain udah ga ada. Dan karena rasa lelah udah menguasai diri kita semua. Tapi satu yang terus-menerus gue ucapkan dalam hati. Dari mulai awal pendakian sampe sekarang. Yang terus-menerus gue ucapkan adalah shalawat. Di dalem hati tanpa henti.

Anak-anak udah mulai teriak nyuruh gue untuk berhenti sejenak. Gue mah lanjut terus. Percaya kalo puncak tinggal sedikit lagi. Dan akhirnya, ketika tangan ini menumpu badan untuk memanjat ke atas, dan membuat kepala gue berada diatasnya, wuuuuuuuuuuuussshhh!
Angin meniup kenceng banget ke muka gue. Menyegarkan lelah, wajah, dan menghapus segala hal yang udah mulai menyerah. Pemandangan puncak tergelar dihadapan gue. Indah. Puas. Dan menyegarkan.
Asli, kata pertama yang gue ucapkan adalah teriakan penuh semangat.
Ga sia-sia segala perjuangan dan peluh yang menetes. Dua hari yang melelahkan terbayar lunas, tunai, dan tanpa hutang oleh sajian keindahan yang ga bisa diucapkan oleh kata-kata.
Rasa haru, bangga, bersyukur, semuanya melebur menjadi satu. Terkumpul dan menjadikannya sebuah pelajaran yang ga akan ada tandingannya.

Beginilah sebuah perjalanan. Kita ga akan pernah tau apa artinya cape kita, rasa putus asa kita, haus kita, lapar kita, segala kram dan lecet di tubuh kita apabila kita belum mencapai sesuatu yang telah kita patok sebagai sebuah tujuan. Tujuan mengapa saya berada disini.
Bukan gunung yang harus kita taklukan, tapi diri kita sendirilah yang harus kita taklukan.

Pukul 17.00 kita lanjut perjalanan pulang, karena air ini udah ga ada. Perbekalan ini udah habis. Dan karena jiwa ini udah ga tahan untuk menjadi sesuatu yang baru. Kami yang baru.
Terima kasih, Gunung Ciremai.

Si 'Yang Pertama Sampai Puncak'

Kang Fadzrin, Kang Mufti

Bani

Kang Gavin

Perjalanan Menuju POS I


Puncak Ciremai, 25 Agustus 2012


13 Oktober kemarin baru turun dari Papandayan. Semangat Ciremainya mengalir terus!

Tuesday, 16 October 2012

Saturday, 6 October 2012

Tanah Tertinggi di Jawa Barat II

Selamat pagi!
Gue selalu suka pagi. Dimana gelap mulai berganti, embun yang menemani dan angin yang mondar-mandir. Melengkapi kesejukan yang udah jadi hakiki. Kesejukan yang mengawali apa yang akan terjadi. Memang misteri, tapi tak perlu dipikir dan diterka. Cukup jalani bersama pagi.

Sekarang gue mau ngelanjut cerita yang waktu itu sempet tertunda.
Cerita tentang perjalanan menuju tanah tertinggi di Jawa Barat.

24 Agustus 2012 - Pukul 15.00
Gue baru banget pulang dari Darangdan, kampung halaman gue. Gue menghabiskan waktu lebaran disana. Suka cita dalam kebersamaan. Sesampainya di Bandung langsung berangkat ke sekolah. Karena emang udah ada janji dengan Bani, Kang Gavin (Kanggav), dan Kang Mufti (Kangmuf) untuk ngebicarain management perbekalan, dan management perjalanan. Karena besok kita bakal berangkat ke gunung yang maha agung. Gunung Ciremai.

Gunung Ciremai punya ketinggian sekitar 3.078 meter dari permukaan laut (mdpl.) dan merupakan gunung dengan ketinggian diatas 3000m pertama yang bakal gue daki. Hari ini kita packing, sewa tenda, beli senter, dan bagi-bagi tugas bawaan. Rencananya, besok kita berangkat naikin elf jurusan Cikijing pukul 06.00 dari terminal Cicaheum. Yang berangkat naik elf cuma tiga orang, yaitu gue, Bani, dan Kanggav. Kangmuf dan temennya, Kang Fadzrin (Kangfad) berangkat kesana menyusul sore hari karena ada acara kampus, naik motor.

