Mataku terpejam, meski tidak sedang mencoba untuk tidur. Padahal perjalanan turun dari Gunung Semeru kemarin masih menyisakan sedikit lelah. Kursi Kereta Api Malabar kelas bisnis yang aku duduki sekarang sudah selayaknya menjadi tempat beristirahat yang nyaman. Suara gerbong dan temaram langit senja menjadi latar yang benar-benar cocok untuk melepas penat dan terlelap.
Mataku terpejam, tapi hatiku sepenuhnya terjaga.
Galang, yang sebelum senja duduk disampingku sedang menghampiri Lingga, Gala, dan Gangan di kelas ekonomi. Keadaan menjadi sedikit lebih baik. Karena tak ada yang harus kuajak bicara.
Pandanganku beralih ke jendela. Barisan pohon jati yang bergerak mundur digantikan pedesaan dan tembok-tembok tua. Jalan-jalan di sana kosong. Pemandangan yang nyaman bagiku untuk saat ini. Karena tak perlu ada yang harus kuperhatikan.
Dalam tudung senja, sudut mataku menangkap sekilat cahaya diantara rumah dan pepohonan. Cahaya Sang Surya.
Matahari yang sejak tadi mencuri-curi pandang padaku, seolah berharap mendapat sedikit perhatian di akhir waktunya hari ini. Matahari itu berusaha mengajakku bicara. Mungkin sekedar salam perpisahan yang ingin dia ucapkan.
Pandanganku terpaku ke ujung langit. Matahari itu perlahan jatuh dalam dekap ketiadaan. Mataku terus mengikutinya. Sejenak kita bagaikan dua sobat lama yang bertatap muka sambil berusaha mengingat kembali siapa yang ada dihadapan.
Perlahan aku mengerti, matahari itu sedang mencoba mencuri. Mencuri pandangku meski sekejap saja.
Dadaku mendadak sesak.
**
Kota Malang siang itu layaknya pasar tumpah. Seisi kereta kini sudah berpindah tempat ke stasiun. Menemui kerabat, saudara, kekasih, dan siapa saja yang sudah menunggu kehadiran mereka di kota ini. Supir angkot dan kondektur juga menyambut para penumpang yang menggendong keril dengan tinggi setengah tubuhnya dengan tawaran jasa transportasi ke Tumpang.
Agustus ini memang menjadi bulannya para pendaki. Ribuan orang dari semua penjuru nusantara bahkan mancanegara datang kemari. Demi menyaksikan perhelatan antara awan dan langit di puncak abadi para dewa, Mahameru. Aku pun tak terkecuali. Ini kali pertama bagiku mendaki gunung di luar Jawa Barat. Ini akan menjadi pendakian yang luar biasa. Apalagi mendaki bersama dua lusin 'barudak'.
"Le!" teriakan yang sudah tak asing di telingaku.
Pria setinggi bahuku dengan suara cempreng namun memiliki intonasi yang dalam itu menghampiriku. Namanya Lingga. Hampir tiga tahun aku satu kelas dengannya di sekolah. Dia sudah tiga hari lebih dulu ada di Malang. Bersama dua orang lainnya yang juga kenalanku, mereka merayu Pulau Sempu terlebih dahulu sebelum memuja Mahameru. Mereka sengaja menunggu rombongan kami di stasiun sejak kemarin malam. Dari sini, mereka memulai semuanya bersama-sama dengan kami.
"Sare dimana maneh?"
"Tuh," jawab Lingga sambil menunjuk ceruk kecil di samping stasiun. Tersandar tiga keril yang telah dipacking rapi di sana. "Kepaksa tidur di situ. Soalnya ternyata dilarang tidur di dalem stasiun."
"Emang cocokna sare di dinya maneh mah."
"Kampret..," Lingga tersenyum sinis. "Udah sekarang siap-siap lanjut ke Tumpang. Kita harus cepet nyampe pos pendaftaran TNBTS sebelum penuh. Urang mau nyari angkutannya dulu."
Sambil menunggu, beberapa orang membahas cerita-cerita konyol sepanjang perjalanan kereta, beberapa lagi menghabiskan waktu dengan asap rokoknya. Aku memilih untuk melihat-lihat sekitar. Terlalu sayang rasanya bila stasiun ini hanya dijadikan sekedar tempat singgah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah tangan melambai tinggi padaku. Aku memicingkan mata, berusaha melihat sang pemilik tangan. Seorang kakek setengah baya berusaha melepaskan diri dari keramaian dan berjalan ke arahku dengan tatapan rindu.
