Sunday, 12 October 2014

Kereta Malabar Sore-Sore

Mataku terpejam, meski tidak sedang mencoba untuk tidur. Padahal perjalanan turun dari Gunung Semeru kemarin masih menyisakan sedikit lelah. Kursi Kereta Api Malabar kelas bisnis yang aku duduki sekarang sudah selayaknya menjadi tempat beristirahat yang nyaman. Suara gerbong dan temaram langit senja menjadi latar yang benar-benar cocok untuk melepas penat dan terlelap.

Mataku terpejam, tapi hatiku sepenuhnya terjaga.
Galang, yang sebelum senja duduk disampingku sedang menghampiri Lingga, Gala, dan Gangan di kelas ekonomi. Keadaan menjadi sedikit lebih baik. Karena tak ada yang harus kuajak bicara.

Pandanganku beralih ke jendela. Barisan pohon jati yang bergerak mundur digantikan pedesaan dan tembok-tembok tua. Jalan-jalan di sana kosong. Pemandangan yang nyaman bagiku untuk saat ini. Karena tak perlu ada yang harus kuperhatikan.

Dalam tudung senja, sudut mataku menangkap sekilat cahaya diantara rumah dan pepohonan. Cahaya Sang Surya.
Matahari yang sejak tadi mencuri-curi pandang padaku, seolah berharap mendapat sedikit perhatian di akhir waktunya hari ini. Matahari itu berusaha mengajakku bicara. Mungkin sekedar salam perpisahan yang ingin dia ucapkan.

Pandanganku terpaku ke ujung langit. Matahari itu perlahan jatuh dalam dekap ketiadaan. Mataku terus mengikutinya. Sejenak kita bagaikan dua sobat lama yang bertatap muka sambil berusaha mengingat kembali siapa yang ada dihadapan.
Perlahan aku mengerti, matahari itu sedang mencoba mencuri. Mencuri pandangku meski sekejap saja.
Dadaku mendadak sesak.

**

Kota Malang siang itu layaknya pasar tumpah. Seisi kereta kini sudah berpindah tempat ke stasiun. Menemui kerabat, saudara, kekasih, dan siapa saja yang sudah menunggu kehadiran mereka di kota ini. Supir angkot dan kondektur juga menyambut para penumpang yang menggendong keril dengan tinggi setengah tubuhnya dengan tawaran jasa transportasi ke Tumpang.

Agustus ini memang menjadi bulannya para pendaki. Ribuan orang dari semua penjuru nusantara bahkan mancanegara datang kemari. Demi menyaksikan perhelatan antara awan dan langit di puncak abadi para dewa, Mahameru. Aku pun tak terkecuali. Ini kali pertama bagiku mendaki gunung di luar Jawa Barat. Ini akan menjadi pendakian yang luar biasa. Apalagi mendaki bersama dua lusin 'barudak'.

"Le!" teriakan yang sudah tak asing di telingaku.
Pria setinggi bahuku dengan suara cempreng namun memiliki intonasi yang dalam itu menghampiriku. Namanya Lingga. Hampir tiga tahun aku satu kelas dengannya di sekolah. Dia sudah tiga hari lebih dulu ada di Malang. Bersama dua orang lainnya yang juga kenalanku, mereka merayu Pulau Sempu terlebih dahulu sebelum memuja Mahameru. Mereka sengaja menunggu rombongan kami di stasiun sejak kemarin malam. Dari sini, mereka memulai semuanya bersama-sama dengan kami.

"Sare dimana maneh?"
"Tuh," jawab Lingga sambil menunjuk ceruk kecil di samping stasiun. Tersandar tiga keril yang telah dipacking rapi di sana. "Kepaksa tidur di situ. Soalnya ternyata dilarang tidur di dalem stasiun."
"Emang cocokna sare di dinya maneh mah."
"Kampret..," Lingga tersenyum sinis. "Udah sekarang siap-siap lanjut ke Tumpang. Kita harus cepet nyampe pos pendaftaran TNBTS sebelum penuh. Urang mau nyari angkutannya dulu."

Sambil menunggu, beberapa orang membahas cerita-cerita konyol sepanjang perjalanan kereta, beberapa lagi menghabiskan waktu dengan asap rokoknya. Aku memilih untuk melihat-lihat sekitar. Terlalu sayang rasanya bila stasiun ini hanya dijadikan sekedar tempat singgah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah tangan melambai tinggi padaku. Aku memicingkan mata, berusaha melihat sang pemilik tangan. Seorang kakek setengah baya berusaha melepaskan diri dari keramaian dan berjalan ke arahku dengan tatapan rindu.

Aku masih memicingkan mata.

**

Pagi itu, seorang kakek yang akrab disapa Eyang, bangun lebih pagi dari jam wekernya. Jam weker yang sudah menemaninya selama hampir satu dekade. Jam itu ia gunakan selepas kepergian istrinya, agar ia masih bisa bangun pagi meski tanpa teriakan sang istri.

Hari ini ia merasa sepuluh tahun lebih muda. Setelah melakukan sedikit peregangan, ia bergegas ke kamar mandi dengan sedikit bersenandung. Tampaknya ini hari yang sedikit berbeda dari hari-hari membosankan yang ia lalui sebelumnya.

Eyang sedikit menggigil saat keluar dari kamar mandi. Segera ia menuju lemari. Mengamati satu-persatu tumpukan baju disana.
Beberapa detik berlalu. Hanya beberapa kali dalam hidupnya ia merasa bingung ketika dihadapkan dengan lemari baju. Eyang tak begitu tertarik dengan urusan pakaian.
Tapi hari ini lain. Hari ini cukup istimewa baginya.
Akhirnya ia memilih setelan kemeja kotak-kotak lengan pendek dan celana corduroy coklat muda. Ia berkaca sambil memasukkan kemejanya ke dalam celana. Setelah merapikan rambutnya, ia menyelipkan sisir di saku celana.

