Saturday, 8 September 2012

Natalie

Selamat Malam.

Hari ini melelahkan yang menyenangkan, membahagiakan, menyadarkan, mengingatkan, dan menyempurnakan. Tapi tetep dalam kata melelahkan.

Begitu pulang dari Pelatihan Kepemimpinan di Secapa selama 6 hari, langsung harus berangkat lagi ke studio. Padahal otak dan hati ini sudah harus segera mencari telinga untuk bercerita dan berbagi pengalaman.
Tapi gue harus berangkat. Begitu liat motor mio ga ada di garasi, langsung mendadak bodo.
Tapi untung ada sesuatu yang bikin gue ngerasa beruntung jadi bodo.
Namanya Natalie.

Natalie itu tipe yang gampang disayang. Ga gampang dilepas, walau seribu rintang berada diantara kita. Ga gampang juga diurusnya.
Karena dia juga gampang ngambek, gampang pundung, ga pernah mau diajak jalan kalo belum panas.
Dia emang bener-bener tipe yang gampang disayang. Dan sekali jatuh cinta, ga akan ada orang yang berani ngelepasnya.

Ibarat mawar.
Indah tetapi tidak mudah.
Natalie punya keistimewaan tersendiri.

Malam ini, Natalie-lah yang bertugas mengantar gue kesana-kemari karena mio entah sedang berada dimana. Kita berkeliling dan jauh bercerita tentang malam ini. Malam Minggu.
Berkelabat bersama Natalie di meriahnya jalanan. Temaram lampu menjadi bingkai dalam berbagi cerita. Gue emang selalu cerita ke dia. Walau tanpa kata, tapi kebersamaan kita sudah cukup untuk saling bercerita. Diam yang kita ciptakan itu agung, kokoh, bagai gunung menjulang yang dilihat dari kejauhan.
Keindahanmu membawa senyuman yang telah lama padam.
Walaupun kau bukanlah milikku, Oh Natalie....



Natalie, motor produksi tahun '80, milik kaka ipar.


No comments:

Post a Comment