Thursday, 29 May 2014

WB

      Kami hanya sekumpulan anak yang berkumpul tanpa sengaja dengan tujuan yang sama: sekedar mencari tempat untuk duduk. Hingga akhirnya terseret arus waktu untuk saling bicara, mengenal, berbagi, bercanda, hingga saling menghina. Tak ada yang mengundang, dan tak ada yang mengusir. Tak ada ketua, tak ada anggota, dan tak ada aturan.
Orang-orang memanggil kami dengan sebutan anak-anak WB. Entah itu singkatan dari Warung Belakang, Warung Barudak, Warung Bu Tarzan, Warner Brothers, Backstore, atau apalah, tak pernah ada yang tahu pasti. Karena memang tak ada yang pernah menamakannya dengan pasti.

Warung ini menampung siapa saja yang kelaparan, butuh teman curhat, nyari rokok ketengan, pengen beli pop ice, ngopi, berteduh waktu ujan, numpang parkir, ngerjain pr, ngehina orang, mabal pelajaran, ketawa-ketawa, pokonya warung ini nampung semua aktifitas SMA kita. Maka dari itu, tanpa kita sadari, warung ini menyimpan potret kehidupan masa-masa dimana seragam putih-abu melekat di tubuh, dan antusias pencarian jati diri melekat dalam hati kita.

Kita semua punya Ibu WB yang baiiiiiik banget. Selalu tersenyum dan sabar menghadapi cobaan berupa konsumen anak-anak SMA liar yang ga bisa hidup tanpa lepas dari kata ngutang dan lupa bayar. Ibu WB selalu manggil kita dengan awalan 'Dek'.
Dek Lagam, ini nutrisarinya. Dek Lagam, nasinya abis hihihihi, maap, yaa. Dek Lagam, udah jam 5    
Oh iya! Seperti senja yang tak pernah indah selamanya, WB juga punya waktu-waktu khusus dimana kita emang ga boleh ada di sana. Berlaku sejak 2014, jam 5 sore adalah waktu dimana anak-anak harus pergi dari WB. Bukan, bukan karena kita harus segera ke mesjid untuk siap-siap shalat, tapi ini adalah bentuk penghindaran kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dan hal yang tidak diinginkan ini emang cukup menyeramkan, sodara-sodara.

Semua ini berawal dari kebiasaan kita yang nongkrong sampe malem di WB. Kalo udah asik emang ga pernah inget waktu. Ga inget juga sama tetangga yang kayanya jengkel dengerin suara kita ketawa keras-keras. Akhirnya di suatu sore yang tak seorang pun menduga, tentara dengan baju you can see tiba-tiba ngempesin motor anak-anak. Perilaku terpuji ngempesin ban motor orang ini emang udah beberapa kali kejadian. Sebenernya ini emang salah anak-anak juga yang bandel banget ga pernah nurut dengan omongan beberapa kali untuk ga ribut, parkir rapih, dan ga nongkrong lebih dari jam 5 sore.
Ngeliat salah satu motor dikempesin, anak-anak langsung kalang kabut pergi dari WB. Salah seorang teman kita yang sayang terhadap sesama sedikit kesinggung dengan kelakuan terpuji om-om tentara itu. Dia nyamperin si om-om you can see dan bertanya ada apa gerangan tiba-tiba ngempesin motor orang?
Dialog teredaksi silih berganti dari mulut temen gue dengan mulut si om om you can see.

Akhirnya si om pulang. Tapi berhubung darah muda darahnya para remaja, temen gue ngikutin si om-om you can see nyampe rumahnya. Sebenernya niat temen gue tuh baik. Dia cuma pengen nanya baik-baik ke si om kenapa tiba-tiba maen ngempesin ban aja? Kenapa ga dikasih peringatan dulu atau semacamnya. Cuma si om keburu ngerasa tersungging dengan kelakuan teman gue itu.
Akhirnya hari berlalu dan tukang teri beli tahu.