Agustus ini memang menjadi bulannya para pendaki. Ribuan orang dari semua penjuru nusantara bahkan mancanegara datang kemari. Demi menyaksikan perhelatan antara awan dan langit di puncak abadi para dewa, Mahameru. Aku pun tak terkecuali. Ini kali pertama bagiku mendaki gunung di luar Jawa Barat. Ini akan menjadi pendakian yang luar biasa. Apalagi mendaki bersama dua lusin 'barudak'.
"Le!" teriakan yang sudah tak asing di telingaku.
Pria setinggi bahuku dengan suara cempreng namun memiliki intonasi yang dalam itu menghampiriku. Namanya Lingga. Hampir tiga tahun aku satu kelas dengannya di sekolah. Dia sudah tiga hari lebih dulu ada di Malang. Bersama dua orang lainnya yang juga kenalanku, mereka merayu Pulau Sempu terlebih dahulu sebelum memuja Mahameru. Mereka sengaja menunggu rombongan kami di stasiun sejak kemarin malam. Dari sini, mereka memulai semuanya bersama-sama dengan kami.
"Sare dimana maneh?"
"Tuh," jawab Lingga sambil menunjuk ceruk kecil di samping stasiun. Tersandar tiga keril yang telah dipacking rapi di sana. "Kepaksa tidur di situ. Soalnya ternyata dilarang tidur di dalem stasiun."
"Emang cocokna sare di dinya maneh mah."
"Kampret..," Lingga tersenyum sinis. "Udah sekarang siap-siap lanjut ke Tumpang. Kita harus cepet nyampe pos pendaftaran TNBTS sebelum penuh. Urang mau nyari angkutannya dulu."
Sambil menunggu, beberapa orang membahas cerita-cerita konyol sepanjang perjalanan kereta, beberapa lagi menghabiskan waktu dengan asap rokoknya. Aku memilih untuk melihat-lihat sekitar. Terlalu sayang rasanya bila stasiun ini hanya dijadikan sekedar tempat singgah.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah tangan melambai tinggi padaku. Aku memicingkan mata, berusaha melihat sang pemilik tangan. Seorang kakek setengah baya berusaha melepaskan diri dari keramaian dan berjalan ke arahku dengan tatapan rindu.
Aku masih memicingkan mata.
**
Pagi itu, seorang kakek yang akrab disapa Eyang, bangun lebih pagi dari jam wekernya. Jam weker yang sudah menemaninya selama hampir satu dekade. Jam itu ia gunakan selepas kepergian istrinya, agar ia masih bisa bangun pagi meski tanpa teriakan sang istri.
Hari ini ia merasa sepuluh tahun lebih muda. Setelah melakukan sedikit peregangan, ia bergegas ke kamar mandi dengan sedikit bersenandung. Tampaknya ini hari yang sedikit berbeda dari hari-hari membosankan yang ia lalui sebelumnya.
Eyang sedikit menggigil saat keluar dari kamar mandi. Segera ia menuju lemari. Mengamati satu-persatu tumpukan baju disana.
Beberapa detik berlalu. Hanya beberapa kali dalam hidupnya ia merasa bingung ketika dihadapkan dengan lemari baju. Eyang tak begitu tertarik dengan urusan pakaian.
Tapi hari ini lain. Hari ini cukup istimewa baginya.
Beberapa detik berlalu. Hanya beberapa kali dalam hidupnya ia merasa bingung ketika dihadapkan dengan lemari baju. Eyang tak begitu tertarik dengan urusan pakaian.
Tapi hari ini lain. Hari ini cukup istimewa baginya.
Akhirnya ia memilih setelan kemeja kotak-kotak lengan pendek dan celana corduroy coklat muda. Ia berkaca sambil memasukkan kemejanya ke dalam celana. Setelah merapikan rambutnya, ia menyelipkan sisir di saku celana.
