Friday, 30 November 2012

Wall Climbing

Malam semua!
Malam selalu jadi sumber inspirasi. Sumber munculnya ide.
Rutinitas gue nambah satu. Wall Climbing.
Bagi kalian yang mau tau gimana rasanya, dateng aja ke papan climbing di Saparua setiap hari Minggu sekitar jam 8-12an. Gue dan sahabat Luwing pasti bakal ada disitu.

Minggu kemaren pertama kalinya nyobain climbing di Saparua. Tracknya enak. Ga begitu sulit. Cocok untuk coba-coba. Tapi tetep mengutamakan 4 asas tali temali: Aman, aman, aman, dan nyaman. Begitulah kata Kang Ijal.

Rasakan betapa nikmatnya sakit yang menyebar di pergelangan tanganmu, betapa dekatnya kepalamu dengan pohon tertinggi yang ada disana, betapa terbuainya hatimu saat berayun-ayun di seutas tali di ketinggian jauh. Menapakki tanah, dan segera ingin kembali lagi kesana.








Barusan banget. Gue dapet mereka sebagai sahabat sejati. Semoga terus begini.
Satu foto lagi,


Inget, tiap Minggu pagi jam 8-12an. Di Saparua.
Sampai jumpa disana!

Thursday, 15 November 2012

Pak mau tanya, kalo Jalan Martadimana dimata ya, Pak?
-Kata Seseorang

Wednesday, 14 November 2012

Nu Gelo

Malam!
Ga bisa dan ga boleh tidur untuk malem ini. Gue lagi disibukkan macem-macem urusan. Sekarang lagi nyusun proposal dan diperibet sama keadaan.
Padahal hari ini gue baru aja nyampe rumah jam 9 malem.
Terbersit tanya: Ngapain aja, gam?
Sekarang satu rutinitas baru mulai masuk dalam hidup gue yang udah penuh dengan rutinitas. Satu event besar lambat laun mulai merambat bagai ombak mencoba mendekat. Perlahan namun sampai.
Rapat demi rapat bakal jadi sarapan, makan siang, dan makan malam gue nanti. Masalah, yang dalam kalimat positifnya gue sebut tantangan, udah penuh numpuk di otak. Segala macam resolusi dan jalan keluar bermunculan. Layaknya calo tiket, maksa-maksa untuk dibeli.
Perlu sedikit renovasi otak, biar tak berkotak-kotak.
Setelah beres dengan segala macam pembicaraan yang bawa emosi, dan sebelum optimisme ngejerat gue ke kekhilafan yang lebih dalam, gue segera caw dari situasi itu. Rehat sejenak menikmati angin malam.
Tempat sasaran kita: warung daerah Cikaso.

Begitu nyampe, gue langsung beli coki-coki. Herdy sama Rizky ngobrol santai sambil maen hape. Tiba-tiba dateng sesosok makhluk jantan dengan muka item, tatapan melotot, wajah Ambon, baju gambar viking,  kepala botak, kulit item, bertelanjang kaki, lengan penuh gelang, dan di kakinya tergantung bacaan "Layak", yang biasa digantungin di kepala hewan qurban.
Wah orang gila, nih, pikir gue. Pada saat itu, Herdy yang udah sadar sama keadaan langsung ngejauh dari lokasi kejadian. Beda nasib sama gue yang lagi beli coki-coki dan malah disamperin sama tuh makhluk.

Makhluk itu berdiri disamping gue yang lagi transaksi coki-coki. Gue ngerasa kalo tuh orang lagi ngeliatin gue. Gue pura-pura sibuk. Tapi ga kuat....
Akhirnya gue nengok ke si makhluk. Ternyata bener, si makhluk lagi ngeliatin gue. Dengan tatapan penuh prihatin, dia nyodorin tangannya. Maksudnya: minta coki-cokinya, dong.
Gue yang emang penuh dengan jiwa pahlawan dan kebegoan, reflek bilang, "Mau?" sambil nyodorin coki-coki dari tangan gue ke tangan dia.

Insting gue mengatakan, nih orang udah mulai jinak. Walaupun mukanya emang nakutin, tapi gue pasti bisa menjinakkan dia dengan sifat menjilat gue. Strategi selanjutnya adalaaah, ngajak si makhluk ces.
Dan ternyata ini adalah strategi yang sangat salah, sodara-sodara!

Begitu gue ngebuka tangan untuk ces, ekspresi si makhluk yang awalnya prihatin tiba-tiba ketawa histeris dan nepuk tangan gue dengan tenaga yang tidak manusiawi. Alhasil tangan gue yang ga tahan nerima tepokan dia hilang keseimbangan, dan tangan dia yang full energi itu masih terus melayang dan kena ke stoples-stoples yang ada di warung. Jadi keliatannya kaya si makhluk ngacak-ngacak itu warung. Warung pun berantakan.

Reflek, gue teriak astagfirullah!! Gue panik banget ngeliat perubahan ekspresi dari si makhluk. Yang asalnya prihatin dan polos, tiba-tiba ketawa-ketawa sambil mukul tangan gue. Setelah tangan dia ngeberantakin stoples, pandangan dia berubah lagi. Jadi melototin gue.......

Gue panik, shock, baru pertama ngadepin beginian. Gue langsung ambil langkah mundur ke jalan raya. Karena emang si makhluk ambon gila itu melototin gue sambil jalan ke arah gue. Gimana ga panik?!?!?
Lutut gue udah lemes saking paniknya. Si gila masih terus melototin gue. Gue udah siap ambil langkah seribu. Tapi untungnya keadaan berpihak pada gue. Gatau kenapa, ternyata si ambon bukan jalan ke arah gue, tapi malah jalan ke arah cikaso dengan matanya yang ga lepas ke mata gue.......

Akhirnya manusia itu pergi. Gue langsung nanya ke teteh warung, orang tadi itu siapa. Dia malah bilang, "Lah gatau, mas. Saya pikir itu tadi temen mas."
Lutut gue masih kerasa lemes, sedangkan Herdy dan Rizky langsung ketawa dengan jumawa. Sebelum dia balik lagi, gue dan kawan-kawan segera cabut dari TKP.

Seberes kejadian itu, seperti biasa kita ulang cerita kejadian makhluk ambon gila tadi. Herdy malah bilang gue sama gilanya kaya dia karena dengan begonya malah ngasih tuh orang coki-coki. Lebih begonya lagi karena gue ngajak dia ces.......

Ya gapapalah hampir dikejar orang gila. Gapapa dibilang temennya orang gila sama teteh warung. Gapapa diketawain dan dibilang bego sama anak-anak.
Gapapa.....
Karena yang terpenting, akhirnya gue sadar. Kejadian barusan itu jadi sebuah refreshing otak gue dari kepenatan. Penat sama planning, penat sama ide, penat sama keteraturan.
Kejadian ini jadi salah satu pengobatnya, selain kamu.

Dasar gila!

