Wednesday, 23 October 2013

From Zero to Hero I

Malam!
Lama kita tak bercerita. Nampaknya lampu-lampu mulai menua dan tak lagi berusaha untuk terang ceria.
Banyaaaak banget pengalaman luar biasa yang hilir mudik silih berganti mengisi dan menerangi jiwa sepi yang senantiasa mencari arti dalam sebongkah hati #halah

Oke! Kita bercerita! Mari berceritaa!

Sebelum mulai, ada beberapa tips dari gue yang ada baiknya kalian turutin.
Siapkan cemilan.
Siapkan segelas air putih.
Siapkan segelas kopi atau teh manis yang ga terlalu manis.
Siapin playlist Payung Teduh satu album, play.

Ini sebuah cerita tentang perjalanan, boi. Perjalanan yang udah direncanain sejak Maret 2013. Ini dimulai hari Senin, 12 Agustus 2013. Berawal dari Stasiun Kereta Api Bandung, Pulau Sempu, hingga Mahameru. Kami sepakat ngasih nama perjalanan ini From Zero to Hero.

12 Agustus 2013
Gue, Kang Gale, dan Kang Gavin berkelana seperti kera sakti mencari kitab suci. Gue tentunya jadi Sun Gokong. Kang Gale jadi Tom Sam Chong, deh. Dan Kang Gavin jadi Chu Phat Kai MUAHAHAHA.
Kami bertiga naik kereta ekonomi menuju Malang. Kota yang konon katanya disebut sebagai Bandungnya Jawa Timur. Sebenernya gue penasaran di Kota Malang ada gak ya yang jual Baso Malang?

Waktu kita udah ada di dalem kereta, carrier udah disimpen rapi, dan udah ambil posisi duduk manja, tiba-tiba datanglah sesosok ibu-ibu dan bapak-bapak yang serta-merta tanpa aba-aba bicara ke kita.
"Dek, pergi bertiga?"
"Iya, bu. Hehehe." biasanya biar terkesan akrab diakhir kata selalu pake 'hehehehe'.
"Wah kebetulan, saya mau nawarin sesuatu, dek."
Gue udah punya firasat ini Ibu-ibu pasti mau minta foto.
"Jadi gini, dek. Adek bertiga mau gak duduknya tukeran sama anak-anak saya dari kelas bisnis?"
Kita melongo.
"Serius, Bu? Wah gak enak loh bu di ekonomi.." Kang Gale mencoba menyadarkan si Ibu yang kita pikir lagi mabok duren.
"Iya serius, dek. Anak-anak saya soalnya duduknya kepisah di bisnis. Kita pengennya bareng-bareng. Tapi kalo adek ga mau juga gapapa," Si Bapak ngeyakinin kita.
Kita sebagai makhluk tampan yang ngerasa lagi dapet berkah langsung setuju dan pindah ke kelas bisnis.
Wuiiiiiih gileee kita pake bisnis, men!

Setelah menebar senyum ke seluruh sisi gerbong kereta bisnis, kita duduk bertiga di kursi yang harusnya dipake berdua. Satu kursi di depan emang sengaja ga kita dudukin dulu. Biar bisa ngobrol-ngobrol dulu sebelum tidur.

Kita sepakat bahwa dalam sebuah perjalanan, kebersamaan adalah hal pokok yang harus dijunjung tinggi. Karena dengan kebersamaan itulah kita bisa benar-benar menikmati indahnya perjalanan.
Menunggu kantuk tiba, kita isi waktu dengan mengulang permainan jaman baheula. Dimulai dari permainan 'Gagarudaan ada liiiima!',
'Stum tombak cakar baaaanteng!'
'Bom bas ter weeeer wit!'
Sejenis permainan garing yang pasti ngundang ketawa.
Tak lama malam kian gelap. Kita yang awalnya melawan arah terhadap kesunyian pada akhirnya menyerah.
Saatnya tidur, saatnya salah satu dari kita pindah ke kursi depan supaya posisi duduk memungkinkan untuk bisa tidur. Namun pemirsah, begitu salah satu dari Tim Tampan ini mau pindah, ternyata si Bapak Berjersey MU yang tadi sore duduk manis sekarang udah tidur manja menuhin tempat duduk.
Emmmanis.