Dalam pantulan cermin, ia merasa masih ada yang kurang dengan penampilannya hari ini. Sudut matanya menangkap bagian atas lemari dimana topi safarinya diam ditemani debu. Ia mengambil topi itu. Memutar-mutarnya dengan sebelah tangan, dan menepuk-nepuk seputaran topi itu dengan tangan yang lain. Dipakaikannya topi itu di kepala. Bergaya sedikit di depan kaca dan tertawa kecil menyadari betapa bergairahnya dia hari ini. Tak lama, tawanya berganti dengan segaris senyuman. Eyang melihat lagi dirinya di cermin. Jelas sejak berpakaian tadi ia ingin terlihat gaya hari ini.
Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan cucunya itu. Selepas tersenyum, ia melepas topi safarinya dan menyimpannya lagi di atas lemari. Dandanan wajar mungkin akan lebih menghilangkan kesan asing bagi cucunya tersayang.
Ia melihat jam. Pukul 05.30. Setelah meneguk segelas air, segera ia sambar kunci corolla dan bergegas keluar. Ia tak ingin terlambat menjemput cucunya di Stasiun Malang pagi ini.
**
Kakek setengah baya yang kini berbicara denganku ternyata adalah adik dari kakekku yang sejak kemarin telah dibicarakan oleh ayah melalui telepon.
Kakek ini begitu semangat menyambutku. Padahal mukanya saja aku tak begitu kenal. Ia bercerita tentang bagaimana dia berinisiatif untuk menjemputku ketika ayah bercerita bahwa aku akan berangkat ke Malang. Aku menyambut ceritanya dengan anggukan, senyuman, dan sesekali ketawa garing.
Dalam sela-sela pembicaraan, handphone Eyang bergetar. Setelah memberi isyarat, dia mengangkat telponnya dan menjauh.
Kulihat Lingga yang sejak tadi tawar-menawar dengan supir angkot menghampiriku.
"Le, saha eta?" sambil mencuri-curi pandang pada Eyang.
"Eta... jelema nu ngaku-ngaku dulur aing," gurauku sambil tersenyum.
"Wahahahaha sarap sia mah!" sambut Lingga sambil menepuk pundakku.
**
Kakek ini begitu semangat menyambutku. Padahal mukanya saja aku tak begitu kenal. Ia bercerita tentang bagaimana dia berinisiatif untuk menjemputku ketika ayah bercerita bahwa aku akan berangkat ke Malang. Aku menyambut ceritanya dengan anggukan, senyuman, dan sesekali ketawa garing.
Dalam sela-sela pembicaraan, handphone Eyang bergetar. Setelah memberi isyarat, dia mengangkat telponnya dan menjauh.
Kulihat Lingga yang sejak tadi tawar-menawar dengan supir angkot menghampiriku.
"Le, saha eta?" sambil mencuri-curi pandang pada Eyang.
"Eta... jelema nu ngaku-ngaku dulur aing," gurauku sambil tersenyum.
"Wahahahaha sarap sia mah!" sambut Lingga sambil menepuk pundakku.
**
Rintihan rel kereta yang tergilas dan keluh suara gerbong yang beradu memenuhi kepalaku sepenuhnya. Masih diselingi barisan pohon jati yang bergerak mundur digantikan pedesaan dan tembok-tembok tua, yang juga masih dalam rangkulan sang surya yang hendak tenggelam.
"Le," Lingga tiba-tiba sudah berada di sampingku. "menta dahareun, Le.."
Buru-buru kualihkan pandangan ke jendela. Jangan sampai dia melihat mataku yang mungkin sudah sembap. Dasar setan cilik. Kenapa juga harus datang di saat begini.
Aku memberi isyarat pada kardus di atas kepalaku. Tak berani bicara. Sesak pasti sudah merubah suaraku saat ini.
Aku memberi isyarat pada kardus di atas kepalaku. Tak berani bicara. Sesak pasti sudah merubah suaraku saat ini.
Lingga mengambil kardus itu. Mengorek isinya.
"Wah loba kieu oleh-olehna, euy. Urang bawa saeutik ka gerbong urang, nyak."
"Hmmhh.." jawabku malas.
Lingga tertawa mendengar persetujuanku. Setelah mengantongi oleh-oleh, ia menepuk-nepuk bahuku sambil beranjak hendak kembali ke gerbong ekonomi. Belum sempat ia melangkah, gerakannya terhenti. Tawa setannya juga terhenti. Kini ia malah duduk di sampingku. Aku mulai merasa gelisah.