Friday, 2 November 2012

Pulang

Perkembangan berkembang tanpa teratur lajunya.
Pesat mengkilat lebih dari pesawat.
Aku yang dulu tak tahu malu kini sudah mulai bisa tersipu.
Aku yang dulu mengikuti kini sudah mulai terbiasa membuat sendiri.
Bahkan orang-orang itu kini malah ikut meramaikan jalananku.
Semua terlihat sama, sama seperti biasanya.
Semua terlihat sama, tapi aku dimana.
Terjebak, memang bukan hal tepat, katamu.
Pulang, kembali, jauh lebih berarti.
Pulang, yang menggambarkan bebas, lepas, tak perlu terjebak.
Dan walaupun satu saat nanti akan pergi, pasti akan pulang lagi.
Seribu betul, pulang memang kata yang tepat.

Sebuah perahu berlabuh di sebuah dermaga. Dermaga unik yang mungkin takkan ada lagi diluar sana.
Dermaga dengan motif bunga, namun dengan pondasi yang sekokoh baja.
Betah, ucap perahu itu.
Ia akan terus mengingatnya, meski tak mungkin untuk terus berada disana.
Mengapa tak diam dan berhenti berlayar?
Kebahagiaan itu sudah kau dapatkan, wahai perahu.
Ia bilang, hidup tak dapat ditawar hanya dengan itu.
Akan tetap ada yang tak diucapkan. Yang lebih dalam dari sekedar makna kebahagiaan.
Tak ingin mengerti, kataku.
Di antara ragam rupa warna wajah yang terlihat.
Tak satupun yang dapat ku rangkul dan peluk.
Karena walau bagaimanapun, meski aku coba pergi, tak akan ada lagi dermaga seindah itu. Tak kuat aku bila harus memaksa pergi dan mencari lagi.

Saturday, 20 October 2012

Tanah Tertinggi di Jawa Barat III

Giiiile ini cerita dari jaman kapan ga beres-beres.
Maapin aim Ya Allah.

Setelah beres makan siang, kita langsung berangkat menuju Pos I.
Perjalanan menuju Pos I bisa dibilang yang paling menakjubkan!
Bener-bener jadi start yang buruk. Baru diawal kita udah dikasih tanjakan dengan track batu dan panas yang terik. Gimana ga ngedown...
Akhirnya yang terjadi adalah: Jalan 5 menit, isitrahat 15 menit...

Dalam pendakian ini, rombongan Luwing (ceilah rombongan cuma bertiga) termasuk rombongan yang paling gaya. Kita daki pake seragam lapangan. Ga lupa sepatu jungle, carrier ukuran 80 L, ada yang pake buffin, iket kepala, dan ga lupa syal yang nolol di saku belakang celana.
Gaaaaaya banget pokonya.
Eh ga taunya.....
Ketika lagi istirahat karena cape, banyak banget rombongan yang turun gunung (baca: mudun) dan berlalu-lalang di depan kita. Senyum sapa tentu saling berbagi antar sesama pendaki. Tapi setelah mereka banyak ngelewat, kita sadar, bahwa sebagian dari mereka ada yang memakai sepatu futsal, mendaki bersama anaknya, membawa barang sekenanya, dan bahkan ada yang bertelanjang kaki. Dan itu ga cuman satu-dua, tapi tiga-empat....
Setelah ngeliat mereka semua, rombongan Luwing saling pandang, dengan muka kayak abis ketonjok Agung Hercules, kita cuma bisa ngerasa kalah dengan mereka. Apa artinya kemeja lapangan, sepatu jungle, syal pendaki gunung dan semua barang gaya ini dengan kondisi mental kita yang belum nyampe Pos I aja udah ngedown.
Dari situ kita bangkit. Kita patok target, pokonya jam 5 harus udah bisa sampe di Pos V!

Sekitar pukul 14.00 kita sampai di POS I.
Pos ini bisa muat untuk sekitar 2 tenda. Pos ini ditandai dengan sebuah saung yang ukurannya kurang lebih 2x2 meter.
Demi mengejar target, kita langsung lanjutin perjalanan ke Pos II.
Track yang awalnya berupa batu-batu kecil mulai berganti menjadi tanah dengan akar-akar pohon yang menghiasi jalanannya. Pemandangan sekitar yang awalnya berupa ilalang dan perkebunan pun berganti menjadi hutan yang cukup lebat. Tanjakannya mulai terasa.
Menurut hasil browsing di google sebelum berangkat, perjalanan menuju Pos II dapat ditempuh dengan waktu satu jam. Namun, dengan kami yang stelan woles, waktu tempuhnya jadi sedikit berbeda.
Sepanjang perjalanan kita bicara dan tertawa. Tak terasa hari sudah mulai senja.

Kita sampai di Pos II sekitar pukul 16.00
Target semula untuk mencapai pos V pada pukul 17.00 pun sirna sudah......
Karena langit sudah mulai gelap, akhirnya kita turunkan target menjadi bermalam di pos III.
Setiap pos di Gunung Ciremai memiliki tanda. Tandanya biasanya berupa lembaran seng yang dipaku di pohon (kita sebut papan) dengan bertuliskan nama pos dan ketinggiannya. Perlu diketahui saudara-saudara, bahwa ternyata papan pemberitahuan tersebut ada yang menandakan itulah posnya, dan ada juga yang menandakan bahwa pos yang dicantumkan jaraknya sudah dekat. Papan yang sebenarnya berisi tulisan POS III, nama, ketinggian, dengan daerah yang cukup luas untuk membuat kemah.
Sedangkan papan yang menunjukan bahwa pos tercantum sudah dekat, biasanya dipasang di sebuah pohon pada daerah yang sempit dan tidak memungkinkan untuk membuat kemah.
Nnnnah! Kita sempat tertipu oleh itu.
Ketika kita mengincar Pos III, kita sempat heran mengapa tempat yang bertuliskan POS III lahannya sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk membuat kemah disitu. Daripada kita berjalanan terus dan belum tentu mendapat spot kemah, akhirnya kita turun lagi dan membuat kemah di tempat yang cukup luas untuk membuat satu tenda.

Kita mendirikan tenda sekitar pukul 17.00, di sebuah spot dekat POS III.
Langusng membagi tugas. Seperti biasa, gue yang selalu mengambil alih dalam membuat makanan dan minuman. Kanggav dan Bani mendirikan tenda.
Setelah semua selesai, kita sempat berdiam diri sejenak. Menikmati hasil jerih payah kami semua. Terasa bahwa kita sedang berada jauh dari rumah. Dan jauh pula dari tanda-tanda kehidupan.
Setelah solat, kita menyantap makan malam. Makan malamnya berupa oatmeal dicampur susu kental manis, dan secangkir kopi untuk menemani. Kita memilih oatmeal karena memasaknya hanya membutuhkan sedikit air. Berhubung persediaan air kita yang terbatas.

Malamnya sekitar pukul 02.00 dini hari, Kangmuf dan Kangfad menyusul ke tenda. Kita sempat tertawa-tawa karena susahnya sinyal disana yang menyulitkan kita untuk berkomunikasi.
Pada saat kita akan tidur, beberapa pendaki terlihat masih mengejar puncak dan melewati kemah kami. Seperti biasa, kami basa-basi dengan menawari makanan atau minuman. Padahal kita udah ga punya makanan dan minuman disana. Hanya biar terkesan ramah sajaaa.