Dalam pantulan cermin, ia merasa masih ada yang kurang dengan penampilannya hari ini. Sudut matanya menangkap bagian atas lemari dimana topi safarinya diam ditemani debu. Ia mengambil topi itu. Memutar-mutarnya dengan sebelah tangan, dan menepuk-nepuk seputaran topi itu dengan tangan yang lain. Dipakaikannya topi itu di kepala. Bergaya sedikit di depan kaca dan tertawa kecil menyadari betapa bergairahnya dia hari ini. Tak lama, tawanya berganti dengan segaris senyuman. Eyang melihat lagi dirinya di cermin. Jelas sejak berpakaian tadi ia ingin terlihat gaya hari ini.
Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan cucunya itu. Selepas tersenyum, ia melepas topi safarinya dan menyimpannya lagi di atas lemari. Dandanan wajar mungkin akan lebih menghilangkan kesan asing bagi cucunya tersayang.

Ia melihat jam. Pukul 05.30. Setelah meneguk segelas air, segera ia sambar kunci corolla dan bergegas keluar. Ia tak ingin terlambat menjemput cucunya di Stasiun Malang pagi ini.

**

Kakek setengah baya yang kini berbicara denganku ternyata adalah adik dari kakekku yang sejak kemarin telah dibicarakan oleh ayah melalui telepon.

Kakek ini begitu semangat menyambutku. Padahal mukanya saja aku tak begitu kenal. Ia bercerita tentang bagaimana dia berinisiatif untuk menjemputku ketika ayah bercerita bahwa aku akan berangkat ke Malang. Aku menyambut ceritanya dengan anggukan, senyuman, dan sesekali ketawa garing.

Dalam sela-sela pembicaraan, handphone Eyang bergetar. Setelah memberi isyarat, dia mengangkat telponnya dan menjauh.
Kulihat Lingga yang sejak tadi tawar-menawar dengan supir angkot menghampiriku.

"Le, saha eta?" sambil mencuri-curi pandang pada Eyang.
"Eta... jelema nu ngaku-ngaku dulur aing," gurauku sambil tersenyum.
"Wahahahaha sarap sia mah!" sambut Lingga sambil menepuk pundakku.

**

Rintihan rel kereta yang tergilas dan keluh suara gerbong yang beradu memenuhi kepalaku sepenuhnya. Masih diselingi barisan pohon jati yang bergerak mundur digantikan pedesaan dan tembok-tembok tua, yang juga masih dalam rangkulan sang surya yang hendak tenggelam.

"Le," Lingga tiba-tiba sudah berada di sampingku. "menta dahareun, Le.."

Buru-buru kualihkan pandangan ke jendela. Jangan sampai dia melihat mataku yang mungkin sudah sembap. Dasar setan cilik. Kenapa juga harus datang di saat begini.
Aku memberi isyarat pada kardus di atas kepalaku. Tak berani bicara. Sesak pasti sudah merubah suaraku saat ini.
Lingga mengambil kardus itu. Mengorek isinya.

"Wah loba kieu oleh-olehna, euy. Urang bawa saeutik ka gerbong urang, nyak."

"Hmmhh.." jawabku malas.

Lingga tertawa mendengar persetujuanku. Setelah mengantongi oleh-oleh, ia menepuk-nepuk bahuku sambil beranjak hendak kembali ke gerbong ekonomi. Belum sempat ia melangkah, gerakannya terhenti. Tawa setannya juga terhenti. Kini ia malah duduk di sampingku. Aku mulai merasa gelisah.

"Kalem..," ujar Lingga menyelidik. "Urang ngarasa aya nu aneh, yeuh."

Benar saja. Sepertinya memang kegelisahanku bukan tanpa arti.
Aku berdehem. Memastikan suaraku tidak parau. Mengedip-ngedipkan mata. Menghilangkan jejak air di sana.
Kini aku menahan napas, mengira-ngira apa yang membuat setan cilik ini malah duduk di sebelah.

"Aneh, Le.." sambungnya. "Tumben maneh teu moyokan urang."

Ternyata kegelisahanku tak ada artinya.

Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Aku masih memandang jendela. Tapi pikiranku kini tak lagi dipenuhi imaji dari pinus dan jalan-jalan lengang. Pikiranku malah tak karuan karena Lingga masih saja duduk di sebelah.
Setelah memastikan suara dan mata baik-baik saja, akhirnya aku beralih menatap Lingga.
Ternyata sahabatku ini sedang asik memandang sang surya. Saat aku tiba-tiba beralih padanya, ia sama sekali tidak terperanjat. Seperti seorang anak yang bangga ketika tertangkap basah oleh ibunya menyimpan korek di saku celana.

"Kunaon maneh?"
Lingga mengalihkan pandangannya padaku. Ia tersenyum simpul, "Matahari tenggelam hari ini sangat indah, Le. Dia pamit perlahan-lahan. Maneh bisa ngeliat, ga? Dia lagi tersenyum. Mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa esok, saat ia harus kembali menunaikan janjinya yang tak akan diingkari.."

Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya yang dipenuhi ekspresi bak seorang kekasih yang berjanji tidak akan mendua.
Aku sama sekali tak terpukau dengan bahasanya. Hampir tiga tahun kami bersahabat, Lingga memang pantas mendapat predikat pujangga karena imajinasinya yang terlalu liar. Ia selalu bisa menggambarkan sesuatu dalam sudut pandang yang berbeda.
Tapi aku sudah bosan dengan syair-syairnya yang sering diulang-ulang.

Kami tak membahas sang surya itu lebih jauh. Permainan diksi Lingga tadi ternyata menuangkan teh di gelas kosong kami. Akhirnya kami berceloteh lagi tentang segala hal. Dan satu-persatu kekonyolan di Gunung Semeru kemarin kembali terulang.