"Kalem..," ujar Lingga menyelidik. "Urang ngarasa aya nu aneh, yeuh."
Benar saja. Sepertinya memang kegelisahanku bukan tanpa arti.
Aku berdehem. Memastikan suaraku tidak parau. Mengedip-ngedipkan mata. Menghilangkan jejak air di sana.
Kini aku menahan napas, mengira-ngira apa yang membuat setan cilik ini malah duduk di sebelah.
"Aneh, Le.." sambungnya. "Tumben maneh teu moyokan urang."
Ternyata kegelisahanku tak ada artinya.
"Kalem..," ujar Lingga menyelidik. "Urang ngarasa aya nu aneh, yeuh."
Benar saja. Sepertinya memang kegelisahanku bukan tanpa arti.
Aku berdehem. Memastikan suaraku tidak parau. Mengedip-ngedipkan mata. Menghilangkan jejak air di sana.
Kini aku menahan napas, mengira-ngira apa yang membuat setan cilik ini malah duduk di sebelah.
"Aneh, Le.." sambungnya. "Tumben maneh teu moyokan urang."
Ternyata kegelisahanku tak ada artinya.
Sepuluh menit berlalu tanpa suara. Aku masih memandang jendela. Tapi pikiranku kini tak lagi dipenuhi imaji dari pinus dan jalan-jalan lengang. Pikiranku malah tak karuan karena Lingga masih saja duduk di sebelah.
Setelah memastikan suara dan mata baik-baik saja, akhirnya aku beralih menatap Lingga.
Ternyata sahabatku ini sedang asik memandang sang surya. Saat aku tiba-tiba beralih padanya, ia sama sekali tidak terperanjat. Seperti seorang anak yang bangga ketika tertangkap basah oleh ibunya menyimpan korek di saku celana.
"Kunaon maneh?"
Lingga mengalihkan pandangannya padaku. Ia tersenyum simpul, "Matahari tenggelam hari ini sangat indah, Le. Dia pamit perlahan-lahan. Maneh bisa ngeliat, ga? Dia lagi tersenyum. Mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa esok, saat ia harus kembali menunaikan janjinya yang tak akan diingkari.."
Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya yang dipenuhi ekspresi bak seorang kekasih yang berjanji tidak akan mendua.
Aku sama sekali tak terpukau dengan bahasanya. Hampir tiga tahun kami bersahabat, Lingga memang pantas mendapat predikat pujangga karena imajinasinya yang terlalu liar. Ia selalu bisa menggambarkan sesuatu dalam sudut pandang yang berbeda.
Tapi aku sudah bosan dengan syair-syairnya yang sering diulang-ulang.
Kami tak membahas sang surya itu lebih jauh. Permainan diksi Lingga tadi ternyata menuangkan teh di gelas kosong kami. Akhirnya kami berceloteh lagi tentang segala hal. Dan satu-persatu kekonyolan di Gunung Semeru kemarin kembali terulang.
Dalam tawa, aku menemukan noda keringat di pipi Lingga. Itu pasti keringat karena berlari-lari di stasiun saat membantuku mengurus tiket kereta tadi. Ada kesalahan dalam pencantuman nama di tiket keretaku. Sehingga aku harus mengurusnya dalam waktu setengah jam sebelum waktu keberangkatan tiba.
Kutunjuk noda itu, "Euh, maneh mah cemong teh sok dipiara, da."
Lingga yang merasa diingatkan segera mendekati jendela dan melihat pantulan wajahnya di sana.
"Anjir kucel kieu aiiing..," ucap Lingga sambil menjambak rambutnya yang tumbuh liar tak beraturan.
"Eta pasti keringet pas ngebantu urang ngebenerin tiket tadi, yah?" tanyaku sambil menyerahkan tisu basah padanya.
"Heueuh jigana mah. Sia sih make salah ngaran sagala." canda Lingga sambil menarik dua lembar tisu basah.
Aku hanya tersenyum melihat monyet kecil ini menggerutu.
Lingga menyusut wajahnya dengan tisu basah, sambil menoleh padaku.
"Maneh kudu berterima kasih ka si Eyang, Le."
Seketika imaji itu kembali. Perasaan itu datang lagi.