Esoknya, 26 Agustus 2012 - Pukul 06.00
Mentari mulai terlihat dan merambati setiap helai daun yang tumbuh.
Satu-persatu dari kita mulai terjaga. Kaya biasa, Kangmuf yang paling terakhir bangun. Dia bangun sekitar jam 8. Saat makan pagi udah siap.
Padahal rencananya, hari ini kita mau mulai lanjut perjalanan pukul 4 subuh. Tapi Tuhan berkehandak lain.
Sarapan pagi ini: Nasi, kornet, dan sosis bakar. Cukup untuk menambah stamina sampai puncak.

Pukul 10.00
Selesai packing, kita lanjut berjalanan. Dan akhirnya sampai di POS III yang sebenarnya. Ternyata posnya emang luas. Cukup untuk 2 tenda. Setelah istirahat sejenak, perjalanan kita lanjut lagi.
Tanjakan demi tanjakan mulai tak terasa seiring dengan sudah beradaptasinya tubuh kita dengan lingkungan dan medan. Tapi tetep, makin lama tanjakannya makin ganas.
Emang bener kata orang, Ciremai itu ga gampang. Tapi tetep harus dipaksain. Karena hasilnya pun emang ga biasa.

Akhirnya sekitar pukul 12.00 kita sampai di POS IV. Pos ini juga punya lapangan yang cukup luas. Muat menampung sekitar 3 tenda. Kita istirahat lagi, mengingat perjalanan sudah hampir sampai pada titik tertinggi. Menikmati wedang jahe yang dibuat tadi pagi. Jujur, ketika kita mendaki gunung, semua barang bawaan yang kita bawa adalah milik bersama. Tak mengenal ini punya siapa atau itu punya siapa. Pokonya yang terpenting disini, kita berangkat bersama, senang bersama, susah bersama, dan pulang bersama.

Pukul 14.00
Kita sampai di POS V!
Perjalanan menuju POS V sangat menyita energi. Track yang dilalui berupa jalan setapak, dengan tanjakan yang terus-menerus, dan rintangan berupa batu, akar pohon yang besar yang membuat kita beberapa kali harus memanjat. Sangat menantang dan melelahkan, Bung!
Di jalan menuju POS V, kita menemukan sebuah bacaan yang ditulis dengan tipe-x,
"Mama Udin capek...."

POS V berupa lapangan yang luas, cukup untuk 5-6 tenda.
Mengingat ini adalah pos terakhir, kita berpikir bahwa puncak tinggal beberapa langkah lagi.
Sebentar lagi kita sampai! Lagu We Are The Champion sayup-sayup mulai terdengar.
Nyatanya........
Setelah kita sampai di POS V, puncak Gunung Ciremai masih terlihat agung nun jauh disana......

Kita beristirahat dan memulihkan energi. Sambil mengobrol dan berbagi dengan beberapa rombongan yang terlihat baru turun dari puncak. Salah satu rombongan disana ternyata adalah rombongan yang ketika malam tadi bercanda bersama kami di tempat camp. Mereka melakukan perjalanan malam, dan tidak membawa tenda.
Jadi ya gitu, mereka tidur cuma dengan beralaskan matras.
Luarrrr biassssa!
Hasil pembicaraan dengan mereka, puncak hanya tinggal satu jam lagi. Oyeah! Apal mereun satu jam ceuk urang mah sakumaha..
Tapi emang kata mereka, satu jam, cuma tracknya adalah raja dari semua track yang pernah dilalui sebelumnya. Udah bukan berupa tanah, tapi batu dan tebing yang menjuntai dengan jurang di kiri-kanannya. Tanjakan terus tanpa henti, ditemani batu-batu segede rumah.

Jiwa adrenalin kita sedikit goyah. Tapi apa artinya semua perjalanan kalau udah sejauh ini harus nyerah?
Akhirnya setelah mengatur siasat, kita lanjut perjalanan!!
Siasat kita adalah, menyembunyikan ransel di semak-semak. Jadi, kita naik ke puncak cuma bawa dua botol minum dan sebuah golok. Siasat ini kalo bisa jangan ditiru. Karena akibatnya bisa fatal sekali, kawan-kawan.

Dengan segenap tekad dan kekuatan yang tersisa, kita mati-matian untuk terus berjalan. Perjalanan yang kami pikir sudah dekat, ternyata masih menyisakan pengorbanan. Pengorbanan waktu, bekal, dan tenaga.
Tracknya emang gila! Dan panas, boi. Kita istirahat ada sekitar 5-6 kali. Sebelum sampai puncak, kita nemu persimpangan jalan yang brasal dari jalur pendakian lain. Kita daki terus hingga sampai di sebuah tempat yang namanya Goa Wallet. Tapi kita ga mampir kesana mengingat waktu yang terbatas.
Di dekat Goa Wallet, kita nemu bacaan yang ditulis pake tipe-x lagi,
"Mama Udin baru nyampe sini."

Gue merasa perjalanan ini ga ada ujungnya. Tapi gue tetep yakin kalo kita pasti bisa. Bisa sampai di puncak. Bukan hanya puncak gunung ini, tapi juga sampai di puncak perjuangan kita, puncak kebahagiaan kita, dan puncak dalam segala hal yang udah kita taruh di hati dan kepala kita.

Ketika yang lain istirahat dan memandang awan yang mulai berada di bawah mereka, gue perintah kaki dan tangan gue untuk terus mendaki. Puncak hanya tinggal sepelemparan batu, Gam.
Gue liat di atas sana kaya udah ga ada lagi tanjakan. Emang samar-samar sih karena yang gue laluin berupa tebing batu yang terus menanjak ke atas. Pandangan cuma sekitar 5 meter kedepan, karena sisanya ketutup bebatuan. Gue terus berjalan dan percaya. Berjuang. Sedangkan rombongan Luwing lagi makan cha-cha dibawah sana. Gue lanjutin terus langkah yang udah mulai goyah, gemeter nahan sakit, nahan panas, nahan segala hal yang masuk ke pikiran gue.
Gue patok kaki ini untuk melangkah lebih keras dari biasanya, tangan ini untuk menggenggam lebih kuat dari biasanya, mata ini untuk memandang lebih lama dari biasanya, dan hati ini untuk selalu berdoa.

Oh iya, selama perjalanan, banyak kita lalui dengan berdiam karena topik yang dibicarain udah ga ada. Dan karena rasa lelah udah menguasai diri kita semua. Tapi satu yang terus-menerus gue ucapkan dalam hati. Dari mulai awal pendakian sampe sekarang. Yang terus-menerus gue ucapkan adalah shalawat. Di dalem hati tanpa henti.

Anak-anak udah mulai teriak nyuruh gue untuk berhenti sejenak. Gue mah lanjut terus. Percaya kalo puncak tinggal sedikit lagi. Dan akhirnya, ketika tangan ini menumpu badan untuk memanjat ke atas, dan membuat kepala gue berada diatasnya, wuuuuuuuuuuuussshhh!
Angin meniup kenceng banget ke muka gue. Menyegarkan lelah, wajah, dan menghapus segala hal yang udah mulai menyerah. Pemandangan puncak tergelar dihadapan gue. Indah. Puas. Dan menyegarkan.
Asli, kata pertama yang gue ucapkan adalah teriakan penuh semangat.
Ga sia-sia segala perjuangan dan peluh yang menetes. Dua hari yang melelahkan terbayar lunas, tunai, dan tanpa hutang oleh sajian keindahan yang ga bisa diucapkan oleh kata-kata.
Rasa haru, bangga, bersyukur, semuanya melebur menjadi satu. Terkumpul dan menjadikannya sebuah pelajaran yang ga akan ada tandingannya.