Dalam tawa, aku menemukan noda keringat di pipi Lingga. Itu pasti keringat karena berlari-lari di stasiun saat membantuku mengurus tiket kereta tadi. Ada kesalahan dalam pencantuman nama di tiket keretaku. Sehingga aku harus mengurusnya dalam waktu setengah jam sebelum waktu keberangkatan tiba.

Kutunjuk noda itu, "Euh, maneh mah cemong teh sok dipiara, da."
Lingga yang merasa diingatkan segera mendekati jendela dan melihat pantulan wajahnya di sana.

"Anjir kucel kieu aiiing..," ucap Lingga sambil menjambak rambutnya yang tumbuh liar tak beraturan.
"Eta pasti keringet pas ngebantu urang ngebenerin tiket tadi, yah?" tanyaku sambil menyerahkan tisu basah padanya.

"Heueuh jigana mah. Sia sih make salah ngaran sagala." canda Lingga sambil menarik dua lembar tisu basah.
Aku hanya tersenyum melihat monyet kecil ini menggerutu.

Lingga menyusut wajahnya dengan tisu basah, sambil menoleh padaku.
"Maneh kudu berterima kasih ka si Eyang, Le."

Seketika imaji itu kembali. Perasaan itu datang lagi.
Pikiranku kembali ke satu jam yang lalu. Saat aku sedang berlari-lari di dalam stasiun. Di pintu masuk bagian dalam, Gala, dan Gangan menungguku mengurus kesalahan tiket ini. Di belakangku, Lingga dan Galang berlari-lari kecil mengikutiku. Lingga bersiaga sekiranya aku butuh pertolongannya. Sedangkan Galang, tiketnya hilang. Sehingga ia harus mencari jalan keluar agar bisa pulang siang ini. Nasib kepulangan kami bergantung pada setengah jam ke depan.

Di depanku, saudara yang baru kutemui dua kali seumur hidup, Eyang, berlari menuntunku dari ruangan ke ruangan. Beliau memiliki kedudukan di Malang. Koneksinya sampai hingga ke kantor-kantor di stasiun ini. Kehadiran Eyang di sampingku membuat proses pembetulan tiket ini terbantu.
Beberapa kali Eyang masuk kantor, menemaniku dan Galang menjelaskan perkara kesalahan ini pada petugas dan para kenalannya. Lingga menunggu kami di luar ruangan. Kuperhatikan beberapa kali ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya.

Kasusku tak begitu rumit. Hanya kesalahan dalam penulisan nama saja. Yang menjadi pe-er justru kasus Galang. Kereta sudah kehabisan tiket. Nasibnya digantung pada keputusan semalam menginap di samping stasiun. Namun Eyang tetap berusaha mencari jalan keluar. Ia menelpon kolega-koleganya. Kulihat peluh di wajahnya semakin banyak.
Kini aku begitu merasa beruntung akan kehadiran Eyang di sini. Padahal sebelumnya, aku mengolok-olok Eyang habis-habisan di depan teman-teman.

Eyang kembali berlari menuju suatu ruangan sambil memberi isyarat kepada kami untuk mengikutinya.
Ia menuju ke ruangan yang di atasnya tertulis 'Kepala Stasiun'. Kami diminta untuk menunggu di luar.
Seorang pria dengan postur tegap menyambut hangat kehadiran Eyang. Namun sekarang bukan saatnya untuk bersulang dan mencicipi sajian makanan. Eyang menjelaskan perkara yang terjadi. Pria itu mendengarkan. Kami tak bisa mendengar perbincangan mereka.

Lima menit kemudian, yang juga ternyata lima menit sebelum kereta berangkat, Eyang keluar dari ruangan sambil membawa surat sakti. Eyang bilang ini akan menjadi tiket pulang Galang. Kami bersorak. Galang mencium tangan Eyang. Kemudian kami melepas rasa lelah sejenak. Aku memandang Eyang yang kelelahan, yang juga menatapku sambil tersenyum.

Eyang memaksa ingin membawakan carrierku sampai ke kereta. Aku tidak punya pilihan. Tanganku memang sudah penuh dengan sekardus oleh-oleh darinya. Akhirnya Eyang memikul carrierku yang bebannya hampir sama dengan berat badan Lingga itu.
Kami sampai di pintu gerbong bisnis. Gala, Lingga, dan Gangan berpisah menuju gerbong ekonomi.
Terisisa aku, Galang, dan Eyang.

Eyang menyerahkan carrierku dari punggungnya. Ia berpesan padaku untuk berhati-hati dan sampaikan salamnya pada keluargaku di Bandung. Kami berpamitan. Aku mencium tangan Eyang. Sesaat aku menangkap bahasa tubuhnya yang ingin mendekapku. Namun kereta mulai bergerak. Aku buru-buru menyandangkan carrier dan pamit padanya sekali lagi. Galang mendahuluiku masuk kereta. Aku mengikutinya.

Kini kami tengah berada di tempat duduk dengan nomor yang tertera di tiket.
Aku dan Galang bergantian menyimpan carrier di rak atas kepala.

"Alhamdulillaaaah, akhirna diuk ogeee..." ucap Galang sambil menjatuhkan diri ke kursi.
Aku duduk di sampingnya. Kereta masih bergerak pelan sekali.

"Lang, keluarin minum," ucapku sambil mengibas-ngibas kerah baju. "Haus, yeuh."

Galang yang duduk di samping jendela setuju. Kemudian dia menunduk, menjangkau kantong keresek di bawah kursinya yang berisi minuman dan cemilan. Dan dihadapanku, dibalik jendela, sepasang mata tertuju padaku. Tatapan itu menggambarkan betapa ia menunggu sejak tadi, dan berharap tatapannya mendapat balasan. Sambil berlari-lari kecil mengikuti laju kereta, ia menatapku lekat.