Wuah! Kelas bisnis, men!


13 Agustus 2013
Pagi tiba.
Langit telah mencuri kembali matahari dari selimut malam.
Dalam obrolan singkat di awal pagi ini dengan Bapak Baik yang duduk di samping Teteh Cantik, kita memutuskan untuk ga turun di Stasiun Malang. Tapi kita turun di Stasiun Kepanjen. Karena menurut si Bapak Baik yang duduk di samping Teteh Cantik, Pulau Sempu itu jaraknya lebih dekat dari Kepanjen dibanding dari Malang. Alhasil, kita langsung siap-siap untuk turun si Stasiun Kepanjen yang jaraknya udah deket.

Kereta berhenti. Setelah pamit dan bilang terima kasih, kami turun dari kereta. Dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup gue menapakkan kaki di Jawa Timur. Akhirnya salah satu cita-cita gue terwujud. Cita-cita gue yang belum terwujud berarti tinggal nonton bioskop di Trans Studio Mall.

Kita memutuskan untuk sarapan dulu. Ada bacaan di spanduk depan warung yang narik perhatian kita. Rawon, Pecel, Soto, Rp.5.000.
Sergap.
Beres makan, kita sok-sok akrab gitu sama si masnya. Sekalian nanya-nanya arah ke Pasar Turen, tujuan kita selanjutnya. Kalo lagi merantau, skill kita bersosialisasi sangat sangatlah berguna. Jangan pernah malu untuk nanya. Biasanya orang selalu berbaik hati ngasih rute atau tips jalan-jalan ke kita yang nenteng-nenteng carrier. Dengan petunjuk dari Mas Tukang Rawon, akhornya kita naik angkot ke Gd. Legi, dilanjut ke Pasar Turen. Di pasar nanti bakal ada angkutan yang bisa ngebawa kita ke Pantai Sendang Biru. Pantai Sendang Biru itu dermaganya kita menuju Pulau Sempu.

Akhirnya kita sampai di Pantai Sendang Biru setelah melewati jalanan yang jaraknya nyampe 80 kilometer.
Gue lupa nyampe jam berapa, tapi gue inget begitu nyampe Pantai Sendang Biru gue sempet shalat dzuhur dulu. Jadi, ya, sekitar jam 13.00 kita sampai.

Satu hal yang kita tau, untuk bisa ke Pulau Sempu, kita harus dapet izin dulu dari petugas pengelola pulau. Dan perizinannya sangat ribet. Kita kaya ditahan-tahan ga boleh pergi gitu kecuali kita pake guide. Dia nawarin guide itu dengan kisaran harga 150-200rb. Kita lebih milih ga pake guide dan si petugas terus-terusan ngalangin. Sampe akhirnya keajaiban itu tiba dalam tubuh seorang mas-mas Jawa lulusan ITB. Dia juga mau ngurusin ijin ke Pulau Sempu untuk rombongan dia yang jumlahnya sekitar 15 orang. Si petugas ngalang-ngalangin si mas Jawa juga. Mas Jawa keukeuh gamau pake guide dengan alasan udah pernah kesana sebelumnya, dan diperkuat dengan dia katanya bawa GPS. Si petugas keukeuh nyuruh pake guide dengan alasan tracknya sudah berubah drastis.
Wuiih sedrastis cintaku padamu, kah?

Kita yang diem nonton akhirnya ikutan maksa si petugas untuk ngasih ijin. Sampe akhirnya kita diijinkan. Serasa angin pantai mengayun-ayun mesra jenggotku.

