Tuesday, 15 December 2015

Apa Kabar, Realita?

Semua menjingga. Rumput bergoyang seirama. Angin sedang sejuk-sejuknya. Dari ujung jalan, lelaki itu berjalan pelan. Satu tempo dengan matahari tenggelam.
Di bawah pohon mahoni, ia hafal kemana lelaki itu menuju. Duduk dan menghadap ke barat, dimana matahari tenggelam singgah di celah-celah bukit hijau yang seragam.

Lelaki itu menyalakan rokoknya. Menghisapnya perlahan dan menghembuskannya. Kemudian lekat ia amati asap yang mengepul di udara, ditempa cahaya senja. Tatapannya mengawang. Ibarat sedang mengamati jiwanya yang turut serta bersama asap itu.

Di balik imaji yang sempit ia memerhatikan setiap rinci sang lelaki. Terlihat jelas bagaimana tatapannya yang kian sendu, dibayangi wajah yang tak pernah bisa tertangkap oleh mata yang dulu menggebu. Terlihat jelas bagaimana bibirnya yang mengering, tak pernah sempat melempar senyum yang ia siapkan berbulan-bulan lalu. Dan jemarinya yang mulai merapuh, karena tak sempat menggenggam utuh.
Ia paham apa yang terjadi. Ia paham melalui pemahaman yang lelaki itu sangkal setiap waktu. Ia paham betul lelaki itu. Karena dulu mereka selalu bersama.

Setelah sekian lama menjadi pemerhati, dalam hembusan asap kesepuluh, lelaki itu menoleh padanya. Saat itu juga matahari berhenti jatuh. Awan yang riuh mendadak diam patuh. Sang waktu menahan diri dan semuanya tak bergerak. Di antara imaji yang tak lagi dicampuri waktu mereka saling menatap. Bukan ia yang terkejut, melainkan lelaki itu. Karena bukan ia yang selama ini bersembunyi, melainkan lelaki itu.

Dalam satu tatap lelaki itu ingat pada dirinya yang lalu. Yang sama sekali tak pernah menghabiskan waktu berdiam diri digeroti sepi yang ia ciptakan sendiri. Lelaki itu bangkit dari duduknya. Perlahan, lelaki itu berjalan memperpendek jarak, sementara mata mereka terus beradu. Ingatan-ingatan lelaki itu akan masa lalu terus menghambur jatuh, masuk ke dalam matanya yang sendu.

Waktu masih diam terpana. Dan kini jarak mereka hanya satu lengan jauhnya.
Lelaki yang berada di ambang imaji itu, menyapanya hangat. Sapaan yang layak untuk memulai kembali.. semuanya..
.
.
.
.
.

"Apa kabar, realita?"

***

Jatinangor, 02.32
Untuk kita yang mencoba kembali pada realita

Sunday, 8 November 2015

Sepucuk Surat Cinta

Bus berhenti. Rintik hujan membuat seorang lelaki menaiki bus itu dengan sedikit berlari. Ia tidak membawa tas atau semacamnya. Ia hanya membawa sebuah buku. Buku yang terlihat kumal dan kini tampak basah di satu sisi, akibat melindungi kepala lelaki itu sedari tadi.

Sore ini akhirnya ia bisa sendirian saja, setelah berhari-hari urusan tak berhenti bertamu. Ia berjalan ke bagian belakang bus, mencari sepasang kursi yang kosong. Bukan ingin sendiri, ia hanya sedang tak ingin berdialog dengan orang lain. Ia ingin berdialog dengan dirinya sendiri.

Lelaki itu sampai di deretan kursi kedua dari belakang. Kemudian duduk dan menghadap ke jendela. Jendela itu berlapis air hujan yang mengalir dan seolah tak berhenti jatuh. Membuat pemandangan di baliknya mengabur. Jendela dan air hujan itu menjadi filter bagi mata siapa pun di dalam bus saat itu.

Bus belum berjalan. Lelaki itu melihat pemandangan di balik jendela.
Seorang bapak setengah baya berlari kecil menenteng dagangannnya ke sebuah kios di pinggir jalan sambil tertawa. Mungkin ia tertawa karena hujan sedang mengajaknya bercanda. Di kios itu sudah duduk seorang ibu membawa sekantong besar belanjaan yang menyapa kedatangan si bapak dengan senyum sekilas. Kemudian kembali memandang bosan ujung atap yang membuat air hujan jatuh teratur, seperti ada yang menuangkannya dari poci. Mungkin ia bosan karena hujan telah membuatnya menunggu.

"Kau sudah melihat bulan?" 
"Sudah."

Percakapan dengannya tiba-tiba muncul. Salah satu percakapan telepon yang dapat ia ingat tanpa perlu berusaha. Percakapan yang biasa datang, saat rindu menyapa. Percakapan itu membawanya pada sebuah jendela yang lain. Jendela rumahnya. Saat itu bukan sore dan hujan yang menghadapinya, melainkan malam dan purnama.

"Kau menghubungiku hanya untuk menanyakan itu?" 
"Ya."

Dalam percakapan itu, si lelaki mencoba untuk tetap tenang. Padahal hatinya menggebu-gebu menahan rindu. Sulit sekali mereka bertemu atau sekedar berbincang melalui telepon genggam seperti sekarang. Bilamana mungkin, ia ingin mengabadikan setiap detik dalam percakapan mereka dan memajangnya di satu sudut kamarnya.

Lelaki itu tak pernah bertanya apakah rindunya berbalas atau tidak. Karena ia tahu bahwa pertanyaan semacam itu dapat membuat keduanya terluka. Ia hanya bisa yakin, bahwa wanita itu tahu betul bagaimana ia merindukannya. Dan ia juga yakin, bahwa wanita itu bahagia karenanya. Mereka telah sampai di satu titik di mana mereka sudah teramat dekat, tapi tak bisa saling berpegang erat.

Lelaki itu mengingat-ingat, pertemuan terakhir dengan wanita itu adalah ketika musim hujan belum tiba. Ketika jarak belum lama memisahkan mereka. Lelaki itu mengajaknya ke sebuah kedai kecil di sebuah komplek perumahan. Itu salah satu kedai favoritnya. Kedainya sederhana, hanya menyediakan makanan dan minuman sederhana dengan harga yang cukup pula bagi orang-orang sederhana. Di akhir pertemuan singkat itu, mereka berjanji akan bertemu lagi nanti, bila hujan tiba. Mereka sama-sama suka hujan. Namun nampaknya hujan yang mereka maksud bukan hujan hari ini.

Bus masih belum berjalan. Hujan semakin deras. Meski hanya sebentar, lelaki itu menikmati masa-masa ini. Memandangi hujan di dalam bus tanpa rasa buru-buru, tanpa ada yang menunggu, dan tanpa tau kemana akan menuju. Seperti hubungannya dengan wanita itu.
Tak ada yang perlu diburu.
Tak ada yang dapat ditunggu.
Dan tak ada yang mesti dituju.

"Sepenting itukah?", tanya wanita itu. 
"Ya, jangan sampai kau melewatkan bulan." 
"Memangnya kenapa?"

Selayaknya hujan lelaki itu mengagumi bulan.
Dan selayaknya bulan ia mengagumi wanita itu.

"Agar..."
"Agar apa?"
"Agar kau tahu, kau punya saingan." 

Bus berjalan perlahan.

***

Bandung, 16.50
Untuk kita
yang menunggu hujan

Thursday, 3 September 2015

Malam Ini Tidak Indah

Malam ini tidak indah. Purnama baru saja selesai berjaga; Maudy sedang tak suka bercanda; dan kuliah tak ada mata.

Oh, iya. Tahun ini aku kuliah --akhirnya. Mengambil studi sastra. Dibanding menimbang diriku untuk masa depan, aku memilih untuk mengejar kebahagiaan. Katanya, mahasiswa sastra ujung-ujungnya jadi pegawai bank. Katanya, mahasiswa sastra hidupnya acak-acakan. Itu kan katanya. Aku lebih percaya apa kataku dari pada katanya.

Salah satu narasumber di ospek itu bilang, "Anak kedokteran bisa jadi dokter. Anak hukum bisa jadi hakim. Anak teknik bisa jadi insinyur. Anak sastra? Bisa jadi apa saja."

Kembali ke malam yang sedang tidak indah.
Karena malam yang tidak indah ini, aku berusaha mengisi waktu dengan membaca tulisan-tulisanku di Du Vrangr Gata. Blog ini menginjak tahun ke-5. Aku melihat perkembangan dalam tulisan-tulisanku. Aku melihat pola: bagaimana caraku menulis saat sedang berusaha gaul; caraku menulis saat sedang berusaha lucu; caraku menulis saat sedang ingin dapat perhatian; caraku menulis saat sedang kasmaran; hingga bagaimana aku saat sedang putus asa. Dan dari semua pola itu aku melihat lagi sebuah pola yang yang merunut garis besar di atas semuanya: aku menulis saat sedang ingin menulis.

Du Vrangr Gata, jalan tanpa arah, yang kuharapkan menjadi jalan dengan rangkaian kata dan kisah dalam setiap pijakannya, dapat benar-benar membawaku kembali atau sekedar bernostalgi dengan diriku di tahun-tahun lalu.

Tema yang paling sering kubahas: cinta.
Nying, klasik.
Indak apo-apo.

Menulislah, kawan.
Jangan cuma membaca dan merasa terinspirasi. Kalian juga harus menulis dan merasa menginspirasi. Aku percaya bahwa tulisan itu menjadi cerminan atas diri kita saat ini. Dengan menulis, bukan hanya ceritamu yang disuguhkan, tapi lebih dalam dari itu, kau menyuguhkan 'dirimu'.

Manusia ditakdirkan untuk selalu tumbuh dan berkembang. Pola pikir, imajinasi, kemampuan, dan segala macam lainnya. Maka fasilitasi perubahan itu. Maka hargai perubahan itu. Sebaik-baiknya pengetahuan adalah pengetahuan atas diri sendiri, bukan?

Dalam satu tulisanku, aku membahas tentang rindu. "Rindu itu mengalir, dengan anak sungai yang melekat di setiap rasa yang kau bagi. Waktu mereka bukan sekedar tuk hidup, tetapi menghidupi." -Imaji, 2013

Diriku yang dulu bilang begitu. Diriku yang sekarang? Sebagian setuju.
Sebagian lagi?

Aku sekarang belajar satu bahwa rindu, tak ayalnya membuat kita tak tentu. Apalagi bila rindu itu tak punya tempat untuk berlabuh. Apalagi, bila rindu itu tak bisa berhenti berpacu. Apalagi, bila rindu itu melintas satu arah.
Apalagi, bila rindu itu padamu.

Selamat malam.
Tidur nanti jangan mimpi, malam ini kurang indah.

Saturday, 20 June 2015

Yang Kutangkap Malam Itu

Aku adalah kepastian
Dan kau adalah segala bentuk keraguan

Kau lingkarkan rindumu
Sedang aku pepatkan rinduku
Kau gantung senyum itu di udara
Sedang aku memeluknya

Keraguanmu pekat dan suci
Abu-abumu baurkan segala nanti

Bila dalam satu senja kita sempat bersua,
'kan kugenapi keraguanmu dengan pasti

Wednesday, 22 April 2015

Cerpen

Satu hari.
Waktumu untuk mengantarnya pulang. Untuk mengimaminya sembahyang. Dan bertemu ibunya, untuk sekedar mengucap salam.

Satu bulan.
Waktumu untuk datang ke rumahnya tengah malam. Meninggalkan sesuatu diam-diam. Dan membuatnya menangis seharian.

Satu bulan lebih dua minggu.
Waktunya untuk mengambil keputusan. Menutup semua harapan. Membiarkan semua kata yang telah kau rangkai, kau ucap sendirian.
Tanpa buah tangan.
Tanpa salam perpisahan.

Tuesday, 14 April 2015

Lautan

Lagi-lagi aku bermimpi.
Bukan tentang harapan dan cita.
Bukan tentang imaji dan semesta.
Bukan tentang tari dan nada.

Aku bermimpi tentang seorang pria dalam perahu sampan. Bukan di sungai, namun lautan. Lautan itu ia beri nama lautan harapan. Tempat yang menawarkan keasingan.
Sebulan yang lalu ia berkemas. Memasukan angan dan meninggalkan kenangan.

Sebuah pulau, dimana burung merpati terbang kesana-kemari. Bunga mawarnya tumbuh tanpa duri. Airnya hangat dan menghidupi. Pepohonannya pandai bersandiwara dan berseri-seri.

Pria itu menuju kesana.
Dengan sampan, tanpa sedikitpun mengantisipasi rintangan.

Minggu pertama, lautan menawarkannya lumba-lumba. Mereka ramai berisyarat. Seperti malu-malu. Pria itu mengajaknya bersalaman. Lumba-lumba menyambutnya diam-diam. Mereka resmi berkenalan.
Kemudian lumba-lumba memperlihatkan betapa istimewanya lautan. Tempat yang terlalu damai untuk terlelap, dan terlalu dalam untuk mengerti. 
Mereka saling bercanda lama. Dalam tawa, kemudian pria itu bertanya,

"Lumba-lumba, siapa namamu?"

Lumba-lumba menjawabnya dengan menari. Kemudian pergi meninggalkan tanya dalam hati si pria.

Minggu kedua, lautan menawarkannya rembulan.
Dingin menyapa permukaan. Pria itu mengeluarkan kantung tidurnya. Ia berbaring menghadap rembulan. Sudah menjadi kebiasaan sejak awal pertemuannya dengan rembulan, setiap malam ia akan menunggu rembulan datang untuk berbincang-bincang.

"Hai, rembulan. Lihat, sekarang aku pakai kantung tidur. Kau mau memakai jaketku? Kau pasti kedinginan," sapa pria itu.

Rembulan membalasnya dengan senyuman.
Senyuman yang membuat pria itu tak sabar menunggu datangnya malam.

Seperti biasa, rembulan tak pernah mengajaknya bicara. Selalu meninggalkan rasa penasaran dalam hati si pria.

Minggu ketiga, lautan menawarkannya badai.
Pria itu sibuk menguras air dari sampan. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Perbekalannya hanyut. Gelombang laut membawanya naik turun. Hujan dan angin menyiksanya tak karuan.

Pria itu berusaha tetap mengapungkan sampannya dengan tekad dan perjuangan. Berpegang pada prinsip untuk sampai di daratan yang ia dambakan.

Kali ini badai yang membuka mulutnya,
"Lautan tak sesederhana yang kau kira, Tuan. Dan daratan tak sedekat yang kau sangka."

Pria itu tak menghiraukan. Ia tetap berusaha agar sampannya tetap terapung di lautan.

Minggu keempat, dalam lelah dan kegelisahan, pria itu terduduk dan tetap berusaha terjaga. Badai seminggu lalu menyisakan kehampaan dan penantian akan daratan yang tak kunjung datang.

Pria itu bertanya apa lagi yang akan disuguhkan oleh lautan padanya. Ia menunggu ditemani rasa penasaran. Dalam diam, sunyi membawa pria itu pada pembicaraan dengan dirinya sendiri.

Ia mencoba mengingat dan mengulang semua yang terjadi dalam tiga minggu terkahir. Dalam tafakur sunyi itu, si pria tersadar akan semua hal yang telah lautan suguhkan dalam perjalanan ini.

Ia mengerti. Potongan-potongan peristiwa melintas cepat dalam kepalanya.
Sampan. Membawa angan. Meninggalkan kenangan. Lautan harapan. Daratan yang menawan. Lumba-lumba. Rembulan. Badai.

Lumba-lumba. Rembulan. Badai.
Sekejap ia mengalihkan pandangan. Ia melihat sekelilingnya. Lautan harapan terbentang sejauh mata memandang.

Ia akhirnya mengerti.
Lautan menawarinya perkenalan, melalui lumba-lumba.
Lautan menawarinya kerinduan, melalui rembulan.
Kemudian lautan menawarinya rintangan, melalui badai.
Lautan telah membawanya pada sebuah perjalanan yang tak diduga.
Pria itu akhirnya mengerti.

Akhirnya, sesuatu menarik perhatiannya di ujung sana. Bersinar terang. Daratan. Daratan yang bercahaya. Daratan yang ia dambakan. Ingin sekali ia berteriak. Tubuhnya yang lelah seketika dihidupkan kembali. Ia melihat lebih jelas ke arah yang dituju. Di depan mata, perlahan tujuannya semakin terlihat jelas.

Di minggu keempat, daratan yang ia dambakan akhirnya terlihat. Muncul ke permukaan.

Daratan yang ia dambakan,
Muncul bersama matahari.

---
Aku tak ingin bangun dulu.

Saturday, 14 March 2015

Biar

Malam,
izinkan aku bicara dengan bulan.
Aku ingin mengajaknya keliling kota.
Jika tak bisa, biarkan aku mengantarnya pulang.
Jika tak dapat, biarkan aku menjadi alasan untuknya tertawa.
Jika tak sampai, biarkan aku mengingatkannya makan.
Jika tak suka, biarkan aku sekejap memandangnya.
Jika mustahil, izinkan aku mendoakannya.

Jika tetap tak bisa,
biarlah aku sesekali menyebut namanya diam-diam.