Pikiranku kembali ke satu jam yang lalu. Saat aku sedang berlari-lari di dalam stasiun. Di pintu masuk bagian dalam, Gala, dan Gangan menungguku mengurus kesalahan tiket ini. Di belakangku, Lingga dan Galang berlari-lari kecil mengikutiku. Lingga bersiaga sekiranya aku butuh pertolongannya. Sedangkan Galang, tiketnya hilang. Sehingga ia harus mencari jalan keluar agar bisa pulang siang ini. Nasib kepulangan kami bergantung pada setengah jam ke depan.
Di depanku, saudara yang baru kutemui dua kali seumur hidup, Eyang, berlari menuntunku dari ruangan ke ruangan. Beliau memiliki kedudukan di Malang. Koneksinya sampai hingga ke kantor-kantor di stasiun ini. Kehadiran Eyang di sampingku membuat proses pembetulan tiket ini terbantu.
Beberapa kali Eyang masuk kantor, menemaniku dan Galang menjelaskan perkara kesalahan ini pada petugas dan para kenalannya. Lingga menunggu kami di luar ruangan. Kuperhatikan beberapa kali ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Kasusku tak begitu rumit. Hanya kesalahan dalam penulisan nama saja. Yang menjadi pe-er justru kasus Galang. Kereta sudah kehabisan tiket. Nasibnya digantung pada keputusan semalam menginap di samping stasiun. Namun Eyang tetap berusaha mencari jalan keluar. Ia menelpon kolega-koleganya. Kulihat peluh di wajahnya semakin banyak.
Kini aku begitu merasa beruntung akan kehadiran Eyang di sini. Padahal sebelumnya, aku mengolok-olok Eyang habis-habisan di depan teman-teman.
Eyang kembali berlari menuju suatu ruangan sambil memberi isyarat kepada kami untuk mengikutinya.
Ia menuju ke ruangan yang di atasnya tertulis 'Kepala Stasiun'. Kami diminta untuk menunggu di luar.
Seorang pria dengan postur tegap menyambut hangat kehadiran Eyang. Namun sekarang bukan saatnya untuk bersulang dan mencicipi sajian makanan. Eyang menjelaskan perkara yang terjadi. Pria itu mendengarkan. Kami tak bisa mendengar perbincangan mereka.
Lima menit kemudian, yang juga ternyata lima menit sebelum kereta berangkat, Eyang keluar dari ruangan sambil membawa surat sakti. Eyang bilang ini akan menjadi tiket pulang Galang. Kami bersorak. Galang mencium tangan Eyang. Kemudian kami melepas rasa lelah sejenak. Aku memandang Eyang yang kelelahan, yang juga menatapku sambil tersenyum.
Eyang memaksa ingin membawakan carrierku sampai ke kereta. Aku tidak punya pilihan. Tanganku memang sudah penuh dengan sekardus oleh-oleh darinya. Akhirnya Eyang memikul carrierku yang bebannya hampir sama dengan berat badan Lingga itu.
Kami sampai di pintu gerbong bisnis. Gala, Lingga, dan Gangan berpisah menuju gerbong ekonomi.
Terisisa aku, Galang, dan Eyang.
Eyang menyerahkan carrierku dari punggungnya. Ia berpesan padaku untuk berhati-hati dan sampaikan salamnya pada keluargaku di Bandung. Kami berpamitan. Aku mencium tangan Eyang. Sesaat aku menangkap bahasa tubuhnya yang ingin mendekapku. Namun kereta mulai bergerak. Aku buru-buru menyandangkan carrier dan pamit padanya sekali lagi. Galang mendahuluiku masuk kereta. Aku mengikutinya.
Kini kami tengah berada di tempat duduk dengan nomor yang tertera di tiket.
Aku dan Galang bergantian menyimpan carrier di rak atas kepala.
"Alhamdulillaaaah, akhirna diuk ogeee..." ucap Galang sambil menjatuhkan diri ke kursi.
Aku duduk di sampingnya. Kereta masih bergerak pelan sekali.
"Lang, keluarin minum," ucapku sambil mengibas-ngibas kerah baju. "Haus, yeuh."
