Itu serangkaian kata yang bener-bener JUARRA.
Melambangkan betapa berkharisma dan bersimbolnya suatu iket kepala. Udah bener-bener jadi lambang buat orang sunda.
Pada awalnya kain iket hanya mengenal dua warna, putih dan hitam. Warna putih diperuntukan bagi orang yang dianggap sepuh atau yang ditokohkan, sedangkan warna hitam untuk masyarakat biasa. Kemudian dengan semakin berkembangnya budaya, iket di setiap daerah mengenal berbagai motif, corak maupun warna sesuai identitas daerah.
Menurut Abah Ilin, sesepuh Kampung Adat Cikondang, Manglajang, Pangalengan, iket terdiri dari empat jenis:
Iket Barangbang Semplak
Iket yang sangat sederhana dan
mudah membentuknya. Ciri khas iket ini terletak pada bagian kain
berbentuk segitiga yang menjuntai (jurai/cula badak) di belakang kepala
yang menyerupai pelepah daun kelapa rebah.
Pengguna
iket jenis ini biasanya mereka yang berprofesi pekerja yang membutuhkan
waktu cepat dan ringkas, seperti petani, kusir delman, jawara atau
jagoan, serta pedagang hewan (ayam, kerbau atau domba).
Iket Paros atau Parengkos
Iket ini dibentuk dengan cara
dilipat dan diputar. Parengkos adalah menarik kain segitiga yang
menjuntai ke belakang sehingga menutup bagian atas kepala, dan untuk
menguatkannya ujung kain diikat di bagian belakang. Jenis iket ini
paling banyak macamnya, ada parengkos nangka, parengkos jengkol,
parengkos koncer, parengkos jahen dan lainnya. Iket jenis ini basanya
dikenakan bagi mereka yang hendak bekerja, sekolah, beribadah dan
kegiatan resmi.
Iket Kuda Ngencar
Iket ini bentuknya sangat
sederhana karena berupa lilitan kain segi empat yang kemudian dibentuk
menjadi segitiga dan diikat di bagian belakang, dan bagian atas
dibiarkan terbuka. Jenis iket ini biasa dikenakan anak-anak muda yang
hendak bepergian jauh, seperti banyak dilakukan warga Baduy luar.
Iket Porteng
Jenis iket ini sangat berbeda
dengan jenis iket lainnya. Bentuknya seperti mengenakan sorban dengan
bagian atas kepala terbuka. Pada bagian depan maupun belakang tidak
terdapat hiasan berupa jurai atau cula badak. Pada Iket Porteng
diperkuat tanpa ikatan melainkan dengan cara menyelipkan ujung kain
lilitan di bawah lilitan kain.
Seperti halnya layangan dan kaleci, iket sunda juga ga bisa mengelak dari musim atau zaman.
Kalo bukan kita yang memakai dan melestarikannya, siapa lagi?
Post-nya yg ini juara Gam!
ReplyDelete