Beginilah sebuah perjalanan. Kita ga akan pernah tau apa artinya cape kita, rasa putus asa kita, haus kita, lapar kita, segala kram dan lecet di tubuh kita apabila kita belum mencapai sesuatu yang telah kita patok sebagai sebuah tujuan. Tujuan mengapa saya berada disini.
Bukan gunung yang harus kita taklukan, tapi diri kita sendirilah yang harus kita taklukan.

Pukul 17.00 kita lanjut perjalanan pulang, karena air ini udah ga ada. Perbekalan ini udah habis. Dan karena jiwa ini udah ga tahan untuk menjadi sesuatu yang baru. Kami yang baru.
Terima kasih, Gunung Ciremai.

Si 'Yang Pertama Sampai Puncak'

Kang Fadzrin, Kang Mufti

Bani

Kang Gavin

Perjalanan Menuju POS I


Puncak Ciremai, 25 Agustus 2012


13 Oktober kemarin baru turun dari Papandayan. Semangat Ciremainya mengalir terus!

Tuesday, 16 October 2012

Saturday, 6 October 2012

Tanah Tertinggi di Jawa Barat II

Selamat pagi!
Gue selalu suka pagi. Dimana gelap mulai berganti, embun yang menemani dan angin yang mondar-mandir. Melengkapi kesejukan yang udah jadi hakiki. Kesejukan yang mengawali apa yang akan terjadi. Memang misteri, tapi tak perlu dipikir dan diterka. Cukup jalani bersama pagi.

Sekarang gue mau ngelanjut cerita yang waktu itu sempet tertunda.
Cerita tentang perjalanan menuju tanah tertinggi di Jawa Barat.

24 Agustus 2012 - Pukul 15.00
Gue baru banget pulang dari Darangdan, kampung halaman gue. Gue menghabiskan waktu lebaran disana. Suka cita dalam kebersamaan. Sesampainya di Bandung langsung berangkat ke sekolah. Karena emang udah ada janji dengan Bani, Kang Gavin (Kanggav), dan Kang Mufti (Kangmuf) untuk ngebicarain management perbekalan, dan management perjalanan. Karena besok kita bakal berangkat ke gunung yang maha agung. Gunung Ciremai.

Gunung Ciremai punya ketinggian sekitar 3.078 meter dari permukaan laut (mdpl.) dan merupakan gunung dengan ketinggian diatas 3000m pertama yang bakal gue daki. Hari ini kita packing, sewa tenda, beli senter, dan bagi-bagi tugas bawaan. Rencananya, besok kita berangkat naikin elf jurusan Cikijing pukul 06.00 dari terminal Cicaheum. Yang berangkat naik elf cuma tiga orang, yaitu gue, Bani, dan Kanggav. Kangmuf dan temennya, Kang Fadzrin (Kangfad) berangkat kesana menyusul sore hari karena ada acara kampus, naik motor.

25 Agustus 2012 - Pukul 06.00
Kita bertiga udah kumpul di terminal Cicaheum. Stelan gue udah bener-bener mirip boyband. Dengan kemeja lapangan dan sepatu jungle. Cuma muka gue aja yang bisa nyelamatin gue dari kemiripan boyband ini.


Setelah meriksa barang dan packing ulang, kita langsung berangkat menuju Maja. Tarifnya sekitar Rp. 35.000. Kita bertiga memilih tempat duduk di depan, supaya bisa ketawa dan ngobrol sambil teriak-teriak.
Emang bener, sepanjang jalan kita ngobrol-ngobrol ga jelas. Ketawa ga jelas. Curhat ga jelas. Diem ga jelas. Ngobrol lagi sambil ditemenin keripik bawang, oleh-oleh khas Darangdan yang gue bawa dari rumah. Emang ga jelas. Tapi tujuan kita jelas, ingin menambah satu pengalaman baru dalam hidup kita. Pelajaran yang ga akan pernah ada gurunya.

Pukul 10.00
Setelah ngelewatin Sumedang, Malajalengka, akhirnya kita sampai di Terminal Maja. Dari situ kita istirahat sebentar dan langsung lanjut dengan naik Kolbun (Dolak) ke arah Apuy, desa terakhir untuk ke Gunung Ciremai. Sebenernya dari Maja kita bisa jalan kaki menuju Apuy, cuman tracknya lumayan jauh dan nanjaaaaak pisan. Daripada kita ngedown duluan dan malah pengen pulang, akhirnya kita ambil alternatif naik dolak. Tarifnya Rp. 20.000 untuk 3 orang. Sebenernya tarif asli sekitar Rp.5000 per orang. Cuma gara-gara kita lupa bilang mau ke Gunung Ciremai, jadinya kita sempet dibawa nyasab ke Air Terjun.

Pukul 12.00
Sampai Apuy, kita rehat lagi untuk solat dzuhur di mesjid terakhir. Air di mesjid itu udah mulai dingin dan gatau kenapa airnya bau Indomie. Di mesjid kita diem sebentar sambil ngeliatin kolor dan bra yang lagi dijemur di depan mesjid. Diliat dari warna dan ukurannya, kita sepakat kalo kolor itu punyanya nenek-nenek.
Di mesjid kita makan siang dulu, sebagai cadangan tenaga menuju puncak. Karena kata orang, tracknya Gunung Ciremai itu udah paling juarrraa! Tanjakannya ga abis-abis, ga ada sumber air, plus matahari yang menyengat.

Percakapan waktu makan siang...
"Wes ati ampela, euy. Menta nyak, Gam."
"Iya mangga, kang."
"Naha rada beda nyak euy ati ampela, teh."
"Ngeunah, nyak?"
"Heueuh ngeunah lumayan."
"Hahaa, emang daging entog mah paling juara."
"Hah? Ieu ampela entog?!"
"Hooh."
"ANJRIT, PUIH PUIH!"
"Kalem we atuh euy, da emang ngeunah pisan."
"SUGAN AING AMPELA AYAM! EMBUNG EMBUNG!"
"......."

Setelah beres makan siang, kita langsung berangkat menuju Pos I.
Perjalanan menuju Pos I bisa dibilang yang paling menakjubkan!
Bener-bener jadi start yang buruk. Baru diawal kita udah dikasih tanjakan dengan track batu dan panas yang terik. Gimana ga ngedown...
Akhirnya yang terjadi adalah: Jalan 5 menit, isitrahat 15 menit...


APAKAH YANG AKAN TERJADI PADA LAGAM DAN KAWAN-KAWANNYA?!
MUNGKINKAH MEREKA MENCAPAI PUNCAK TERTINGGI DI JAWA BARAT ITU?!
BAGAIMANA NASIB BANI DENGAN SEPATU PUNYA OM-NYA?!
APAKAH MEREKA TIDAK LUPA MEMBAWA TEMPE?!
SIMAK KELANJUTAN CERITANYA DI POSTINGAN SELANJUTNYA!!!!!