25 Agustus 2012 - Pukul 06.00
Kita bertiga udah kumpul di terminal Cicaheum. Stelan gue udah bener-bener mirip boyband. Dengan kemeja lapangan dan sepatu jungle. Cuma muka gue aja yang bisa nyelamatin gue dari kemiripan boyband ini.


Setelah meriksa barang dan packing ulang, kita langsung berangkat menuju Maja. Tarifnya sekitar Rp. 35.000. Kita bertiga memilih tempat duduk di depan, supaya bisa ketawa dan ngobrol sambil teriak-teriak.
Emang bener, sepanjang jalan kita ngobrol-ngobrol ga jelas. Ketawa ga jelas. Curhat ga jelas. Diem ga jelas. Ngobrol lagi sambil ditemenin keripik bawang, oleh-oleh khas Darangdan yang gue bawa dari rumah. Emang ga jelas. Tapi tujuan kita jelas, ingin menambah satu pengalaman baru dalam hidup kita. Pelajaran yang ga akan pernah ada gurunya.

Pukul 10.00
Setelah ngelewatin Sumedang, Malajalengka, akhirnya kita sampai di Terminal Maja. Dari situ kita istirahat sebentar dan langsung lanjut dengan naik Kolbun (Dolak) ke arah Apuy, desa terakhir untuk ke Gunung Ciremai. Sebenernya dari Maja kita bisa jalan kaki menuju Apuy, cuman tracknya lumayan jauh dan nanjaaaaak pisan. Daripada kita ngedown duluan dan malah pengen pulang, akhirnya kita ambil alternatif naik dolak. Tarifnya Rp. 20.000 untuk 3 orang. Sebenernya tarif asli sekitar Rp.5000 per orang. Cuma gara-gara kita lupa bilang mau ke Gunung Ciremai, jadinya kita sempet dibawa nyasab ke Air Terjun.

Pukul 12.00
Sampai Apuy, kita rehat lagi untuk solat dzuhur di mesjid terakhir. Air di mesjid itu udah mulai dingin dan gatau kenapa airnya bau Indomie. Di mesjid kita diem sebentar sambil ngeliatin kolor dan bra yang lagi dijemur di depan mesjid. Diliat dari warna dan ukurannya, kita sepakat kalo kolor itu punyanya nenek-nenek.
Di mesjid kita makan siang dulu, sebagai cadangan tenaga menuju puncak. Karena kata orang, tracknya Gunung Ciremai itu udah paling juarrraa! Tanjakannya ga abis-abis, ga ada sumber air, plus matahari yang menyengat.

Percakapan waktu makan siang...
"Wes ati ampela, euy. Menta nyak, Gam."
"Iya mangga, kang."
"Naha rada beda nyak euy ati ampela, teh."
"Ngeunah, nyak?"
"Heueuh ngeunah lumayan."
"Hahaa, emang daging entog mah paling juara."
"Hah? Ieu ampela entog?!"
"Hooh."
"ANJRIT, PUIH PUIH!"
"Kalem we atuh euy, da emang ngeunah pisan."
"SUGAN AING AMPELA AYAM! EMBUNG EMBUNG!"
"......."

Setelah beres makan siang, kita langsung berangkat menuju Pos I.
Perjalanan menuju Pos I bisa dibilang yang paling menakjubkan!
Bener-bener jadi start yang buruk. Baru diawal kita udah dikasih tanjakan dengan track batu dan panas yang terik. Gimana ga ngedown...
Akhirnya yang terjadi adalah: Jalan 5 menit, isitrahat 15 menit...


APAKAH YANG AKAN TERJADI PADA LAGAM DAN KAWAN-KAWANNYA?!
MUNGKINKAH MEREKA MENCAPAI PUNCAK TERTINGGI DI JAWA BARAT ITU?!
BAGAIMANA NASIB BANI DENGAN SEPATU PUNYA OM-NYA?!
APAKAH MEREKA TIDAK LUPA MEMBAWA TEMPE?!
SIMAK KELANJUTAN CERITANYA DI POSTINGAN SELANJUTNYA!!!!!

(To be continue...)