"Tanpa mimpi, manusia macam kita ni akan mati, Boi."Aku sedang dalam puncak kenikmatan dalam bermimpi. Saking nikmatnya kuganti kata ganti orang pertamaku menjadi 'aku'. Semua gara-gara novel Sang Pemimpi. Semua gara-gara Andrea Hirata. Ah, semua gara-gara Zakiah Nurmala, tokoh dalam novel itu.
Selalu ada daya magis dalam sebuah novel yang dapat menciptakan sebuah daya cipta dalam rasa manusia. Seolah novel itu menjadi sebuah refleksi dari apa yang harus dilakukan. Hal-hal baru yang aku temui di setiap novel menggiringku untuk menggilainya.
Karena novel Sang Pemimpi itulah aku sekarang sedang giat-giatnya berlogat Melayu. Sedang giat-giatnya mengajak orang bermimpi. Sedang giat-giatnya merangkai mimpi dan menciptakan jalan untuk sampai disana.
Bukan yang pertama, berkali-kali aku terlalu larut dalam sebuah cerita. Berharap tak bisa kubedakan mana imaji mana realita. Tapi berkat itulah, sebulan yang lalu, saat selesai menutup halaman terakhir Partikel, Dee, segera aku temui Mama, bilang padanya aku ingin keliling Indonesia, lalu keliling dunia. Selesai mendeklarasikan imajiku, langkah pertama langsung kuambil: Les Bahasa Inggris.
Ternyata imaji bila kita sikapi dengan bijak akan menjadi tempat berpijak yang nyaman.
Ini menjadi pelajaran yang bisa kubagi: Bila ingin memperdaya manusia, perdaya dia melalui tulisan.
Bukan tulisan-tulisan itu sebenarnya yang ingin aku bagi. Melainkan mimpi-mimpiku. Aku ingin menerbangkan mereka semua. Seperti kata Arai, "Terbangkanlah mimpimu setinggi langit, niscaya Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu."
Du Vrangr Gata, Jalan Tanpa Arah ini akan menjadi perjanjianku dengan hidup.
Aku ingin keliling Indonesia. Menceritakan kotaku di kota lain. Menyapa hangat beribu logat dan kebiasaan. Menapakkan kakiku di puncak-puncak tertinggi di Jawa, Lombok, Sumatera, dan Papua. Menjelajahi pantai hingga melewati samudera. Menyebrangi pulau sebagai sebuah kebiasaan. Dan kembali ke rumahku membawa seribu rindu dan pengalaman.
Kemudian keliling dunia. Menjelajahi museum-museum terkemuka. Berkenalan melalui sejarah mereka. Mengunjungi tempat-tempat luar biasa. Merunut Ley Lines sampai ke Glastonbury. Membaca buku Chicken Soup di taman bunga Keukenhof. Berkeliling takjub bukan untuk membaca buku, di perpustakaan Utrecht. Berkeliling dengan jersey Manchester United di Old Trafford. Minum kopi buatan sendiri di bantaran sungai Seine. Memberi makan burung di Central Park. Menjelajah Afrika. Menjadi muadzin di Masjid Quba. Membawa Mama ke Baitullah. Kemudian kembali ke rumah membawa seribu rindu dan pengalaman.
Setelah sampai di rumah, aku akan berkeliling, menghadapi semua perubahan yang terjadi selama aku pergi.
Akankah mereka berhenti bergerak ketika aku pergi? Menunggu aku kembali untuk kemudian bergerak lagi. Jadi tak ada yang berubah walau aku tinggal selama apapun. Tetap bisa aku nikmati dengan perasaan yang sama dengan dulu ketika aku senantiasa menyapa mereka setiap pagi.
Tapi apa artinya rindu bila begitu? Tak mungkin, karena ternyata rindu itu mengalir, dengan anak sungai yang melekat disetiap rasa yang kau bagi, waktu mereka bukan sekedar tuk hidup. Tetapi menghidupi.
Seperti imaji. Mengalir tanpa henti.
Selamat malam.
wow
ReplyDelete