(To be continue...)

Monday, 10 September 2012

Sebongkah Hati


Apa artinya hati tanpa dilengkapi?
Tanpa pelengkap, hati hanya akan mati, hilang terbawa ombak yang bebas.

Munafik

Aku ingin bisa bermain kata tanpa bicara.
Biarlah meski hanya tertawa tanpa harus bahagia.
Hingga bisa tampil dalam satu, dua, dan tiga kampiun.
Buat orang menggaduh hingga mengampun.

Karena aku orangnya munafik. Semunafik aku orangnya.
Tak bisa menampik, silahkan kau culik, hingga hilang luka dan bisa.
Walau tak biasa tapi ini aku adanya.
Semunafik yang berdosa mengampun dosa.
Mencerca, tertawa dan bahagia.
Namun justru menangis saat teriris, dengan tetap sebahagia tawanya.

Semunafik lebah yang ingin tampil berani. Padahal dia mengerti mati.
Namun tak mudah menjadi aku. Berani mencari sampai harus menemui.
Meski yang dicari ternyata merpati: bagai jinak, hendak ditangkap pergi lagi.
Meski yang dicari ternyata tak terdaftar: tak diundang namun datang.
Meski memang itu adanya.

Semunafik aku orangnya.
Serasa peduli padahal mengingkari.
Aku bilang pasti namun masih ada tapi.
Maka jangan coba pandang aku sekali. Seribu kali bila memang ingin tau setengah mati.
Jangan pernah sekali.
Sebab kubilang seribu, padahal masih ada satu.
Apa yang kubilang, menjadi yang kau pandang.

Satu benang bila kau padukan, kan bersatu menjadi satu, menyatu berseru dan kaku. Sesuai prediksimu.
Tidak seperti aku,
Aku rasakan, aku satukan, aku serukan; tunggu, aku putarkan dahulu. Lalu kau dengarkan, kau masukan, kau berkesimpulan, dan kau mati dalam kebingungan. Diantara rasa ingin dan tak mau tau. Diantara rasa percaya dan mencoba percaya.
Aku tau,
Seliar ini pikiranku.
Serusak ini hatiku.

Namun seindah ini beraniku.
Entah apa aku sekarang. Entah apa aku nanti.
Kuharap kemunafikan ini akan membuat satu kekuatan.
Semunafiknya aku, aku masih tau aku siapa. Tak seperti manusia-manusia disana yang seolah tak pernah mengerti buruknya apa. Hanya menikmati hebatnya, bermandi percaya diri tanpa pernah mengerti. Keburukan yang tak disadari hanya membuatnya mati tanpa arti.
Mereka tak pernah ingat, mereka tak berani.

Dan semunafiknya aku,
tak akan pernah berani mengingkari rasa.


Saturday, 8 September 2012

Natalie

Selamat Malam.

Hari ini melelahkan yang menyenangkan, membahagiakan, menyadarkan, mengingatkan, dan menyempurnakan. Tapi tetep dalam kata melelahkan.

Begitu pulang dari Pelatihan Kepemimpinan di Secapa selama 6 hari, langsung harus berangkat lagi ke studio. Padahal otak dan hati ini sudah harus segera mencari telinga untuk bercerita dan berbagi pengalaman.
Tapi gue harus berangkat. Begitu liat motor mio ga ada di garasi, langsung mendadak bodo.
Tapi untung ada sesuatu yang bikin gue ngerasa beruntung jadi bodo.
Namanya Natalie.

Natalie itu tipe yang gampang disayang. Ga gampang dilepas, walau seribu rintang berada diantara kita. Ga gampang juga diurusnya.
Karena dia juga gampang ngambek, gampang pundung, ga pernah mau diajak jalan kalo belum panas.
Dia emang bener-bener tipe yang gampang disayang. Dan sekali jatuh cinta, ga akan ada orang yang berani ngelepasnya.

Ibarat mawar.
Indah tetapi tidak mudah.
Natalie punya keistimewaan tersendiri.

Malam ini, Natalie-lah yang bertugas mengantar gue kesana-kemari karena mio entah sedang berada dimana. Kita berkeliling dan jauh bercerita tentang malam ini. Malam Minggu.
Berkelabat bersama Natalie di meriahnya jalanan. Temaram lampu menjadi bingkai dalam berbagi cerita. Gue emang selalu cerita ke dia. Walau tanpa kata, tapi kebersamaan kita sudah cukup untuk saling bercerita. Diam yang kita ciptakan itu agung, kokoh, bagai gunung menjulang yang dilihat dari kejauhan.
Keindahanmu membawa senyuman yang telah lama padam.
Walaupun kau bukanlah milikku, Oh Natalie....



Natalie, motor produksi tahun '80, milik kaka ipar.


Thursday, 30 August 2012

Iseng Rekaman

Malam, baruduk!

Mohon maaf sebelumnya, postingan yang satu ini bakal jadi selingan dari postingan yang sebelumnya yang udah gue janjiin bakal ada lanjutannya.
Maap karena namanya juga nulis, pasti lebih semangat kalo bahan tulisannya fresh. Ibarat susu yang lebih enak kalo dalam keadaan fresh #ambigu....

Okay sip, sekarang gue cuman mau laporan seputar hari ini sekaligus berbagi cerita dan berbagi kasih kepada semua pembaca setia yang selalu tabah diberi kata-kata tidak bermutu dari gue.
Hari ini gue latihan band. Padahal kemarennya baru aja ngisi acara di alcatraz (Lucky Square, ada yang tau?).
Kenapa latihan ini dilaksanakan sehari setelah ngisi acara?
Ga tau karena kepingin ato karena bego.
Yang pasti setelah ngisi acara kemaren, kita sepakat untuk latian besoknya pukul 11 di studio tercinta, Vandani Music Studio.

Tujuan untuk latian ini adalah menyempurnakan sebuah lagu yang sekarang sedang dalam proses penciptaan. Untuk lagu yang ini, kebetulan gue yang bikin. Jadi sebenernya dari semua personil mungkin gue yang paling semangat kaya anak SD dapet hadiah dari ciki jari-jari.

Selama proses latian tadi, hasilnya sekalian gue rekam juga. Hasilnya tapi masih jelek. Tempo masih acak-acakan dan instrument belum lengkap.
Padahal kita udah ngulang rekaman beberapa kali, ada mungkin 213 kali mah.
Akhirnya pas lagi stres dan cape, kita stop dulu fokus ke satu lagunya. Kita iseng genjreng-genjreng dag-dig-dug neng-neng-nong-neng syalalala sambil ketawa-ketawa. Pas lagi genjreng-genjreng ga jelas gitu, justru malah tercipta satu aransemen dari lagu Bubuy Bulan (ga tau kenapa tiba-tiba kepikiran lagu ini).
Dan aransemennya ngaco abis.......
Suara gue disana juga cempreng banget karena nada dasarnya ga disesuain.
Tapi itu justru jadi penawar sendu.

Setelah beres berudar-ider ngaco, kita lanjut lagi proses rekaman. Walau hasilnya masih jauh dari sempurna.
Jadi dari rekaman hari ini, kita,
Lagam - Gitar, vokal
Tommy - Vokal
Ijar - Drum
Evan - Piano
menghasilkan dua lagu. Dan dua-duanya ancur.
Plus satu lagu cenat-cenut aransemen bareng hani dan ilham yang dulu ngebawa kita lolos audisi di SMAN 2

Check this out...




