Monday, 8 August 2011

Dewi Lestari dan Dia

Kemarin malem paman dateng ke rumah. Dia bawa 2 buah buku. Yang pertama buku tentang catatan perjalanan, "Meraba Indonesia".

Yang satunya lagi, buku tentang segala hal. Buku yang punya daya magis ngebawa kita ke perasaan yang lebih dalam, "Rectoverso" karya fenomenal dari Dee - Dewi Lestari.
Buku yang dicap sebagai mahakarya pertama di Indonesia entah di dunia yang menggabungkan dua titik tumpu kreatifitas dan sastra. Dengan semboyan yang ia tuliskan di bukunya,
"Dengar Fiksinya, Baca Musiknya"

Rectoverso ia sebut sebagai Makhluk Hibrida. Emang bener. Buku ini ga cuma tulisan dan cerita. Tapi juga irama dan melodi. Jadi, dalam karya yang satu ini, Dee menggabungkan unsur prosa dengan unsur lagu. Di dalem bukunya tuh ga sekedar ada tulisan dan cerita. Tapi dipadukan dengan lagu yang memiliki judul yang sama. Membuat cerita dan lagu tersebut layaknya saling bercermin.

"Rectoverso" memiliki arti: pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Seperti yang ia bilang, "keberagaman sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi"


Mungkin ini yang namanya 'ngefans abis'. Tulisan-tulisannya Dee tuh bener-bener halus dan ditata sedemikian rapih. Punya formasi yang pas dan susunan alur yang menyentuh. Setiap moment dan keadaan tuh digambarkan dengan waktu yang sangat tepat.
"Musik, kisah, gambar, setiap not, irama, rima, dan garis menyajikan keunikan dan perbedaan yg tak perlu dipertentangkan."

Bener-bener bisa ngebuat kita tenggelam dalam perasaan yang lebih dalam yang telah ia gambarkan melalui bukunya. Seolah kita terlibat dalam cerita sang tokoh. Seolah kita ada di samping mereka dan ikut merasakan apa yang mereka rasa.


Saat saya tulis postingan ini, Rectoverso belum abis dibaca. Tapi ada satu cerita yang bener-bener nyentuh buat saya. Yang telah Dee tuliskan di bukunya. Judulnya, "Selamat Ulang Tahun".

Berkisah tentang seseorang yang sangat menghargai sebuah moment dan ketepatan waktu. Dia mengajari banyak orang tentang betapa berartinya ucapan di sebuah moment. Seperti teriakan 'Selamat Tahun Baru' yang harus diucapkan tepat pada jam 00.00. Atau tentang betapa sakralnya peluk cium pada tanggal 14 Februari.

Namun, ada satu moment dimana ia tidak bisa mengucapkan satu kata yang sangat sakral bagi seseorang. Padahal ia tahu bahwa semalaman orang itu menunggu. Stopwatch telah ia jalankan. Namun ia terlambat. Dan betapa tak berdayanya dia. Berharap waktu untuk diam sesaat. Karena ada "Selamat Ulang Tahun" yang belum sempat ia ucapkan. Tak ingin terlambat. Namun pada akhirnya, ia hanya bisa berharap waktu untuk kembali. Karena ada "Selamat Ulang Tahun" yang ingin ia sampaikan.

Disuatu tempat, seseorang telah lama menunggu. Ia terjaga. Menanti. Dan hanya ingin orang itu tau bahwa kemarin, hari ini, besok, lusa, dan kapanpun ia akan menunggu dan terjaga untuk sebuah kata,
"Selamat Ulang Tahun"


Gile, miris. Kerasa banget. Saya pernah ngerasain kejadian itu. Dan seolah Dee telah membaca fikiran saya dan menuangkan cerita itu ke bukunya. Cerita itu tentang saya sama 'dia'. Itu terjadi tanggal 19 April 2011. Waktu umur kita nginjek 1taun.

Waktu itu saya gak sadar. Baru ketika dia cerita tentang hari itu, saya ngerasa bersalah banget. Saya udah ninggalin cuma-cuma moment yang oleh setiap pasangan dianggap sakral itu.

Sebelum dia cerita, ada masalah kecil diantara kita. Yang kemudian maksa dia untuk cerita tentang hari itu.
"aku sedih. kamu gatau. aku keujanan beli kue untuk kita. aku nunggu kalimat dari kamu sampe subuh. sampe akhirnya aku ngerasa kalo semua usaha aku sia-sia."

Bener-bener ngerasa ga berguna. Bener-bener malu sama diri sendiri. Dan sama dia.
Saya gatau, mungkin sampe sekarang dia masih menyayangkan moment itu. Masih mengutuk-ngutuk saya dalam hati. Dan mungkin, sedihnya masih ada sampe sekarang.
Tapi dia tulus, ngerti, dan rela.

Pokonya semua jadi satu. Rectoverso.


No comments:

Post a Comment