Biaya perahu tuh kalo ga salah 100 ribu satu perahu (Pulang-Pergi).
Pada kenyataannya, ternyata yang dimaksud 'rombongan' oleh si Mas Jawa adalah 15 orang saudara yg isinya papah, mama, kaka, adik, uwa, bibi, ponakan, anaknya kaka, anaknya ponakan, anaknya istrinya kaka, pembantu istrinya ponakan kakanya ibunya dari neneknya yang kedua. Lah kenapa juga gue bahas..
Mereka semua punya tatapan yang sama ke kita bertiga: ni orang pasti mau ganggu liburan kita.
Kita yang udah baca situasi akhirnya memutuskan pergi menjelajahi Pulau Sempu bertiga!
Horeeee. Zero dari "From Zero to Hero" tinggal sesebrang lagi kita gapai!



Tuesday, 22 October 2013

Tuesday, 30 July 2013

Tidurlah


Akhirnya malam tiba juga
Malam yang kunantikan sejak awal
Malam yang menjawab akhir kita
Inikah akhir yang kita ciptakan

Dan pagi takkan terisi lagi
Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya
Membangunkan orang tanpa membagi
Sedikit asmara untuk memulai hari

Tidurlah
Malam terlalu malam
Tidurlah
Pagi terlalu pagi
Tidurlah
Malam terlalu malam
Tidurlah
Pagi terlalu pagi

Friday, 19 July 2013

Payung Teduh

Hujan turun…
Ada yang malu
Berbisik dalam kerinduan yang fana
Dia berkata jangan datang terang dan terik
Biarkan fana ini bertahan sejenak…

Payung teduh  itu bikin merinding. Karena setiap lagunya pernah jadi latar alunan di semua cerita masa-masa SMA. Di kelas, di sekre, di jalan, di pantai, di gunung, di kampung orang, di tempat camp, di tenda, di puncak, dan disaat malam yang hujan dengan ditemani secangkir teh dan buku.

Semua lagunya ngebawa saya ke semua keadaan itu.

Monday, 17 June 2013

Syal Oranye

Apa artinya sebuah barang bagi sebuah kehidupan? Kayak syal oranye yang senantiasa nongol di saku pantat. Kangen banget setelah beberapa bulan disita karena sanksi. Dan kemaren syal itu akhirnya balik lagi.
Berkat itu semua, rasa sayang ke syal ini sekarang naik beberapa tingkat. Walaupun belum sempet gue kasih nama.

Syal ini menjadi saksi dan motivasi dalam setiap langkah, perjalanan, pembicaraan, presentasi, sidang, dan semua mata rantai dalam lingkaran yang udah gue rapalkan di kehidupan ini.

Syal ini layaknya jalur kereta api, yang mengantarkan sang kereta ke berbagai tempat, menjelajah kota hingga ke pelosok desa, merasakan dinginnya hujan hingga percikan api. Semua dijalani dengan sang kereta. Bersama-sama. Walaupun digilas dan dilindas memang sudah menjadi kewajibannya. Perannya dalam perjalanan tak pernah menjadi bahan pembicaraan anak-anak kota yang saling berangkulan itu. Ia tenggelam dalam bayang-bayang sang kereta.

Namun jalur kereta itulah, yang membawa kereta beserta isinya berputar-putar dalam naungan sang waktu. Ikhlas, dan tak pernah ingkar.

Tanpa dikasih namapun gue udah bisa sayang sama syal ini.

Saturday, 8 June 2013

Imaji

"Tanpa mimpi, manusia macam kita ni akan mati, Boi."
Aku sedang dalam puncak kenikmatan dalam bermimpi. Saking nikmatnya kuganti kata ganti orang pertamaku menjadi 'aku'. Semua gara-gara novel Sang Pemimpi. Semua gara-gara Andrea Hirata. Ah, semua gara-gara Zakiah Nurmala, tokoh dalam novel itu.

Selalu ada daya magis dalam sebuah novel yang dapat menciptakan sebuah daya cipta dalam rasa manusia. Seolah novel itu menjadi sebuah refleksi dari apa yang harus dilakukan. Hal-hal baru yang aku temui di setiap novel menggiringku untuk menggilainya.