Tolong komentarnya....

Monday, 27 August 2012

Tanah Tertinggi di Jawa Barat

SELAMAT MALAM!

Banyak rangkaian kata yang bisa dijadikan awal pembicaraan. Banyak pula yang di dalamnya tersimpan basa-basi yang sebenernya tak wajib disampaikan. Kaya kata-kata yang baru gue tulis setelah kata selamat malam di atas. Gak ada nyambungnya sama tema postingan gue kali ini.

Tapi apa salahnya?
Toh kalian juga belum tau gue mau ngepost apaan.
Segala sesuatu yang baru diawali mungkin punya beribu persepsi. Dengan hanya satu persepsi yang bakal jadi kenyataan di akhirnya nanti. Oleh karena itu, silahkan bayangkan ribuan persepsi sebelum membereskan suatu hal. Dengan didukung oleh prosesnya, persepsi yang kita buat akan semakin runtuh hingga jadi satu yang mungkin gak pernah terbayangkan untuk jadi persepsi utama.

Ga ngerti? Namanya juga basa-basi.

Yap! Apa yang udah kalian lakukan selama liburan kali ini?
Adakah sesuatu yang baru yang mungkin menjadi rutinitas untuk kedepannya?
Kalo gue ada.

Mari kita simak.
Hal baru yang gue lakukan menjelang Idul Fitri...
Eh minal aidin heula, barudak!
Adalah mencukur kumis.....
Gue pikir setelah kita mensucikan hati dan pikiran selama Bulan Ramdhan, fisik kita juga harus bersih dan suci. Mencukur kumis adalah salah satu contoh yang patut dicontoh. Tapi kesangaran muka gue mesti direlakan.....

Sekedar info, tadi subuh, sekitar 21 jam yang lalu, gue baru pulang ke Bandung.
Bukan pulang dari kampung halaman.
Tapi pulang dari kampung keindahan.
Gue baru pulang dari tanah tertinggi di Jawa Barat.
Dengan 4 rekan seperjuangan.
Dengan jarak yang tak pernah sungkan.
Dengan tanjakan demi tanjakan yang menantang.
Dengan haus yang menerpa kerongkongan.
Dengan puji syukur yang tak tertahankan....

Gunung emang punya keindahan tersendiri yang ga pernah bisa tuntas untuk diceritakan.
Kuasa Illahi yang menaungi setiap pijakan memberikan kenikamatan melalui suguhan khas dari alam.
Malem ini, setelah pulang, banyak banget palajaran yang ikut kebawa pulang.
Gimana caranya kita mengefektifkan waktu hidup kita.
Gimana caranya kita belajar menghargai sesuatu.
Dan masih banyak lagi.

Okay, cape.
Ga konsen banget untuk nulis.
Catetan perjalanannya kita tunda sampe besok atau lusa atau setelahnya deh, ya.....
Pasti pada penasaran ya? Saya tau, ko.
Pasti pada ga sabar nunggu ceritanya ya? Jelas, saya tau.

Biar tambah penasaran, satu foto, deh.


Thursday, 9 August 2012

Dengan Lagam Kami Tenteram

Selamat malam, sobat.

Judul diatas adalah slogan gue dalam berkampanye. Kalian tau kampanye buat apaan?
Pokonya dalam kampanye ini gue didukung oleh beberapa manusia yang disebut sebagai "Tim Sukses".
Gue bukan nyalonin sebagai ketua RT, ketua karangtaruna, atau ketua PKK.

Di dalam kampanye ini, gue diharuskan untuk membuat suatu visi dan misi dangan harapan perbaikan di masa depan. Visi dan misi tersebut kemudian harus didukung dengan suatu program kerja, sebagai tindak realisasinya.

Gue punya 5 kandidat yang disebut sebagai lawan / rival gue dalam meraih posisi.
Mereka semua punya visi dan misi yang jelas, terukur, dan terpercaya. Sedangkan gue malah punya visi dan misi yang terkubur, terpuruk, dan tersungkur.
Oleh karena itu, satu-satunya hal yang bisa gue andalkan untuk melawan ke-5 kandidat tadi adalah dengan kepercayadirian dan ketidakmaluan gue. Jadi ketika kampanye, cuma Tim gue satu-satunya yang menggunakan semacam koreografi dalam penyampaian visi & misinya. Ga lupa, kita juga menampilkan sebuah trademark dari tim kita. Yaitu kumis. Jadi ketika kampanye, semua anggota tim gue pada pake kumis palsu, yang lebih keliatan kaya daki...

Pokonya satu hal yang gue tekankan ketika berkampanye bukanlah agar orang mengerti dan percaya. Melainkan agar orang takjub dan ga nyangka. Gue cuma pengen mereka inget pada apa yang udah gue tampilkan. Bukan soal materi yang disampaikan, tapi lebih pada kemampuan gue dalam ngacablak.

Begitulah! Gue berdiri disini untuk suatu perubahan yang nyata, untuk suatu pembelajaran, untuk suatu hal yang bakal gue jadikan pedoman, dan bahan cerita untuk anak-cucu nanti.
Bukan suatu kemenangan yang akan dibawa oleh kita sampai tua, melainkan suatu cerita dan pengalaman yang nyata.

Dukung gue, Muhammad Lagam Alfaruqi #6.
Bersatu kita bau!


Tuesday, 31 July 2012

Kepo

Selamat menjalankan ibadah puasa!
Mohon maaf baru ngepost sekarang. Karena ternyata bulan puasa malah menambah aktifitas dan merubah rutinitas. Yang biasanya bangun jam setengah enam jadi harus bangun jam setengah empat. Yang biasanya minum kopi tiap pagi jadi minum angin. Yang biasanya makan bubur jadi makan hati. Yang biasanya.... cukup.

Alhamdulillah gue bersekolah di SMAN 14 tercinta yang memberi banyak sekali libur kepada setiap umatnya. Hari libur gini biasanya nonton ftv sampe mampus. Atau beli nasi padang dan makan sampe meletus. Atau mentok-mentoknya ya paling baca buku sampe bodo.
Tapi kali ini lain, boi! Gue coba mengisi waktu dengan ngepoin (asal kata: kepo) komputer di rumah. Gue liatin satu-satu folder-foldernya si kaka, si ai, si mang andri, si mama, dan folder gue sendiri.

Kepo itu seru ternyata, pemirsa! (so'-so'an baru tau...)
Sensasi yang kita dapat ketika mengetahui suatu hal dengan usaha sendiri. Sedikit melawan privasi orang lain yang justru bikin sensainya jadi makin terassa.
Gue bakal publish beberapa hasil kepo gue.

Di kompi, gue nemu foto narsis si ai. Jadi dia nyoretin pensil alis ke atas mulutnya, ceritanya supaya dia punya kumis. Terus dia foto-foto dengan kumis palsunya.
Mungkin dia sadar, bahwa lelaki berkumis itu seksi.