Dan sodara-sodara, tenyata kejadian itu memanjang sepanjang tembok cina membentang. Gue, Ramdhani, dan Aldy sampe dipanggil ke kantor Pusenif untuk menandatangani surat perjanjian ga nongkrong lagi di WB di atas jam 5. Ini semua demi barudak dan ibu WB.

Bukan cuma itu, provoost adalah momok yang menakutkan bagi anak-anak WB. Sebagian dari kita udah ada yang disuruh push up, dikejar kesana-sini, helmnya dilempar ke solokan, diancam dipukul, kartu pelajar ditahan, orang tua dipanggil tapi ga dateng-dateng, dan pernah suatu malem kabur dari kejaran provoost sampe kepala hampir kena portal komplek yang ditutup untuk ngurung anak-anak.
Salah seorang pernah nyeletuk tentang asal kata WB, Warner Brothers. Katanya Waner Brothers itu artinya 'Sodara-sodara yang diperingatkan'. Mungkin kita adalah kumpulan anak-anak yang selalu diperingatkan provoost untuk berhenti berbuat onar di lingkungan tentara.

Selingan anak-anak selain nongkrong di WB adalah maen PS, karaoke, nongkrong di babakan siliwangi, futsal, jual pesona ke ade kelas, villa, pantai, jalan-jalan men, renang, numoang tidur di rumah orang, sampe berburu banci....
Berburu banci ini semacam olahraga adrenalin yang recommended banget, boi. Jadi gini ceritanya.
...
Semua berawal dari acara HBD Fahd. Kebiasaan anak-anak, kalo ada yang ulang tahun, kita berusaha sebisa mungkin untuk ngebuat hari ulang tahun itu berkesan bagi pemiliknya. Kebetulan, di ulang tahun Fahd yang satu ini, kita sengaja ngedatengin rumahnya tengah malem. Biar jadi yang pertama ngucapin gitu.
Blablablabla singkat cerita rencana sukses. Fahd berhasil dikasih surprise. Anak-anak berhasil makanin kuenya Fahd. Denis bahkan sampe makan kue tart pake nasi (serius...).
Beres dari rumah Fahd, kurang asoy rasanya kalo langsung pulang. Malam ini terlalu panjang untuk dilewati sendirian, boi. Apalagi Fahd udah masok kebutuhan kalori dengan acara makan-makan. Akhirnya anak-anak ngerencanain jalan-jalan malam. Atau yang biasa kita sebut dengan kegiatan 'Longnite, proooyyyyy!'

Gean semangat banget dengan longnite. Kayanya dia emang udah punya rencana untuk ngelewatin malem dengan otak kreatifitas tanpa batasnya. Anak-anak nurut. Awalnya kita cuma keliling-keliling kota Bandung sambil teriak-teriak. Mampir dan menyapa setiap sisi Kota Bandung yang tak pernah terlelap itu.
Sampe akhirnya acara utama dimulai. Semua motor anak-anak berhenti. Gean ngebagiin tabung kertas bekas kembang api yang dia pungut di jalan. Tabung itu dipake sebagai amunisi buat acara utama: Berburu banci. Gue yang baru pertama denger yang begituan jujur ngerasa deg-degan. Akhirnya semua tancap gas.
Mula-mula kita ngelewat Jalan Belitung, ngeliat sasaran. Wah ternyata emang banyak banget banci disono, bung. Belok ke Jalan Kalimantan. Masuk ke Jalan Jawa, nyusun barisan. Begitu belok ke Jalan Sunda, anak-anak ngasih peringatan untuk siap, dan memperlambat motor. Kita bakal nyerang markas germo di Jalan Sunda. Di kejauhan udah keliatan sekumpulan orang dengan dress plus high heels. Kita kunci itu sebagai target. Dalam hitungan tiga, dua, satu yang diaba-abakan dalam hati, kita tancap gas kaya kesetanan. Maju pantang mundur ke arah target, dalam jarak sepelemparan batu, anak-anak langsung teriak-teriak sambil ngelempar-lemparin amunisi.
"TOBAT SIA, ANJIINGGGG!!"
"GEURA TOBAT, WOOOY!!"
"WOAAAAAAA!!"