Galang yang duduk di samping jendela setuju. Kemudian dia menunduk, menjangkau kantong keresek di bawah kursinya yang berisi minuman dan cemilan. Dan dihadapanku, dibalik jendela, sepasang mata tertuju padaku. Tatapan itu menggambarkan betapa ia menunggu sejak tadi, dan berharap tatapannya mendapat balasan. Sambil berlari-lari kecil mengikuti laju kereta, ia menatapku lekat.
Merasa tatapannya kini telah berlabuh, ia kemudian tersenyum. Melambaikan tangannya sekali lagi sambil terus berlari-lari kecil. Dadaku mendadak sesak melihat peristiwa itu.
Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak pertemuanku dengannya, aku membalas senyum itu dengan tulus. Ingin aku mendekapnya saat itu juga. Aku lambaikan tanganku sekuat tenaga. Berharap dia tau, bahwa aku membalas tatapannya. Aku membalas senyumnya. Dan aku membalas lambaian tangannya.
Melihatku melambaikan tangan, ia terlihat girang dan terus berlari. Hingga akhirnya ia berhenti karena alasnya untuk berpijak sudah habis. Namun matanya masih tetap lekat padaku. Ia terus tersenyum dan melambai. Hingga pepohonan menggantikan tatapan itu. Meninggalkan aku yang termangu sendiri. Dibayangi kebingungan Galang yang sejak tadi tak diberi kesempatan untuk duduk tegap lagi.
Mata itu. Senyum itu. Tangan itu.
Terlambat aku tersadar betapa tulusnya dia.
**
"Maneh kudu berterima kasih ka si Eyang, Le."
Aku tersenyum padanya. Pujanggaku yang pandai menebak apa yang ada di kepalaku.
Akhirnya aku bercerita tentang peristiwa dengan Eyang di penghujung pertemuanku tadi. Lingga mendengarkan tanpa berkomentar. Setelah aku menutup ceritaku, dia tetap diam.
Aku tahu dia sedang mencoba menarik satu pelajaran dari cerita ini.
Dan dia tahu aku sedang menunggunya berbicara.
Hingga akhirnya, "Le, urang pengen nanya sama maneh."
Ternyata kali ini sebuah pertanyaan.
Tanpa menunggu aku menjawab, dia melanjutkan, "Menurut maneh di dunia ini, jarak apa yang paling jauh?"
Aku bingung dengan pertanyaannya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan cerita panjang lebarku.
Jarak yang paling jauh? "Jarak dari Ranu Pane ke Mahameru," jawabku.
"Hahahaha bisaaa.., tapi salah." Jawab Lingga santai.
"Naon atuh?"
Sejenak Lingga membetulkan posisi duduknya. Memasang tampang Chairil Anwar. Dan perlahan-lahan berkata, "Jarak yang paling jauh di dunia ini adalah jarak antara kita, dan orang yang kita sayangi, tapi dia tidak menghiraukan kita."
Matahari pun terbenam.
Setelah memastikan suara dan mata baik-baik saja, akhirnya aku beralih menatap Lingga.
Ternyata sahabatku ini sedang asik memandang sang surya. Saat aku tiba-tiba beralih padanya, ia sama sekali tidak terperanjat. Seperti seorang anak yang bangga ketika tertangkap basah oleh ibunya menyimpan korek di saku celana.
"Kunaon maneh?"
Lingga mengalihkan pandangannya padaku. Ia tersenyum simpul, "Matahari tenggelam hari ini sangat indah, Le. Dia pamit perlahan-lahan. Maneh bisa ngeliat, ga? Dia lagi tersenyum. Mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa esok, saat ia harus kembali menunaikan janjinya yang tak akan diingkari.."
Aku mengalihkan pandangan dari wajahnya yang dipenuhi ekspresi bak seorang kekasih yang berjanji tidak akan mendua.
Aku sama sekali tak terpukau dengan bahasanya. Hampir tiga tahun kami bersahabat, Lingga memang pantas mendapat predikat pujangga karena imajinasinya yang terlalu liar. Ia selalu bisa menggambarkan sesuatu dalam sudut pandang yang berbeda.
Tapi aku sudah bosan dengan syair-syairnya yang sering diulang-ulang.
Kami tak membahas sang surya itu lebih jauh. Permainan diksi Lingga tadi ternyata menuangkan teh di gelas kosong kami. Akhirnya kami berceloteh lagi tentang segala hal. Dan satu-persatu kekonyolan di Gunung Semeru kemarin kembali terulang.