Beralih ke folder yang lain.
Gue coba-coba masuk ke folder Mang Andri. Kalo lagi ngobrol ke temen-temen, Mang Andri ini biasanya gue ceritakan sebagai 'Paman' atau 'Oom'.
Beliau adalah penyuplai barang-barang pinjaman dalam hidup gue.
Motor, gue suka minjem ke dia. Tas sekolah yang sekarang gue pake, dapet dari dia. Jaket, beberapa gue pinjem dari dia. Begitu juga dengan celana jeans, polo shirt, jam tangan, head lamp, sarung tangan, sepatu futsal, kolor.......
Ini serius. Banyak banget barang-barang yang suka gue pinjem dari dia.

Begitu masuk ke foldernya, gue ngeliat ada sub-folder dengan judul "Ubud".
Dalam pikiran gue: EDAAAAAN SI MAMANG UDAH PERNAH KE UBUD!

Gue langsung masuk ke folder Ubud itu. Di dalamnya ada banyak foto-foto dia dengan background sawah. Gue perhatiin satu-satu.
Ternyata......
Itu ubud kw!
Gue tau persis kalo foto-foto dengan background sawah yang dinamai Ubud itu diambil di Purwakarta!
Penipu kelas teri...


Emang yang namanya kepo tuh kaya ngemil. Makin lama makin ketagihan.
Tapi tetep harus hati-hati dan sadar diri, bahwa hal-hal yang belum kita ketahui itu bersifat liar. Ada yang bisa dijinakkin, ada yang engga. Karena itu, ada yang bisa bikin kita ketawa ngakak, ada juga yang bikin kita sakit hati mendadak.
Selamat berkepo ria!

Friday, 29 June 2012

Narsis

Masa lalu merupakan sesuatu yang membuat otak memiliki fungsi. Sebagai penyimpan memori. Memori yang kita maksud tak lain dan tak bukan adalah masa lalu itu sendiri.

Semua orang punya masa lalu.
Sebagian orang menganggapnya kelabu. Sebagian lagi menganggapnya penawar sendu.

Masa lalu sering kali bersifat terbalik. Terbalik dengan keadaan yang ada kini.
Hal itu bisa dibilang baik, bisa dibilang tak diingini.

Kalian pada penasaran ga sih, gue waktu SMP kaya gimana?
Pertama kali masuk SMP dulu, gue baik.
Ganteng.
Ga pernah mabal pelajaran.
Ga pernah jajan diluar waktu istirahat.
Sopan santun terhadap guru.
Akrab terhadap sesama.

Wujud gue waktu pertama kali masuk SMP kurang lebih seperti ini,


Begitu mulai mengenal kehidupan SMP, melalui adaptasi dan seleksi alam, gue malah tambah baik....
Diangkatan 2011, bisa dibilang kalo gue sebagai "Man of The Year".
HAHAHAHAHAHA!!
Muka dan kelakuan yang amburadul aja bisa jadi Man of The Year, boi.

Penampakan gue waktu menjelang masuk SMA,


Foto di atas, mulai memunculkan sosok "Singa" dalam diri gue.
Singa yang melambangkan kepemimpinan, sangar, berani, bertanggung jawab, keren, tampan, kalem, tatapan mengendalikan, apa lagi?
HAHAHAHA!

Pokonya dalam setiap fase kehidupan, tentu kita mengalami hal yang dinamai kemajuan. Tapi jangan sampe lupa, bahwa sesuatu yang tinggi itu pasti bermula dari pendek. Akhir pasti memiliki awal.
Jangan pernah dipisah atau dikelaskan. Karena dulu dan sekarang itu saling berikatan. Saling keterkaitan.

--

Pernahkah kalian memandang cermin dan melihat lamat-lamat, bagian fisik mana yang mencirikan identitas kita? Atau sifat dan kelakuan mana yang mencirikan watak kita?

Bandingkan diri kalian yang sekarang dengan 2 atau 3 tahun yang lalu. Adakah ciri identitas itu mengalami perubahan?
Penasarankah kalian dengan proses apa yang telah merubah diri kalian? Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dalam bentuk cara memandang, cara menatap, cara bicara, cara mengambil sikap, cara berteman, cara mengemukakan pendapat, cara menyelesaikan suatu masalah, dan cara menatap kehidupan.

Tahap kehidupan emang susah untuk dianalisa.
Maka nikmati saja, lah. :)

HAHAHA!

Before - After

Wednesday, 20 June 2012

Sunday, 17 June 2012

Seni

Seni Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
1) halus atau lembut; (2) seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya dan keindahannya) seperti tari, lukis, ukir dan sebagainya; (3) kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi (luar biasa); (4) orang yang berkesanggupan luar biasa.
Seni.
S-E-N-I.

Mari kita berkelakar tentang seni.

Salah satu bahan yang ga punya jalan buntu.
Meski kau coba mencarinya dalam urutan waktu.
Tidak akan dapat walau kau renteti satu-satu.
Malah bikin nyeri huntu.

Abstrak emang, yang dimaksud dengan seni tuh apa.
Tapi terkadang dalam beberapa sekmen hidup, kita bisa paham beberapa kata yang sebenernya sulit untuk dijabarkan. Apalagi bila dijadikan bahan ulangan.
Dalam setiap percakapan yang kita lakukan, banyak kata-kata yang melesat. Dari satu sampai seribu. Mengalir deras hingga membekas. Dan bekas itulah yang kita pandang dalam setiap lamunan.
Sadar ga, bahwa yang kita pandang hanya bekasnya saja. Dalam kata lain, yang kita ucapkan hanya sebatas kita tau. Sebatas lewat tanpa arti. Tanpa pernah kita mengerti.

Mencari arti memang bagaikan mencari bintang mana yang paling terang. Ketika kita dapati satu, ternyata masih ada seribu. Begitu seterusnya.

Kelakar kita masih tentang seni.
Kini mari kita berimajinasi.
Baca hari-harimu yang telah lalu. Lihat saat kau menemukan sebuah lagu. Ketika kau telusuri dan hayati lagu itu.
Hingga akhirnya kau mulai bernyanyi.
Bernyanyi...
Lepas...
Ada seberkas kepuasan yang kau rasakan...
Tak peduli dengan orang lain yang mendengar...
Hatimu mulai bergetar...
Dan kau terpejam. Matamu menutup sambil terus bernyanyi. Melalui nada tinggi. Nada rendah.
Getaran itu semakin menjadi. Dan ketika lagu itu kau akhiri, ribuan rasa lega dan tularan perasaan dari lagu tersebut menghujani nuranimu. Jiwamu telah terbawa. Tertebak angin. Indah atau tidaknya telah dapat kau rasakan.

Itu tadi, bila kau bernyanyi.
Sama halnya ketika kau menari, memetik gitar, menggambar, bermain peran, bermain band, atau membuat puisi...
Mulut, tangan, kaki, mata, dan pikiranmu menggeliat kesana-kemari. Tapi jauh dari itu, jiwa dan hatimulah yang sepenuhnya mengambil peran.

Dialah yang membuat matamu terpejam,
Hatimu bergetar,
Imajimu melayang-layang,
Dan dia pula yang menurunkan pengahayatan dalam hatimu.

Seni, dapat lebih dalam dipahami melalui hati. Karena dialah yang membuat seni itu ada.

Selamat malam dan terus berkelakar.