Kita udah kaya mafia menyuarakan taubat.
Banci-banci pada teriak dengan suara cewek, lari-lari, nyari perlindungan.
Dan penyerangan itu ga cuma sekali. Tapi berkali-kali dalam satu malam. Di penyerangan selanjutnya, amunisi kita ganti pake niji pohon mahoni, sampe ga bawa amunisi sama-sekali. Cuma nendang-nendang sambil teriak-teriak. Penyerangan kita disambut dengan lemparan high heels, wig, tas, sampe beberapa banci nyoba ngejar kita.
Gila, adrenalin bener-bener dipompa. Rasanya sama dengan dikejar sama provoost. Cuma yang ini dilemparinnya pake wig. Lepas dari itu gue gabisa lupa sama kita semua yang ketawa-ketawa puas sepanjang jalan pulang. Sesekali ngeliat ke belakang barangkali ada yang ngikutin.
Subuh itu muadzin nampaknya sudah mengambil air wudlu. Dan kita sedang diperjalanan kembali ke tempat asal, SMAN 14.

---

Ada satu moment yang gue inget sampe sekarang di pagi itu.
Sesampainya di 14 kita masih ketawa-ketawa, deg-degan gue udah ilang. Kita duduk cerita-cerita di lapangan basket. Saling pandang dalam kelelahan dan pengalaman luar biasa. Satu lagi kisah luar biasa lahir dari orang-orang yang ga pernah sengaja untuk kumpul ini.

Beberapa dari kita pergi ke tengah lapangan basket. Di dalam lingkaran jump-ball, kita telentang. Ubun-ubun kita saling bertemu. Melihat langit subuh yang merekah indah.
Satu orang nyalain lagu Payung Teduh, Rahasia.

"Beuh mantap. Momen langka, boi. Kabeh caricing, nyak. Ulah aya nu nyanyi, tapi ulah aya nu sare," satu pernyataan mustahil baru aja keluar dari salah satu mulut.

Emang mustahil, karena pada akhirnya kita terlelap. Entah terlelap dalam kantuk, entah terlelap dalam suasana seteduh fajar yang hendak merekah. Yang jelas, gue terlelap banget sama kalian. Terlelap sampe rasanya ga mau bangun. Mungkin secara denotasi gue terbuai sampe rasanya ga mau untuk lulus SMA, dan berpisah dengan kalian semua.

Kalian adalah seteduh atap saat hujan, dan sesungging senyum saat tangis.
Satu keluarga baru yang ngebawa gue ke tingkat tertinggi persahabatan. Ga ada batas, ga ada massa, ga ada waktu. Dengan kalian gue ngerasain yang namanya terbang tinggi ke langit, sampe jatuh nabrak tanah sekeras-kerasnya. Gue pernah ngerasain hal yang paling mulia, sampe hal yang paling hina sekalipun.

Gue ga akan pernah lupa.

Dalam tulisan ini, tolong ingat, kalau di suatu waktu dalam kehidupan yang fana ini kita pernah bertemu, berkenalan, duduk bersama, jalan bersama, mencari jati diri bersama, menyusun masa depan bersama, melawan arus takdir bersama. Semuanya pernah kita lakukan bersama dalam naungan semesta yang mempertemukan kita di balutan jubah putih-abu dengan membawa nama sekolah yang sama.
Berjalanlah terus. Hingga pada akhirnya suatu hari nanti salah satu dari kita tak bisa lagi berjalan, yakinlah bahwa kami akan datang dan menopangmu di bahu kami, hingga kita semua sampai di tujuan bersama-sama. Berjanjilah untuk menembus jauh dunia ini, kemudian balikkan. Lakukan semuanya demi hal yang kalian anggap berharga, dan demi barudak.




Saya selalu bangga dengan apa yang pernah saya lakukan
di masa remaja ini dengan kalian.

4 comments: