Sore ini akhirnya ia bisa sendirian saja, setelah berhari-hari urusan tak berhenti bertamu. Ia berjalan ke bagian belakang bus, mencari sepasang kursi yang kosong. Bukan ingin sendiri, ia hanya sedang tak ingin berdialog dengan orang lain. Ia ingin berdialog dengan dirinya sendiri.
Lelaki itu sampai di deretan kursi kedua dari belakang. Kemudian duduk dan menghadap ke jendela. Jendela itu berlapis air hujan yang mengalir dan seolah tak berhenti jatuh. Membuat pemandangan di baliknya mengabur. Jendela dan air hujan itu menjadi filter bagi mata siapa pun di dalam bus saat itu.
Bus belum berjalan. Lelaki itu melihat pemandangan di balik jendela.
Seorang bapak setengah baya berlari kecil menenteng dagangannnya ke sebuah kios di pinggir jalan sambil tertawa. Mungkin ia tertawa karena hujan sedang mengajaknya bercanda. Di kios itu sudah duduk seorang ibu membawa sekantong besar belanjaan yang menyapa kedatangan si bapak dengan senyum sekilas. Kemudian kembali memandang bosan ujung atap yang membuat air hujan jatuh teratur, seperti ada yang menuangkannya dari poci. Mungkin ia bosan karena hujan telah membuatnya menunggu.
"Kau sudah melihat bulan?"
"Sudah."
Percakapan dengannya tiba-tiba muncul. Salah satu percakapan telepon yang dapat ia ingat tanpa perlu berusaha. Percakapan yang biasa datang, saat rindu menyapa. Percakapan itu membawanya pada sebuah jendela yang lain. Jendela rumahnya. Saat itu bukan sore dan hujan yang menghadapinya, melainkan malam dan purnama.
"Kau menghubungiku hanya untuk menanyakan itu?"
"Ya."
Dalam percakapan itu, si lelaki mencoba untuk tetap tenang. Padahal hatinya menggebu-gebu menahan rindu. Sulit sekali mereka bertemu atau sekedar berbincang melalui telepon genggam seperti sekarang. Bilamana mungkin, ia ingin mengabadikan setiap detik dalam percakapan mereka dan memajangnya di satu sudut kamarnya.
Lelaki itu tak pernah bertanya apakah rindunya berbalas atau tidak. Karena ia tahu bahwa pertanyaan semacam itu dapat membuat keduanya terluka. Ia hanya bisa yakin, bahwa wanita itu tahu betul bagaimana ia merindukannya. Dan ia juga yakin, bahwa wanita itu bahagia karenanya. Mereka telah sampai di satu titik di mana mereka sudah teramat dekat, tapi tak bisa saling berpegang erat.
Lelaki itu mengingat-ingat, pertemuan terakhir dengan wanita itu adalah ketika musim hujan belum tiba. Ketika jarak belum lama memisahkan mereka. Lelaki itu mengajaknya ke sebuah kedai kecil di sebuah komplek perumahan. Itu salah satu kedai favoritnya. Kedainya sederhana, hanya menyediakan makanan dan minuman sederhana dengan harga yang cukup pula bagi orang-orang sederhana. Di akhir pertemuan singkat itu, mereka berjanji akan bertemu lagi nanti, bila hujan tiba. Mereka sama-sama suka hujan. Namun nampaknya hujan yang mereka maksud bukan hujan hari ini.
Bus masih belum berjalan. Hujan semakin deras. Meski hanya sebentar, lelaki itu menikmati masa-masa ini. Memandangi hujan di dalam bus tanpa rasa buru-buru, tanpa ada yang menunggu, dan tanpa tau kemana akan menuju. Seperti hubungannya dengan wanita itu.
Tak ada yang perlu diburu.
Tak ada yang dapat ditunggu.
Dan tak ada yang mesti dituju.
"Sepenting itukah?", tanya wanita itu.
"Ya, jangan sampai kau melewatkan bulan."
"Memangnya kenapa?"
Selayaknya hujan lelaki itu mengagumi bulan.
Dan selayaknya bulan ia mengagumi wanita itu.
"Agar..."
"Agar apa?"
"Agar kau tahu, kau punya saingan."
Bus berjalan perlahan.
***
Bandung, 16.50
Untuk kita
Untuk kita
yang menunggu hujan
Suka banget iniii, semoga terus menuliss!
ReplyDelete