Karena novel Sang Pemimpi itulah aku sekarang sedang giat-giatnya berlogat Melayu. Sedang giat-giatnya mengajak orang bermimpi. Sedang giat-giatnya merangkai mimpi dan menciptakan jalan untuk sampai disana.
Bukan yang pertama, berkali-kali aku terlalu larut dalam sebuah cerita. Berharap tak bisa kubedakan mana imaji mana realita. Tapi berkat itulah, sebulan yang lalu, saat selesai menutup halaman terakhir Partikel, Dee, segera aku temui Mama, bilang padanya aku ingin keliling Indonesia, lalu keliling dunia. Selesai mendeklarasikan imajiku, langkah pertama langsung kuambil: Les Bahasa Inggris.
Ternyata imaji bila kita sikapi dengan bijak akan menjadi tempat berpijak yang nyaman.

Ini menjadi pelajaran yang bisa kubagi: Bila ingin memperdaya manusia, perdaya dia melalui tulisan.

Bukan tulisan-tulisan itu sebenarnya yang ingin aku bagi. Melainkan mimpi-mimpiku. Aku ingin menerbangkan mereka semua. Seperti kata Arai, "Terbangkanlah mimpimu setinggi langit, niscaya Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."

Du Vrangr Gata, Jalan Tanpa Arah ini akan menjadi perjanjianku dengan hidup.

Aku ingin keliling Indonesia. Menceritakan kotaku di kota lain. Menyapa hangat beribu logat dan kebiasaan.  Menapakkan kakiku di puncak-puncak tertinggi di Jawa, Lombok, Sumatera, dan Papua. Menjelajahi pantai hingga melewati samudera. Menyebrangi pulau sebagai sebuah kebiasaan. Dan kembali ke rumahku membawa seribu rindu dan pengalaman.

Kemudian keliling dunia. Menjelajahi museum-museum terkemuka. Berkenalan melalui sejarah mereka. Mengunjungi tempat-tempat luar biasa. Merunut Ley Lines sampai ke Glastonbury. Membaca buku Chicken Soup di taman bunga Keukenhof. Berkeliling takjub bukan untuk membaca buku, di perpustakaan Utrecht. Berkeliling dengan jersey Manchester United di Old Trafford. Minum kopi buatan sendiri di bantaran sungai Seine. Memberi makan burung di Central Park. Menjelajah Afrika. Menjadi muadzin di Masjid Quba. Membawa Mama ke Baitullah. Kemudian kembali ke rumah membawa seribu rindu dan pengalaman.

Setelah sampai di rumah, aku akan berkeliling, menghadapi semua perubahan yang terjadi selama aku pergi.
Akankah mereka berhenti bergerak ketika aku pergi? Menunggu aku kembali untuk kemudian bergerak lagi. Jadi tak ada yang berubah walau aku tinggal selama apapun. Tetap bisa aku nikmati dengan perasaan yang sama dengan dulu ketika aku senantiasa menyapa mereka setiap pagi.

Tapi apa artinya rindu bila begitu? Tak mungkin, karena ternyata rindu itu mengalir, dengan anak sungai yang melekat disetiap rasa yang kau bagi, waktu mereka bukan sekedar tuk hidup. Tetapi menghidupi.

Seperti imaji. Mengalir tanpa henti.
Selamat malam.

Friday, 10 May 2013

"Tujuh adalah langit, Tujuh adalah nada, Diantara keduanya kita bercerita, Tentang cinta, perjalanan, semesta dan manusia."
-Dadang Pranoto, Dialog Dini Hari-

Tuesday, 30 April 2013

Keluar

Selamat sore.

Sore ini gue ditemenin teh anget, sorban ngelilitin leher, celana training kegedean, sweater tebel, dan suaranya Maudy Ayunda dari hp si Ai.
Ada dua sindrom yang nyerang gue beberapa hari terakhir: Sindrom hareeng, dan sindrom kecanduan Maudy Ayunda. Keduanya bener-bener jadi semacam komplikasi yang nyerang gue tiba-tiba. Seperti cinta, yang datang tiba-tiba. *Seketika muncul backsound suara Maudy tiba-tiba cinta datang kepadaku....*

Oke, setelah hampir 2 bulan ga ngepost sebenernya bukan Maudy Ayunda yang bikin gue tergerak untuk ngetuk pintu blogger.com. Gue cuma pengen ngebagi sedikit mimpi. Mimpi yang bila kita urai ternyata punya sayap. Sayapnya bakal ngebawa kita terbang, atau malah cuma mengepak-ngepak tanpa mengudara.
Emang ini blog isinya mimpi gue semua yang ga tau mau gue bagi ke siapa lagi. Semoga ini blog bisa terus ada sampe nanti gue udah punya anak. Jadi anak gue bisa baca tulisan ayahnya waktu masih muda. Amiiin...

Manusia ga pernah selalu ada dalam titik terang. Walaupun manusia selalu bisa membuatnya. Berada dalam titik terang membuat segala potensi yang ada terbuka lebar-lebar. Kemampuan manusia dalam menganalisa, berperasaan, berkarya, dan hal lainnya yang membuat manusia memiliki nilai untuk hidup.
Dan titik terang itu yang belum bisa gue dapat secara optimal. Tahun ini mungkin gue bisa dinobatkan sebagai manusia tanpa semangat hidup terbaik di dunia. Dunia seni dan ekspresi yang paling bisa bikin gue bener-bener ngerasa gue, sekarang rasanya ga ada rasa. Dijalani tanpa gairah.
Gue kangen sama perasaan semangat berapi-api yang biasanya selalu ada ketika gue ngeberesin satu project, ketika tugas dan deadline selalu gue pandang sebagai tantangan, ketika bahasa dan kata-kata udah jadi pisau yang senantiasa gue asah. Perasaan itu dulu selalu ada, dan hasilnya bakal ngebuat gue lebih berapi-api lagi.

Gue terlalu terbawa sama apa yang udah gue dapet.
Gue pengen keluar, lepas dari semua rutinitas, lepas dari semua keterikatan, ngeliat dunia, siapa tau mereka bisa narik lagi semangat gue yang dulu.
Gue yang sekarang ibarat kantong kresek, berharap segera diuraikan padahal butuh waktu lebih dari 1000 tahun.
Gue pengen keliling Indonesia. Belajar dari sesuatu yang biasa. Indonesia yang kaya ini bakal ngebuat gue kembali merasa nyaman. Mungkin gue bisa dapet lagi arti hidup hakiki yang selama ini gue cari.

Gue pengen keluar, lepas, bebas, berbaur dengan deru ombak, tertawa kecil dengan rumput segar di pagi hari, dan tertawa akrab dengan sejuta wajah diluar sana.

Tinggalkan apa yang ada, sapalah sesuatu yang baru, tapi jangan melebur bersamanya, kembalilah ketika kau dapati sesuatu yang kau cari.



Apakah Maudy Ayunda adalah sesuatu
yang baru dan mesti gue sapa?

Wednesday, 30 January 2013

Senandung Rindu

Satu kisah terpendam
Mengukir relung hati yang terdalam
Rinduku padanya
Mengendap, ikhlas, pagi, siang, malam


Semesta merayu
Lagu-lagu merdu
Seakan bertutur
Berpantun menghibur


Hu uuu… ingatkah aku bila dirumah?
Hu uuu… bukalah pintu bila kupulang
Nanti, esok, entah


Sekian lama waktu
Merpati tak bawa berita baru
Keagunganmu..
Berkilau, ikhlas, mengisi hatiku.


Perahu melaju
Dayung hingga ke hulu
Badai berlalu
Esok hari baru



Untuk kami yang hampir menjadikan rumah sebatas tempat singgah.
(Dialog Dini Hari - Senandung Rindu)