 

Sunday, 10 June 2012

Sangar Bermawar


Kenapa judulnya sangar bermawar?
Karena difoto itu, si orang lagi megang mawar dengan celana compang-camping
Lah, sangar dari mananya?
Ya menurut gue sangar aja ._.
Alay lo.

Sunday, 3 June 2012

Keluarga

Ehehei! Lama banget ga ngebacot di blog. Akhir-akhir ini lagi banyak pikiran, boi.
Kita mau bahas apa ya? Eh, belum pada tau keluarga gue ya?
Kita bahas itu aja kali ya? Boleh lah kita umbar satu-satu.

Kaka
Namanya Gardea Ekayatni. Dia adalah anak pertama dari pasangan Yayat Ruhiyat dan Heni Setianingsih. Lahir tanggal 7 Desember 1989. Satu-satunya anak yang lahir di Purwakarta. Dan satu-satunya anak yang gak ada nama islami dalam namanya. Sampe-sampe dia sempet pengen namanya diganti jadi Siti Gardea Ekayatni.

Menurut gue, dia punya pola pikir yang idealis. Gak suka neko-neko. Suka hal yang simple tapi dalam persepsi yang rumit. Apapun jalan yang dia ambil selalu berbeda dan baru. Itu yang jadi nilai lebihnya. Unik dan kreatif.
Ah dari tadi dipuji muluuuu!

Oh iya, dia punya kegilaan sama kolor. Kalo lagi jalan-jalan sama si mama tuh ya, tiap pulang pastiiiii bawa kolor baru. Padahal minggu kemarennya baru aja beli. Dari mulai warna pink, biru muda, kuning, sampe putih muda.



Gue
Namanya Muhammad Lagam Alfaruqi. Lahir tanggal 17 Januari 1996. Pokonya gue yang paling sempurna diantara semuanya. Walaupun gue yang punya bakat tinggi badan lebih kontet dibanding si Ai, jidat yang lebih lebar daripada si Kaka, mata lebih belotot daripada si Mama, dan bulu-bulu yang merambat buas melebihi siapa pun yang ada di keluarga ini.....



Ai
Namanya Muhammad Rai Trifadlih. Sempet dipanggil 'Ai Otok'. Lahir tanggal 20 Juli 1999. Dia adalah sosok adik yang menakutkan. Dia satunya-satunya anak yang punya hobi berbeda dari yang lain. Gue sama si kaka suka baca buku, dia sukanya ngadu ikan cupang. Gue sama si mama sukanya masak, dia sukanya ngabisin masakan orang. Dan ada satu lagi hobi dia, yaitu mengompol. Padahal usianya sudah menuju akil baligh.......

Si Ai ini adalah anak yang sangat tidak berbakti kepada orang tua. Dia yang paling sering berantem sama mama. Padahal cuma masalah ucapan 'Assalamualaikum' yg kekencengan aja bisa jadi bahan amukan badai sama si mama.

Oh iya, si Ai ini adalah pewaris murni wajah si Ayah. Mukanya 98% mirip Ayah. Sikap dan kebiasaannya juga 80% mirip. Dibanding gue yang lebih mirip pembantu. Menurut gue, dia adalah duplikat dari Ayah. Ternyata dulu Ayah seliar ini....

Panggilan sayang ai kepada gue adalah 'Bogam'. Tanpa sopan santun dia suka manggil gue bogam sambil teriak-teriak udah kaya manggil maling kolor aja.


Mama
Namanya Heni Setianingsih. Lahir tanggal 21 Juli gatau taun berapa. Tanggal lahirnya cuma beda sehari sama si Ai. Beliau adalah orang yang paling gue junjung tinggi keberadaannya disamping Ayah. Beliau ngebesarin anak-anaknya sendiri setelah kepergian Ayah sekitar 4 taun yang lalu.
Hobinya adalah musik, didukung oleh latar belakangnya yang seorang guru seni musik di SMPN 49 Bandung. Bakat musik gue mengalir deras dari darah mama dan ayah yang sama-sama bisa disebut seniman.

Beliau punya obsesi untuk ngejadiin gue artis. Beliau tuh pengen banget gue tampil di setiap acara. Salah satunya adalah, ehem, Idola Cilik. Oke oke buka rahasia dikit, gue dulu pernah ikutan audisi Idola Cilik. Dan yah seperti yang kalian duga, gue ditolak di audisi tingkat awal. Padahal apa sih yang kurang dari gue sang titisan Michael Jackson ini.

Pernah disuatu pembagian rapot gue bilang,
"Ma, kayanya di acara bagi rapot ntar agam ga jadi manggung."
"Apwah?!! Pokonya kalo kamu ga manggung, MAMA GA MAU NGAMBIL RAPOT!!"
Dahsyat..

Tapi gue janji, nanti kalo gue udah jadi musisi atau orang sukses, dan suatu saat ada pers yang datang mewawancarai gue. Gue ditanya,
"Siapa yang jadi motivasi anda dalam mencapai kesuksesan ini?"
Gue bakal jawab mantap sambil nunjuk ke arah kamera, "Mama".



Ayah
Namanya adalah Yayat Ruhiyat. Lahir tanggal 12 April lupa taun berapa. Beliau yang mewariskan sikap kepemimpinan kepada anak-anaknya. Beliau punya watak yang kokoh, tegas, berwibawa, tapi seringkali kocak dan konyol. Itu yang bikin beliau tampak disegani sekaligus dihormati.

Ayah meninggal tanggal 22 April 2009. Meninggalkan banyak hal yang belum terselesaikan. Begitu dia pergi, gue sadar betapa pentingnya sosok seorang Ayah. Yang paling gue rasain itu adalah hilangnya sosok narasumber dalam hidup gue. Gue jadi ga tau harus nanya tentang puisi kepada siapa. Nanya tentang cara melihara burung kepada siapa. Cara merawat jam tua kepada siapa. Tentang cara menjadi pemimpin yang baik kepada siapa. Dan masih banyak lagi hal-hal yang ternyata belum sempet gue tanyain pada dia.

Tapi walaupun dia udah ga ada. Gue yakin kalo jasa-jasanya masih tetep ada. Usaha yang udah dia perbuat selama hidup pasti bakal melebur pada anak-anaknya.
Ayah dimakamkan di Rancaekek, kampung halamannya.


---

Seburuk dan separah apapun kalian mengambil pandangan tentang keluarga, kalian hanya akan berputar-putar pada satu roda yang kemudian kembali lagi pada persepsi awal bahwa tiada yang lebih baik di dunia ini dibandingkan kehadiran keluarga. Tak ada moment yang lebih indah dibandingkan dengan acara berkumpulnya keluarga sambil mengobrol santai di hari libur. Membicarakan hal-hal sepele yang membuat kita lebih akrab satu sama lain. Karena tak ada lagi level akrab yang harus kita tembus.

Semoga kalian membaca ini dalam keadaan sesejuk seruputan teh hangat buatan mama di waktu yang dikhususkan untuk berkumpul.



Monday, 28 May 2012

Friday, 20 April 2012

Mimpi












"Apa nama bandnya?"
"Maroon 5"
"Band apaan tuh?"
"Band yang bakal sepanggung dengan gue nanti"