Dalam tawa, aku menemukan noda keringat di pipi Lingga. Itu pasti keringat karena berlari-lari di stasiun saat membantuku mengurus tiket kereta tadi. Ada kesalahan dalam pencantuman nama di tiket keretaku. Sehingga aku harus mengurusnya dalam waktu setengah jam sebelum waktu keberangkatan tiba.
Kutunjuk noda itu, "Euh, maneh mah cemong teh sok dipiara, da."
Lingga yang merasa diingatkan segera mendekati jendela dan melihat pantulan wajahnya di sana.
"Anjir kucel kieu aiiing..," ucap Lingga sambil menjambak rambutnya yang tumbuh liar tak beraturan.
"Eta pasti keringet pas ngebantu urang ngebenerin tiket tadi, yah?" tanyaku sambil menyerahkan tisu basah padanya.
"Heueuh jigana mah. Sia sih make salah ngaran sagala." canda Lingga sambil menarik dua lembar tisu basah.
Aku hanya tersenyum melihat monyet kecil ini menggerutu.
Lingga menyusut wajahnya dengan tisu basah, sambil menoleh padaku.
"Maneh kudu berterima kasih ka si Eyang, Le."
Seketika imaji itu kembali. Perasaan itu datang lagi.
Pikiranku kembali ke satu jam yang lalu. Saat aku sedang berlari-lari di dalam stasiun. Di pintu masuk bagian dalam, Gala, dan Gangan menungguku mengurus kesalahan tiket ini. Di belakangku, Lingga dan Galang berlari-lari kecil mengikutiku. Lingga bersiaga sekiranya aku butuh pertolongannya. Sedangkan Galang, tiketnya hilang. Sehingga ia harus mencari jalan keluar agar bisa pulang siang ini. Nasib kepulangan kami bergantung pada setengah jam ke depan.
Di depanku, saudara yang baru kutemui dua kali seumur hidup, Eyang, berlari menuntunku dari ruangan ke ruangan. Beliau memiliki kedudukan di Malang. Koneksinya sampai hingga ke kantor-kantor di stasiun ini. Kehadiran Eyang di sampingku membuat proses pembetulan tiket ini terbantu.
Beberapa kali Eyang masuk kantor, menemaniku dan Galang menjelaskan perkara kesalahan ini pada petugas dan para kenalannya. Lingga menunggu kami di luar ruangan. Kuperhatikan beberapa kali ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya.
Kasusku tak begitu rumit. Hanya kesalahan dalam penulisan nama saja. Yang menjadi pe-er justru kasus Galang. Kereta sudah kehabisan tiket. Nasibnya digantung pada keputusan semalam menginap di samping stasiun. Namun Eyang tetap berusaha mencari jalan keluar. Ia menelpon kolega-koleganya. Kulihat peluh di wajahnya semakin banyak.
Kini aku begitu merasa beruntung akan kehadiran Eyang di sini. Padahal sebelumnya, aku mengolok-olok Eyang habis-habisan di depan teman-teman.
Eyang kembali berlari menuju suatu ruangan sambil memberi isyarat kepada kami untuk mengikutinya.
Ia menuju ke ruangan yang di atasnya tertulis 'Kepala Stasiun'. Kami diminta untuk menunggu di luar.
Seorang pria dengan postur tegap menyambut hangat kehadiran Eyang. Namun sekarang bukan saatnya untuk bersulang dan mencicipi sajian makanan. Eyang menjelaskan perkara yang terjadi. Pria itu mendengarkan. Kami tak bisa mendengar perbincangan mereka.
Lima menit kemudian, yang juga ternyata lima menit sebelum kereta berangkat, Eyang keluar dari ruangan sambil membawa surat sakti. Eyang bilang ini akan menjadi tiket pulang Galang. Kami bersorak. Galang mencium tangan Eyang. Kemudian kami melepas rasa lelah sejenak. Aku memandang Eyang yang kelelahan, yang juga menatapku sambil tersenyum.
Eyang memaksa ingin membawakan carrierku sampai ke kereta. Aku tidak punya pilihan. Tanganku memang sudah penuh dengan sekardus oleh-oleh darinya. Akhirnya Eyang memikul carrierku yang bebannya hampir sama dengan berat badan Lingga itu.
