Pesat mengkilat lebih dari pesawat.
Aku yang dulu tak tahu malu kini sudah mulai bisa tersipu.
Aku yang dulu mengikuti kini sudah mulai terbiasa membuat sendiri.
Bahkan orang-orang itu kini malah ikut meramaikan jalananku.
Semua terlihat sama, sama seperti biasanya.
Semua terlihat sama, tapi aku dimana.Terjebak, memang bukan hal tepat, katamu.
Pulang, kembali, jauh lebih berarti.
Pulang, yang menggambarkan bebas, lepas, tak perlu terjebak.
Dan walaupun satu saat nanti akan pergi, pasti akan pulang lagi.
Seribu betul, pulang memang kata yang tepat.
Sebuah perahu berlabuh di sebuah dermaga. Dermaga unik yang mungkin takkan ada lagi diluar sana.
Dermaga dengan motif bunga, namun dengan pondasi yang sekokoh baja.
Betah, ucap perahu itu.
Ia akan terus mengingatnya, meski tak mungkin untuk terus berada disana.
Mengapa tak diam dan berhenti berlayar?
Kebahagiaan itu sudah kau dapatkan, wahai perahu.
Ia bilang, hidup tak dapat ditawar hanya dengan itu.
Akan tetap ada yang tak diucapkan. Yang lebih dalam dari sekedar makna kebahagiaan.
Tak ingin mengerti, kataku.
Di antara ragam rupa warna wajah yang terlihat.
Tak satupun yang dapat ku rangkul dan peluk.Karena walau bagaimanapun, meski aku coba pergi, tak akan ada lagi dermaga seindah itu. Tak kuat aku bila harus memaksa pergi dan mencari lagi.
No comments:
Post a Comment