Merasa tatapannya kini telah berlabuh, ia kemudian tersenyum. Melambaikan tangannya sekali lagi sambil terus berlari-lari kecil. Dadaku mendadak sesak melihat peristiwa itu.
Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak pertemuanku dengannya, aku membalas senyum itu dengan tulus. Ingin aku mendekapnya saat itu juga. Aku lambaikan tanganku sekuat tenaga. Berharap dia tau, bahwa aku membalas tatapannya. Aku membalas senyumnya. Dan aku membalas lambaian tangannya.

Melihatku melambaikan tangan, ia terlihat girang dan terus berlari. Hingga akhirnya ia berhenti karena alasnya untuk berpijak sudah habis. Namun matanya masih tetap lekat padaku. Ia terus tersenyum dan melambai. Hingga pepohonan menggantikan tatapan itu. Meninggalkan aku yang termangu sendiri. Dibayangi kebingungan Galang yang sejak tadi tak diberi kesempatan untuk duduk tegap lagi.

Mata itu. Senyum itu. Tangan itu.
Terlambat aku tersadar betapa tulusnya dia.

**

"Maneh kudu berterima kasih ka si Eyang, Le."
Aku tersenyum padanya. Pujanggaku yang pandai menebak apa yang ada di kepalaku.
Akhirnya aku bercerita tentang peristiwa dengan Eyang di penghujung pertemuanku tadi. Lingga mendengarkan tanpa berkomentar. Setelah aku menutup ceritaku, dia tetap diam.

Aku tahu dia sedang mencoba menarik satu pelajaran dari cerita ini.
Dan dia tahu aku sedang menunggunya berbicara.
Hingga akhirnya, "Le, urang pengen nanya sama maneh."

Ternyata kali ini sebuah pertanyaan.
Tanpa menunggu aku menjawab, dia melanjutkan, "Menurut maneh di dunia ini, jarak apa yang paling jauh?"

Aku bingung dengan pertanyaannya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan cerita panjang lebarku.
Jarak yang paling jauh? "Jarak dari Ranu Pane ke Mahameru," jawabku.

"Hahahaha bisaaa.., tapi salah." Jawab Lingga santai.
"Naon atuh?"

Sejenak Lingga membetulkan posisi duduknya. Memasang tampang Chairil Anwar. Dan perlahan-lahan berkata, "Jarak yang paling jauh di dunia ini adalah jarak antara kita, dan orang yang kita sayangi, tapi dia tidak menghiraukan kita."

Matahari pun terbenam.


Untuk sahabatku,
yang sedang menimba ilmu di luar Jawa.

Sunday, 10 August 2014

Aku adalah genangan air.
Aku melihatmu belajar terbang:
tertatih dengan sayap terkatup.

Sekejap,
aku ingin menjadi laut.
  berusaha membangunkanmu dengan arus realita;
  bermain denganmu dalam dilema;
  memendam rahasiaku di cakrawala;
  menyimpan senyummu di taburan bintang tak bernama;
  merapikan pasir pantaimu yang sedetik lalu penuh pertanda;
  ombak 'kan menghantammu jauh,
  untuk kemudian menyeretmu dekat;
  untuk kemudian menggulungmu erat.

Belum selesai aku beringin, kau terbang.
Dan aku masih di sini.

Padahal genangan air juga cukup.
Setidaknya sayapmu di langit sedikit terpantul di genangan ini.

Thursday, 29 May 2014

WB

      Kami hanya sekumpulan anak yang berkumpul tanpa sengaja dengan tujuan yang sama: sekedar mencari tempat untuk duduk. Hingga akhirnya terseret arus waktu untuk saling bicara, mengenal, berbagi, bercanda, hingga saling menghina. Tak ada yang mengundang, dan tak ada yang mengusir. Tak ada ketua, tak ada anggota, dan tak ada aturan.
Orang-orang memanggil kami dengan sebutan anak-anak WB. Entah itu singkatan dari Warung Belakang, Warung Barudak, Warung Bu Tarzan, Warner Brothers, Backstore, atau apalah, tak pernah ada yang tahu pasti. Karena memang tak ada yang pernah menamakannya dengan pasti.

Warung ini menampung siapa saja yang kelaparan, butuh teman curhat, nyari rokok ketengan, pengen beli pop ice, ngopi, berteduh waktu ujan, numpang parkir, ngerjain pr, ngehina orang, mabal pelajaran, ketawa-ketawa, pokonya warung ini nampung semua aktifitas SMA kita. Maka dari itu, tanpa kita sadari, warung ini menyimpan potret kehidupan masa-masa dimana seragam putih-abu melekat di tubuh, dan antusias pencarian jati diri melekat dalam hati kita.

Kita semua punya Ibu WB yang baiiiiiik banget. Selalu tersenyum dan sabar menghadapi cobaan berupa konsumen anak-anak SMA liar yang ga bisa hidup tanpa lepas dari kata ngutang dan lupa bayar. Ibu WB selalu manggil kita dengan awalan 'Dek'.
Dek Lagam, ini nutrisarinya. Dek Lagam, nasinya abis hihihihi, maap, yaa. Dek Lagam, udah jam 5    
Oh iya! Seperti senja yang tak pernah indah selamanya, WB juga punya waktu-waktu khusus dimana kita emang ga boleh ada di sana. Berlaku sejak 2014, jam 5 sore adalah waktu dimana anak-anak harus pergi dari WB. Bukan, bukan karena kita harus segera ke mesjid untuk siap-siap shalat, tapi ini adalah bentuk penghindaran kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan hal yang tidak diinginkan ini emang cukup menyeramkan, sodara-sodara.

