Thursday, 3 September 2015

Malam Ini Tidak Indah

Malam ini tidak indah. Purnama baru saja selesai berjaga; Maudy sedang tak suka bercanda; dan kuliah tak ada mata.

Oh, iya. Tahun ini aku kuliah --akhirnya. Mengambil studi sastra. Dibanding menimbang diriku untuk masa depan, aku memilih untuk mengejar kebahagiaan. Katanya, mahasiswa sastra ujung-ujungnya jadi pegawai bank. Katanya, mahasiswa sastra hidupnya acak-acakan. Itu kan katanya. Aku lebih percaya apa kataku dari pada katanya.

Salah satu narasumber di ospek itu bilang, "Anak kedokteran bisa jadi dokter. Anak hukum bisa jadi hakim. Anak teknik bisa jadi insinyur. Anak sastra? Bisa jadi apa saja."

Kembali ke malam yang sedang tidak indah.
Karena malam yang tidak indah ini, aku berusaha mengisi waktu dengan membaca tulisan-tulisanku di Du Vrangr Gata. Blog ini menginjak tahun ke-5. Aku melihat perkembangan dalam tulisan-tulisanku. Aku melihat pola: bagaimana caraku menulis saat sedang berusaha gaul; caraku menulis saat sedang berusaha lucu; caraku menulis saat sedang ingin dapat perhatian; caraku menulis saat sedang kasmaran; hingga bagaimana aku saat sedang putus asa. Dan dari semua pola itu aku melihat lagi sebuah pola yang yang merunut garis besar di atas semuanya: aku menulis saat sedang ingin menulis.

Du Vrangr Gata, jalan tanpa arah, yang kuharapkan menjadi jalan dengan rangkaian kata dan kisah dalam setiap pijakannya, dapat benar-benar membawaku kembali atau sekedar bernostalgi dengan diriku di tahun-tahun lalu.

Tema yang paling sering kubahas: cinta.
Nying, klasik.
Indak apo-apo.

Menulislah, kawan.
Jangan cuma membaca dan merasa terinspirasi. Kalian juga harus menulis dan merasa menginspirasi. Aku percaya bahwa tulisan itu menjadi cerminan atas diri kita saat ini. Dengan menulis, bukan hanya ceritamu yang disuguhkan, tapi lebih dalam dari itu, kau menyuguhkan 'dirimu'.

Manusia ditakdirkan untuk selalu tumbuh dan berkembang. Pola pikir, imajinasi, kemampuan, dan segala macam lainnya. Maka fasilitasi perubahan itu. Maka hargai perubahan itu. Sebaik-baiknya pengetahuan adalah pengetahuan atas diri sendiri, bukan?

Dalam satu tulisanku, aku membahas tentang rindu. "Rindu itu mengalir, dengan anak sungai yang melekat di setiap rasa yang kau bagi. Waktu mereka bukan sekedar tuk hidup, tetapi menghidupi." -Imaji, 2013

Diriku yang dulu bilang begitu. Diriku yang sekarang? Sebagian setuju.
Sebagian lagi?

Aku sekarang belajar satu bahwa rindu, tak ayalnya membuat kita tak tentu. Apalagi bila rindu itu tak punya tempat untuk berlabuh. Apalagi, bila rindu itu tak bisa berhenti berpacu. Apalagi, bila rindu itu melintas satu arah.
Apalagi, bila rindu itu padamu.

Selamat malam.
Tidur nanti jangan mimpi, malam ini kurang indah.

2 comments: