Tuesday, 23 August 2011

Bara bagi Apimu

Pagi, jarum jam menunjuk angka 4. Hening. Gelap. Ayam pun belum keluar. Hanya semayup suara angin yang melintas.
Ingin rasanya untuk kembali tidur dan bermimpi. Ah, andai lelap ini masih ada.
Aku masih terbaring. Sesekali menutup mata. Dan ribuan kali membayangkan. Berlayar bersama ribuan warna perasaan dan bayangan. Bergidik karena ngeri. Tersenyum karena berharap.


Dalam salah satu bayanganku, aku melihat kamu. Berdiri di geladak sebuah perahu. Pandanganmu lurus, kaku. Namun hangat. Dan tertuju padaku. Sesekali angin laut mengibas rambutmu dan memperlihatkan raut mukamu yang menggambarkan macam-macam perasaan. Tak dapat kusimpulkan.
Disana tak ada yang kau lakukan, aku lakukan. Kita hanya saling berpandang. Berharap bahwa pandangan ini akan membuat kita mengerti akan apa yang kita rasakan masing-masing. Karena bukankah dulu kau bilang, di dalam hatimu tersimpan hatiku. Maka tak perlu berucap. Kurasa cukup dengan berpandang. Atau mungkin saling menggenggam?

Terus kita saling memandang. Hingga akhirnya kau buka tirai diammu.
"Yang aku sangka sekarang, yang aku pikir sekarang, kamu bakal disini untuk aku. Kamu bakal ada demi aku," ucapmu lirih.

Sebelum aku pergi, aku pernah berjanji. Walau tanpa hitam diatas putih. Hanya isyarat di dalam hati.
Aku memang akan pulang, tapi tidak akan tinggal. Dulu kupikir kau tak menyimpan perasaan sama. Pikiran itulah yang membuatku pergi. Aku tak bisa menyimpan perasaan sendiri. Aku harus punya hati yang lain untuk melengkapi.

Dulu, aku memang bagaikan bara bagi apimu. Disampingmu selalu ada aku. Dalam semua ceritamu pasti terselip aku. Disemua kenanganmu pasti bersamaku. Namun apa salah bila aku simpulkan bahwa itu cinta sejati?
Mengapa kau menangis saat kuucapkan itu?
Apa aku salah?

Aku pergi dengan niat meninggalkan semua harapan yang kosong itu. Meninggalkan apiku.
Namu saat aku kembali, barulah kusadari. Bahwa kau bukan lagi api tanpa aku.
Kau takan berkobar tanpa aku.
Kini kau malah memperlihatkan air padaku. Melalui matamu.

Sudahlah, aku tak lagi bara. Walupun bara, aku tak lagi bara bagi apimu.


Aku membuka mata. Masih hening. Gelap. Ayam belum menampakkan aba-aba siapnya.
Tanganku saling menggenggam. Tak mau lagi menutup mata untuk berbayang-bayang. Tak akan kusesali keputusan ini.
Kulihat sekeliling. Koper dan ransel sudah siap. Aku akan segera berangkat pagi ini. Tanpa api, tanpa bara.

Monday, 8 August 2011

Dewi Lestari dan Dia

Kemarin malem paman dateng ke rumah. Dia bawa 2 buah buku. Yang pertama buku tentang catatan perjalanan, "Meraba Indonesia".

Yang satunya lagi, buku tentang segala hal. Buku yang punya daya magis ngebawa kita ke perasaan yang lebih dalam, "Rectoverso" karya fenomenal dari Dee - Dewi Lestari.
Buku yang dicap sebagai mahakarya pertama di Indonesia entah di dunia yang menggabungkan dua titik tumpu kreatifitas dan sastra. Dengan semboyan yang ia tuliskan di bukunya,
"Dengar Fiksinya, Baca Musiknya"

Rectoverso ia sebut sebagai Makhluk Hibrida. Emang bener. Buku ini ga cuma tulisan dan cerita. Tapi juga irama dan melodi. Jadi, dalam karya yang satu ini, Dee menggabungkan unsur prosa dengan unsur lagu. Di dalem bukunya tuh ga sekedar ada tulisan dan cerita. Tapi dipadukan dengan lagu yang memiliki judul yang sama. Membuat cerita dan lagu tersebut layaknya saling bercermin.

"Rectoverso" memiliki arti: pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Seperti yang ia bilang, "keberagaman sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi"


Mungkin ini yang namanya 'ngefans abis'. Tulisan-tulisannya Dee tuh bener-bener halus dan ditata sedemikian rapih. Punya formasi yang pas dan susunan alur yang menyentuh. Setiap moment dan keadaan tuh digambarkan dengan waktu yang sangat tepat.
"Musik, kisah, gambar, setiap not, irama, rima, dan garis menyajikan keunikan dan perbedaan yg tak perlu dipertentangkan."

Bener-bener bisa ngebuat kita tenggelam dalam perasaan yang lebih dalam yang telah ia gambarkan melalui bukunya. Seolah kita terlibat dalam cerita sang tokoh. Seolah kita ada di samping mereka dan ikut merasakan apa yang mereka rasa.


Saat saya tulis postingan ini, Rectoverso belum abis dibaca. Tapi ada satu cerita yang bener-bener nyentuh buat saya. Yang telah Dee tuliskan di bukunya. Judulnya, "Selamat Ulang Tahun".

Berkisah tentang seseorang yang sangat menghargai sebuah moment dan ketepatan waktu. Dia mengajari banyak orang tentang betapa berartinya ucapan di sebuah moment. Seperti teriakan 'Selamat Tahun Baru' yang harus diucapkan tepat pada jam 00.00. Atau tentang betapa sakralnya peluk cium pada tanggal 14 Februari.

Namun, ada satu moment dimana ia tidak bisa mengucapkan satu kata yang sangat sakral bagi seseorang. Padahal ia tahu bahwa semalaman orang itu menunggu. Stopwatch telah ia jalankan. Namun ia terlambat. Dan betapa tak berdayanya dia. Berharap waktu untuk diam sesaat. Karena ada "Selamat Ulang Tahun" yang belum sempat ia ucapkan. Tak ingin terlambat. Namun pada akhirnya, ia hanya bisa berharap waktu untuk kembali. Karena ada "Selamat Ulang Tahun" yang ingin ia sampaikan.

Disuatu tempat, seseorang telah lama menunggu. Ia terjaga. Menanti. Dan hanya ingin orang itu tau bahwa kemarin, hari ini, besok, lusa, dan kapanpun ia akan menunggu dan terjaga untuk sebuah kata,
"Selamat Ulang Tahun"


Gile, miris. Kerasa banget. Saya pernah ngerasain kejadian itu. Dan seolah Dee telah membaca fikiran saya dan menuangkan cerita itu ke bukunya. Cerita itu tentang saya sama 'dia'. Itu terjadi tanggal 19 April 2011. Waktu umur kita nginjek 1taun.

Waktu itu saya gak sadar. Baru ketika dia cerita tentang hari itu, saya ngerasa bersalah banget. Saya udah ninggalin cuma-cuma moment yang oleh setiap pasangan dianggap sakral itu.

Sebelum dia cerita, ada masalah kecil diantara kita. Yang kemudian maksa dia untuk cerita tentang hari itu.
"aku sedih. kamu gatau. aku keujanan beli kue untuk kita. aku nunggu kalimat dari kamu sampe subuh. sampe akhirnya aku ngerasa kalo semua usaha aku sia-sia."

Bener-bener ngerasa ga berguna. Bener-bener malu sama diri sendiri. Dan sama dia.
Saya gatau, mungkin sampe sekarang dia masih menyayangkan moment itu. Masih mengutuk-ngutuk saya dalam hati. Dan mungkin, sedihnya masih ada sampe sekarang.
Tapi dia tulus, ngerti, dan rela.

Pokonya semua jadi satu. Rectoverso.


Tuesday, 2 August 2011

Bangga

somlekum kawan, dulur, balad, brother, barudak, coy, ciiiyn, dan sisanya.

ga mau panjang-panjang.
saya sekarang udah SMA. bukan lagi SMP. bukan lagi putih-biru. bukan lagi SMP 7. bukan lagi orang yang bangun jam setengah 5 supaya ga ketinggalan tebengan. bukan lagi jl. ambon. bukan lagi saparua. bukan lagi... apaan yak? ya itulah pokonya.

tapi sekarang, saya SMA. saya putih-abu. saya SMAN 14 Bandung. dan saya bangga.

awalnya ngebet banget masuk ke SMA 2, yg saya dan teman-teman beri gelar 'Sekolah Idaman'.
sampe ikut japres, shalat 7 kali sehari, minta doa kesana-sini..
ternyata kalo emang udah ga jodoh ya mau gimana lagi.

si mama pernah bilang,
"berdoa supaya kamu dapet yang terbaik. Allah lebih tau mana yang terbaik buat kamu"
omongan orang tua emang ga ada yang salah. sedikit pun ga akan ada yang salah.
belum tentu SMA 2 adalah yang terbaik buat saya. karena disaat ini pun, saya udah ngerasa kalo SMA 14 adalah yang terbaik buat saya.

sekarang saya udah mulai bisa berbaur dengan lingkungan sekolah baru saya. saya udah mulai nemuin tawa saya, mimpi saya, teman saya, motivasi saya, tujuan saya, selama berada di SMA ini.
sekali lagi saya bangga.

mungkin ga masuk akal kenapa saya bangga dengan sekolah ini. sekolah yang ada di urutan cluster 3. sekolah yang tak di idam-idamkan. sekolah yang lahannya bagaikan sepetak sawah kalo dibandingin dengan SMA 2..
sekolah yang mungkin ga ngebanggain buat para siswanya.
tapi tetep, setiap sekolah, ga peduli gimana keadaannya, pasti bakal selalu dicintai sama siswanya. gak ada siswa yang ngebenci sekolahnya.

oh iya, waktu tes pemilihan osis kemaren, saya inget, di kolom VISI saya nulisin kaya gini:
VISI : Membuat SMAN 14 Bandung menjadi kebanggaan bagi para siswanya.

berbanggalah, kawan. semakin kita bangga, semakin rasa percaya diri kita bakal tumbuh. semakin kita percaya diri, tujuan yang kita capai bakal semakin bulat. biarpun kita gagal, percaya diri bakal ngebimbing kita ke keteguhan hati yang ga bakal tumbang.

saya lagam, dan saya bangga dengan diri saya.





dia sempet bilang,
"agam di 14 jadi anak yang rajin, yaa. jangan males belajar, kalo uts belajar yang bener jangan pulang sekolah terus main ya hehehe. tetep aktif kalo ada event-event, tetep jadi agam yang gila. yang punya ide-ide brilliant! okaaaaaaaay?"

"okay :)"