Kami sampai di pintu gerbong bisnis. Gala, Lingga, dan Gangan berpisah menuju gerbong ekonomi.
Terisisa aku, Galang, dan Eyang.
Eyang menyerahkan carrierku dari punggungnya. Ia berpesan padaku untuk berhati-hati dan sampaikan salamnya pada keluargaku di Bandung. Kami berpamitan. Aku mencium tangan Eyang. Sesaat aku menangkap bahasa tubuhnya yang ingin mendekapku. Namun kereta mulai bergerak. Aku buru-buru menyandangkan carrier dan pamit padanya sekali lagi. Galang mendahuluiku masuk kereta. Aku mengikutinya.
Kini kami tengah berada di tempat duduk dengan nomor yang tertera di tiket.
Aku dan Galang bergantian menyimpan carrier di rak atas kepala.
"Alhamdulillaaaah, akhirna diuk ogeee..." ucap Galang sambil menjatuhkan diri ke kursi.
Aku duduk di sampingnya. Kereta masih bergerak pelan sekali.
"Lang, keluarin minum," ucapku sambil mengibas-ngibas kerah baju. "Haus, yeuh."
Galang yang duduk di samping jendela setuju. Kemudian dia menunduk, menjangkau kantong keresek di bawah kursinya yang berisi minuman dan cemilan. Dan dihadapanku, dibalik jendela, sepasang mata tertuju padaku. Tatapan itu menggambarkan betapa ia menunggu sejak tadi, dan berharap tatapannya mendapat balasan. Sambil berlari-lari kecil mengikuti laju kereta, ia menatapku lekat.
Merasa tatapannya kini telah berlabuh, ia kemudian tersenyum. Melambaikan tangannya sekali lagi sambil terus berlari-lari kecil. Dadaku mendadak sesak melihat peristiwa itu.
Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak pertemuanku dengannya, aku membalas senyum itu dengan tulus. Ingin aku mendekapnya saat itu juga. Aku lambaikan tanganku sekuat tenaga. Berharap dia tau, bahwa aku membalas tatapannya. Aku membalas senyumnya. Dan aku membalas lambaian tangannya.
Melihatku melambaikan tangan, ia terlihat girang dan terus berlari. Hingga akhirnya ia berhenti karena alasnya untuk berpijak sudah habis. Namun matanya masih tetap lekat padaku. Ia terus tersenyum dan melambai. Hingga pepohonan menggantikan tatapan itu. Meninggalkan aku yang termangu sendiri. Dibayangi kebingungan Galang yang sejak tadi tak diberi kesempatan untuk duduk tegap lagi.
Mata itu. Senyum itu. Tangan itu.
Terlambat aku tersadar betapa tulusnya dia.
**
"Maneh kudu berterima kasih ka si Eyang, Le."
Aku tersenyum padanya. Pujanggaku yang pandai menebak apa yang ada di kepalaku.
Akhirnya aku bercerita tentang peristiwa dengan Eyang di penghujung pertemuanku tadi. Lingga mendengarkan tanpa berkomentar. Setelah aku menutup ceritaku, dia tetap diam.
Aku tahu dia sedang mencoba menarik satu pelajaran dari cerita ini.
Dan dia tahu aku sedang menunggunya berbicara.
Hingga akhirnya, "Le, urang pengen nanya sama maneh."
Ternyata kali ini sebuah pertanyaan.
Tanpa menunggu aku menjawab, dia melanjutkan, "Menurut maneh di dunia ini, jarak apa yang paling jauh?"
Aku bingung dengan pertanyaannya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan cerita panjang lebarku.
Jarak yang paling jauh? "Jarak dari Ranu Pane ke Mahameru," jawabku.
"Hahahaha bisaaa.., tapi salah." Jawab Lingga santai.
"Naon atuh?"
Sejenak Lingga membetulkan posisi duduknya. Memasang tampang Chairil Anwar. Dan perlahan-lahan berkata, "Jarak yang paling jauh di dunia ini adalah jarak antara kita, dan orang yang kita sayangi, tapi dia tidak menghiraukan kita."
Matahari pun terbenam.
Untuk sahabatku,
yang sedang menimba ilmu di luar Jawa.
No comments:
Post a Comment