Semua ini berawal dari kebiasaan kita yang nongkrong sampe malem di WB. Kalo udah asik emang ga pernah inget waktu. Ga inget juga sama tetangga yang kayanya jengkel dengerin suara kita ketawa keras-keras. Akhirnya di suatu sore yang tak seorang pun menduga, tentara dengan baju you can see tiba-tiba ngempesin motor anak-anak. Perilaku terpuji ngempesin ban motor orang ini emang udah beberapa kali kejadian. Sebenernya ini emang salah anak-anak juga yang bandel banget ga pernah nurut dengan omongan beberapa kali untuk ga ribut, parkir rapih, dan ga nongkrong lebih dari jam 5 sore.
Ngeliat salah satu motor dikempesin, anak-anak langsung kalang kabut pergi dari WB. Salah seorang teman kita yang sayang terhadap sesama sedikit kesinggung dengan kelakuan terpuji om-om tentara itu. Dia nyamperin si om-om you can see dan bertanya ada apa gerangan tiba-tiba ngempesin motor orang?
Dialog teredaksi silih berganti dari mulut temen gue dengan mulut si om om you can see.

Akhirnya si om pulang. Tapi berhubung darah muda darahnya para remaja, temen gue ngikutin si om-om you can see nyampe rumahnya. Sebenernya niat temen gue tuh baik. Dia cuma pengen nanya baik-baik ke si om kenapa tiba-tiba maen ngempesin ban aja? Kenapa ga dikasih peringatan dulu atau semacamnya. Cuma si om keburu ngerasa tersungging dengan kelakuan teman gue itu.
Akhirnya hari berlalu dan tukang teri beli tahu.

Dan sodara-sodara, tenyata kejadian itu memanjang sepanjang tembok cina membentang. Gue, Ramdhani, dan Aldy sampe dipanggil ke kantor Pusenif untuk menandatangani surat perjanjian ga nongkrong lagi di WB di atas jam 5. Ini semua demi barudak dan ibu WB.

Bukan cuma itu, provoost adalah momok yang menakutkan bagi anak-anak WB. Sebagian dari kita udah ada yang disuruh push up, dikejar kesana-sini, helmnya dilempar ke solokan, diancam dipukul, kartu pelajar ditahan, orang tua dipanggil tapi ga dateng-dateng, dan pernah suatu malem kabur dari kejaran provoost sampe kepala hampir kena portal komplek yang ditutup untuk ngurung anak-anak.
Salah seorang pernah nyeletuk tentang asal kata WB, Warner Brothers. Katanya Waner Brothers itu artinya 'Sodara-sodara yang diperingatkan'. Mungkin kita adalah kumpulan anak-anak yang selalu diperingatkan provoost untuk berhenti berbuat onar di lingkungan tentara.

Selingan anak-anak selain nongkrong di WB adalah maen PS, karaoke, nongkrong di babakan siliwangi, futsal, jual pesona ke ade kelas, villa, pantai, jalan-jalan men, renang, numoang tidur di rumah orang, sampe berburu banci....
Berburu banci ini semacam olahraga adrenalin yang recommended banget, boi. Jadi gini ceritanya.
...
Semua berawal dari acara HBD Fahd. Kebiasaan anak-anak, kalo ada yang ulang tahun, kita berusaha sebisa mungkin untuk ngebuat hari ulang tahun itu berkesan bagi pemiliknya. Kebetulan, di ulang tahun Fahd yang satu ini, kita sengaja ngedatengin rumahnya tengah malem. Biar jadi yang pertama ngucapin gitu.
Blablablabla singkat cerita rencana sukses. Fahd berhasil dikasih surprise. Anak-anak berhasil makanin kuenya Fahd. Denis bahkan sampe makan kue tart pake nasi (serius...).
Beres dari rumah Fahd, kurang asoy rasanya kalo langsung pulang. Malam ini terlalu panjang untuk dilewati sendirian, boi. Apalagi Fahd udah masok kebutuhan kalori dengan acara makan-makan. Akhirnya anak-anak ngerencanain jalan-jalan malam. Atau yang biasa kita sebut dengan kegiatan 'Longnite, proooyyyyy!'

Gean semangat banget dengan longnite. Kayanya dia emang udah punya rencana untuk ngelewatin malem dengan otak kreatifitas tanpa batasnya. Anak-anak nurut. Awalnya kita cuma keliling-keliling kota Bandung sambil teriak-teriak. Mampir dan menyapa setiap sisi Kota Bandung yang tak pernah terlelap itu.
Sampe akhirnya acara utama dimulai. Semua motor anak-anak berhenti. Gean ngebagiin tabung kertas bekas kembang api yang dia pungut di jalan. Tabung itu dipake sebagai amunisi buat acara utama: Berburu banci. Gue yang baru pertama denger yang begituan jujur ngerasa deg-degan. Akhirnya semua tancap gas.
Mula-mula kita ngelewat Jalan Belitung, ngeliat sasaran. Wah ternyata emang banyak banget banci disono, bung. Belok ke Jalan Kalimantan. Masuk ke Jalan Jawa, nyusun barisan. Begitu belok ke Jalan Sunda, anak-anak ngasih peringatan untuk siap, dan memperlambat motor. Kita bakal nyerang markas germo di Jalan Sunda. Di kejauhan udah keliatan sekumpulan orang dengan dress plus high heels. Kita kunci itu sebagai target. Dalam hitungan tiga, dua, satu yang diaba-abakan dalam hati, kita tancap gas kaya kesetanan. Maju pantang mundur ke arah target, dalam jarak sepelemparan batu, anak-anak langsung teriak-teriak sambil ngelempar-lemparin amunisi.
"TOBAT SIA, ANJIINGGGG!!"
"GEURA TOBAT, WOOOY!!"
"WOAAAAAAA!!"

Kita udah kaya mafia menyuarakan taubat.
Banci-banci pada teriak dengan suara cewek, lari-lari, nyari perlindungan.
Dan penyerangan itu ga cuma sekali. Tapi berkali-kali dalam satu malam. Di penyerangan selanjutnya, amunisi kita ganti pake niji pohon mahoni, sampe ga bawa amunisi sama-sekali. Cuma nendang-nendang sambil teriak-teriak. Penyerangan kita disambut dengan lemparan high heels, wig, tas, sampe beberapa banci nyoba ngejar kita.
Gila, adrenalin bener-bener dipompa. Rasanya sama dengan dikejar sama provoost. Cuma yang ini dilemparinnya pake wig. Lepas dari itu gue gabisa lupa sama kita semua yang ketawa-ketawa puas sepanjang jalan pulang. Sesekali ngeliat ke belakang barangkali ada yang ngikutin.
Subuh itu muadzin nampaknya sudah mengambil air wudlu. Dan kita sedang diperjalanan kembali ke tempat asal, SMAN 14.

---

Ada satu moment yang gue inget sampe sekarang di pagi itu.
Sesampainya di 14 kita masih ketawa-ketawa, deg-degan gue udah ilang. Kita duduk cerita-cerita di lapangan basket. Saling pandang dalam kelelahan dan pengalaman luar biasa. Satu lagi kisah luar biasa lahir dari orang-orang yang ga pernah sengaja untuk kumpul ini.

Beberapa dari kita pergi ke tengah lapangan basket. Di dalam lingkaran jump-ball, kita telentang. Ubun-ubun kita saling bertemu. Melihat langit subuh yang merekah indah.
Satu orang nyalain lagu Payung Teduh, Rahasia.

"Beuh mantap. Momen langka, boi. Kabeh caricing, nyak. Ulah aya nu nyanyi, tapi ulah aya nu sare," satu pernyataan mustahil baru aja keluar dari salah satu mulut.

Emang mustahil, karena pada akhirnya kita terlelap. Entah terlelap dalam kantuk, entah terlelap dalam suasana seteduh fajar yang hendak merekah. Yang jelas, gue terlelap banget sama kalian. Terlelap sampe rasanya ga mau bangun. Mungkin secara denotasi gue terbuai sampe rasanya ga mau untuk lulus SMA, dan berpisah dengan kalian semua.

Kalian adalah seteduh atap saat hujan, dan sesungging senyum saat tangis.
Satu keluarga baru yang ngebawa gue ke tingkat tertinggi persahabatan. Ga ada batas, ga ada massa, ga ada waktu. Dengan kalian gue ngerasain yang namanya terbang tinggi ke langit, sampe jatuh nabrak tanah sekeras-kerasnya. Gue pernah ngerasain hal yang paling mulia, sampe hal yang paling hina sekalipun.

Gue ga akan pernah lupa.

Dalam tulisan ini, tolong ingat, kalau di suatu waktu dalam kehidupan yang fana ini kita pernah bertemu, berkenalan, duduk bersama, jalan bersama, mencari jati diri bersama, menyusun masa depan bersama, melawan arus takdir bersama. Semuanya pernah kita lakukan bersama dalam naungan semesta yang mempertemukan kita di balutan jubah putih-abu dengan membawa nama sekolah yang sama.
Berjalanlah terus. Hingga pada akhirnya suatu hari nanti salah satu dari kita tak bisa lagi berjalan, yakinlah bahwa kami akan datang dan menopangmu di bahu kami, hingga kita semua sampai di tujuan bersama-sama. Berjanjilah untuk menembus jauh dunia ini, kemudian balikkan. Lakukan semuanya demi hal yang kalian anggap berharga, dan demi barudak.




Saya selalu bangga dengan apa yang pernah saya lakukan
di masa remaja ini dengan kalian.

Sunday, 4 May 2014

Sawarna

Pasir yang terlihat kuat ketika saling memeluk,
dan tak pernah bertanya ketika mereka tercerai
Mereka terlihat akrab, meski tak punya waktu untuk saling mengenal satu persatu.

Ombak yang tak bosan untuk saling mengejar
Seperti dua anak sekolah yang tak henti bercanda
Terhempas ke segala arah, rela dipandang keji demi ketidaknaifannya

Matahari mungkin hanya melirik,
peristiwa yang biasa
bagi sang mata yang sibuk dengan janjinya

Cakrawala, selalu diam dalam tanya
Garis tipis yang membuat manusia selalu haus akan perjalanan

Semua menyimpan rahasia
Semua menyimpan janji
Semua menyimpan keajaiban
dan semua menunggu,
saat dimana manusia, sang pusat semesta, mengerti.




Friday, 25 April 2014

Tes ke Universitas

Malam.

Lama kita tak saling bertukar sapa melalui kata.
Masa SMA tinggal beberapa langkah lagi terlewati. Gue gak yakin untuk bisa lepas dari semua cerita yang seolah menarik dan menjaga untuk tak pergi. Dalam beberapa cerita selanjutnya gue bakal bagi setiap komponen masa-masa SMA yang singgah dan tak pergi itu.

***

Maafin karena ini termasuk postingan yang kasadularsa. Gue orangnya ga pernah bisa fokus. Belakangan gue sadar kalo ternyata gue masuk ke tipe manusia generalis, bukan spesialis. Berusaha untuk naif sama fakta bahwa sehebat apapun gue, gaakan bisa ngalahin orang spesialis.
Tapi orang generalis itu multitalenta, boi. Itu yang mungkin bisa jadi pembelaan sekaligus angin seger buat tipe orang macem gue.

Oke, skip.
Di postingan kasadularsa ini, gue mau ceritain kalian tentang salah satu kerjaan gue selama ga nongol di Du Vrangr Gata.
Jadi gini, kemaren-kemaren jalur SNMPTN kan udah dibuka, tuh. Nnnah, salah satu jurusan yang gue pilih mengharuskan pendaftarnya untuk ngirimin video keterampilan gitu, coymen.
Semuanya begitu formal. Dari tata pengucapan identitas hingga penutupan udah tersedia dalam paririmbonnya.

Tapi gue ga tahan untuk kelamaan jadi manusia formal.
Dan partner seperjuangan gue, orangnya asik parah, dan kacau parah....
Bareng ama dia, orang yang niatnya pengen bikin video keterampilan yang ada malah bikin video asusila.
Namanya Iqbal. Orang paling waras di WB. Kerjaannya marahin anak-anak kecil yang suka lari-lari di WB.
"Eeeeh ulah rame wae atuh, jual siah ku aing.."

Kemana-mana bapak yang satu ini selalu membawa gitar 'uchiha' kesayangannya. Gitarnya emang membawa berkah, men. Kemaren-kemaren nih, dengan maksud terselubung pengen minta makan ke rumah si Erick yang punya warung padang, dia pura-pura ngajarin si Erick gitar. Abis beres, Iqbal balik ke WB dengan sebungkus nasi padang hasil jerih payahnya. Politik, mang!

Jadi, mohon maaf readers, video tes bakat untuk ke universitas yang bakal gue bagi ini sedikit.... Ehem. Semoga bisa tahan nonton sampe akhir.
Selamat malam!




Friday, 31 January 2014

From Zero to Hero II

Selamat hujan di malam Januari.

Terlalu banyak yang pengen gue bagi di blog ini. Tapi sebelum semuanya dimulai, gue harus tuntasin dulu cerita perjalanan From Zero to Hero.
Dibilang dituntasin sih engga. Gue ngerangkum semua ceritanya.
Dalam diam gue sadar, bahwa perjalanan ini bukan hanya kaki, mata, dan tangan yang bekerja. Jauh diatas itu semua, hati kami-lah yang bekerja lebih keras.

Ada satu energi yang ga bisa disampaikan melalui kata. Kekayaan kata ga akan pernah bisa menafsirkannya.

---
Perahu menepi di kawasan pulau sempu. Setelah mencatat nomor telepon tukang perahu, kita loncat dari perahu dan untuk pertama kalinya menapakkan kaki kita di Pulau Sempu.
Di tempat penjemputan perahu ini ada beberapa kumpulan orang yang lagi nungguin dijemput perahu sambil istirahat. Beberapa kali gue lihat bule lagi ngobrol-ngobrol santai antar sesamanya.
Sebelum nyampe ke surganya Pulau Sempu yang punya nama Segara Anakan, kita harus long march dulu menembus hutan selama kurang lebih 2 jam. Menurut cerita perjalanan, sih, begeeto. Tapi alam selalu punya rahasia yang ga akan pernah bisa kita tebak, boi.

Baru mulai jalan, gue ngeliat ada monyet lagi lari-lari sambil rebutan makanan. Mereka teriak-teriak entah girang entah garang. Sedetik gue takjub sama pemandangan itu.
Kita lanjut jalan.

Pas kita lagi nikmatin perjalanan, mendadak gue dan Kang Gavin pengen pipis. Akhirnya kita pipis di dua tempat yang berbeda. Beres pipis gue baru sadar ternyata gue dan Kang Gavin pipis di areal jalan setapak. Punya gue mengarah ke bawah, sedangkan punya Kang Gavin mengarah ke kanan. Disitu kita diskusi dulu sebentar, nentuin jalan mana yang bakal kita ambil. Apakah jalan pipisnya gue atau jalan pipisnya Kang Gavin? (Jenius banget kita, yak..)
Setelah menganalisis cukup lama, akhirnya kita ambil jalur pipisnya kang Gavin yang menurut kesepakatan jalannya lebih 'jalan setapak' banget.

Kita terus ngerunut jalan yang dipenuhi cabang ke kiri dan ke kanan.
Beberapa kali kedenger suara deburan ombak yang bikin semangat kita kepacu. Kita jalan terus sampe akhirnya kita... menemukan padang ilalang setinggi kepala. Suara ombak kedenger jelas. Kita makin penasaran. Senyum udah ngembang di bibir masing-masing. Sambil lari-lari kecil kita mendekat ke suara ombak. Sampai akhirnya kita sampai di sebuah pantai tak berpenghuni.

Lebar pantai ini ga lebih dari 10 meter. Pasir yang bersih tanpa jejak manusia terbentang indah dipeluk karang. Ombaknya berteriak kencang menyapa kami. Angin terasa sesegar tegukan nutrisari di padang pasir yang gersang. Pantai ini luar biasa indah. Hanya ada kami bertiga disini. Bertiga.
Kita sadar kalo bukan ini tempat yang kita tuju. Ini bukan Segara Anakan, boi. Entah pantai apa.
Bingung.
Setelah makan siang dan sejenak menyerap keindahan pantai ini, akhirnya kita kembali lagi ke arah semula. Disitu kita nyimpulin bareng kalo harusnya kita pake jalur pipis gue.

Pas di jalan kembali ke pertigaan pipis, kita ngedenger suara orang yang jumlahnya cukup banyak. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, dan.. anak kecil?
Bah ternyata kita ketemu lagi sama si Mas-Mas ITB dan keluarga. Mereka pake GPS dari handphone. Kenapa gak kepikir sama kita.....

Kita sempet bincang-bincang tentang pantai yang baru kita temuin tadi. Akhirnya kita ngikut mereka ke tujuan utama: Segara Anakan.

Hari udah menjelang sore. Sekitar pukul 16.00 kita dihadapkan lagi dengan sebuah pantai yang cukup luas.
3 PANTAI DALAM SATU HARI, MEN!
Dan ini masih bukan Segara Anakan....
Tapi pantai yang ini ga kalah keren dari pantai 10 meter yang tadi. Pantai ini luas, dan tenteram.
Rombongan keluarga memutuskan untuk pulang dan ga ngelanjutin perjalanan karena udah keburu sore. Setelah dadah-dadah, si Mas ITB ngasih tau arah ke Segara Anakan. Berhubung masih keitung siang, kita bertiga ngelanjutin perjalanan.

Satu langkah-dua langkah terasa ringan. Tapi langkah selanjutnya, beuh boro-boro. Arah yang ditunjuk si Mas-mas ITB menuju ke tebing. Kita sih semangat-semangat aje dengan petuah dari ntu orang. Lama kelamaan tebingnya makin rapet sama pohon-pohon kecil.
Satu hal yang ngebuat kita yakin dengan jalan ini: Setelah naik tebing, kita bakal turun tebing, dan sampai di Segara Anakan! Yeay!
Tapi ternyata keyakinan itu hanya sekedar mitos belaka, saudara-saudara. Tebing ini kagak ada ujungnyaa!!
Waktu menunjukkan pukul 17.30 ketika kita akhirnya memutuskan turun dan kembali ke pantai tempat kita berpisah dengan si Mas-Mas ITB dan GPS-super-duper-luar biasa-menakjubkan-canggihnya itu. Langit udah mulai gelap. Satwa-satwa malam mulai terdengar suaranya.

Kita membuat kemah di luar area pasang air laut. Obrolan malam itu baru berhenti ketika kita menyantap makan malam. Setelah makan malam, ritual seperti biasa dinyalakan.

Pantai ketiga setelah Sendang Biru dan Pantai 10 meter di hari itu ternyata punya keajaiban kecil. Keajaiban itu kita dapati ketika kita melihat langit. Rasi bintang bertaburan saling berlomba untuk menjadi yang paling terang. Langitnya sangat indah.
Bintang-bintang itu terasa dekat dan mampu kita jangkau. Mereka menjadi lentera di malam yang penuh rahasia.

Ada satu hal yang ga akan gue lupain di malam itu.
Saat kita berlari ke arah pasir pantai dengan bintang yang menjadi atapnya, kita sedikit tertawa dan duduk bersama menghadap ombak. Kemudian kita berlagak untuk saling bertanya tentang rahasia hidup dan kehidupan. Kita terus berbicara tentang segala hal sampai akhirnya kita sepakat untuk diam.
Diam..
Diam dan bersandar pada pasir pantai, menghadap bintang-bintang. Tidak ada yang bersuara selain angin dan ombak. Tidak ada yang tersenyum selain bulan dan bintang. Dan tidak ada yang berusaha menerka tentang rahasia Tuhan yang sungguh sangat menakjubkan.

Kita hanya diam. Merasakan bulan, bintang, angin, ombak, pasir, dan semua ketenangan itu meresap ke tubuh kita.

14 Agustus 2013
Kita awali hari ini dengan sandwich, krim soup, dan roti baguette.
Selesai packing, Tuhan menjawab doa-doa kita melalui 4 manusia yang baru saja datang. Setelah saling sapa dan bertanya, ternyata mereka baru saja dari Segara Anakan. Mereka cukup mengerti lika-liku jalan di Pulau Sempu. Dan mereka bersedia mengantarkan kita sampai ke persimpangan jalan menuju Segara Anakan. Mantap! Cabut, boi! Jalan-jalan, boi!

Jalan menuju ke Segara Anakan dari Pantai Bintang itu ternyata sangat rumit. Banyak banget persimpangan jalan, dan gak ada jalan setapak yang jelas. Tapi berkat 4 manusia ajaib itu akhirnya kita sampai di persimpangan jalan menuju Segara Anakan. Mereka pamit untuk melanjutkan perjalanan entah kemana. Dan kita dengan semangat melangkah ke tujuan utama.

Beda dengan jalanan lewatin kemarin, di jalan menuju Segara Anakan kita berpapasan sama orang beberapa kali. Kebanyakan anak-anak muda yang ngisi waktu liburan. Semangat terus menggelora sampai akhirnya kita melihat awal dari Segara Anakan. Kaya kolam renang yang airnya biru, dengan berlantai pasir pantai. Kita ga sabar untuk ngeliat pantainya kaya gimana. Setelah nanjak dan mudun dikit kita akhirnya sampai di Pantai Segara Anakan!

Pantai ini sangat kontras dengan dua pantai sebelumnya. Disini ada banyak banget orang, suhunya lebih panas, dan suasananya lebih ceria. Tapi yang jadi alesan kenapa Segara Anakan sangat diincar wisatawan adalah karena di pantai ini ga ada ombak. Sebetulnya Segara Anakan itu lebih cocok disebut sebagai 'laguna'. Air laut masuk ke Segara Anakan melalui celah dari batu-batu karang. Air laut itu tertampung di sebuah laguna yang kemudian diberi nama Segara Anakan. Makanya ga ada ombak. Dan dalemnya ga nyampe 1 meter, kecuali di bagian karang tempat masuknya air katanya sih cukup dalem.
Disini kita lari-lari, main-main, minum nutrisari, dan berbincang dengan wajah-wajah baru.

Gue ngerasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia. Semua kejadian yang merangkai perjalanan Zero ini bener-bener kaya yang udah direncanain sama Tuhan. Bahkan kebegoan kita nyasar ke Pantai 10 meter dan Pantai Bintang malah jadi kejadian yang amat sangat gue syukuri. Empat pantai dalam dua hari.
Terima kasih, Pulau Sempu.


Segara Anakan jadi puncak perjalanan kita di Pulau Sempu. Setelah dari sini, kita berangkat ke tujuan selanjutnya, yang melengkapi bagian dari 'Hero' dalam perjalanan ini: Mahameru.

Saturday, 18 January 2014